Mencari Makna Ditengah Pelayanan

1 September 2021 by tidak ada komentar Diterbitkan di artikel

Belum lagi sampai di rumah pada tengah malam, Abdul Aziz yang masih melaju dengan motornya di jalan harus kembali mendapat penugasan ke luar kota pada pukul 4 pagi. Tanpa sempat beristirahat, Staf Pelayanan Pemakaman Al-Azhar Memorial Garden yang berusia 29 tahun itu langsung memenuhi panggilan tugas mendampingi keluarga yang tengah berduka cita.  Sesampai di rumah duka, Abdul Aziz langsung menjalankan tugasnya mendampingi keluarga yang berduka dan membantu keperluan administrasi pemakaman, hingga mengantarkan jenazah ke liang lahat di Al-Azhar Memorial Garden. Sepanjang pendampingan, Abdul Aziz berkoordinasi dengan Unit Pelayanan Jenazah, menangani hingga tuntas keperluan yang dibutuhkan untuk pemakaman serta kebutuhan untuk memenuhi prosedur pemakaman, seperti pemulasaran jenazah dan prosesi pemakaman.              “Ketika ada kedukaan, biasanya keluarga dalam kondisi sangat berduka, bahkan ada yang panik, jadi tugas saya disana mendampingi mereka mempersiapkan berkas-berkas,” cerita Abdul Aziz, pria jebolan Universitas Islam Negeri Jakarta Jurusan Syariah dan Hukum Islam ini. “Saya juga menjembatani antara keluarga dan Ambulans (Unit Pelayanan Jenazah)”,lanjutnya menjelaskan tugas sebagai Staf Pelayanan Al-Azhar Memorial Garden.

Ketika prosesi pemakaman berlangsung, Abdul Aziz bertindak sebagai pemandu prosesi. Ditengah terik matahari dan guyuran hujan, tak jarang ia harus berhadapan dengan keluarga yang berada dalam kondisi terguncang karena kehilangan orang terkasih, sehingga terkadang terjadi kesalahpahaman.  Meski demikian, ia tetap menampung apapun keluhan keluarga yang ditinggalkan untuk kemudian dijadikan masukan agar pelayanan menjadi lebih baik dikemudian hari. “Pihak keluarga terkadang ada yang merasa tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan dari pelayanan kita,” kata Abdul Aziz sulung dari tiga bersaudara. “Saya tampung semua keluhan mereka, meski saya tidak dalam posisi menjawab, namun saya berjanji akan meneruskan kepada yang memiliki kapasitas menjawabnya”.

Dibesarkan dalam lingkungan Islami, Aziz, demikian ia biasa disapa, menghabiskan masa pendidikan tak jauh dari dunia Keislaman, mulai dari Madrasah Ibtidaiah kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah, hingga pendidikan di pesantren. Meski minatnya mendalami tafsir, syariah dalam hokum Islam serta fiqih yang membawanya menuntut ilmu di Jurusan Syariah dan Hukum Islam, Aziz sempat bekerja didunia jurnalistik sebagai reporter disejumlah media online. Pekerjaan ini sempat tidak mendapat restu orangtua yang menginginkan Aziz mengamalkan ilmu agama yang  ia dapatkan dibangku kuliah. ”Kalau saya pulang ke rumah orang tua suka cemberut,” kenang Aziz menggambarkan  keberatan orangtuanya akan profesi lamanya “Mungkin ya, mereka bilang, punya anak disekolahin di sekolah agamis kok kerjanya begitu (menjadi reporter) ”. Lama kelamaan sikap orangtuanya ini mendorong Aziz untuk mengajar mengaji dan ekstrakurikuler ilmu agama di sekolah menengah, hingga akhirnya bergabung dengan Al-Azhar Memorial Garden, dimana ia dapat mengamalkan keilmuannya dibidang Syariah dan Hukum Islam. “Iya, disini apa yang saya dapatkan

dikuliah dulu terpakai” lanjutnya lagi.

Kisah Aziz mencari pekerjaan yang sesuai keilmuannya,sempat dipenuhi cerita penuh hikmah.  Ia sempat tertipu . “Saya sempat kena tipu oleh seseorang yang mengaku penyalur tenaga kerja,” kisah pria asli Betawi ini.”Setelah berkomunikasi dengan oknum itu,ternyata dia mempermainkan saya,yang saya rasa dahsyat lah menipunya. Karena dalam waktu tidak sampai sehari, orang itu berhasil menipu saya.” Akibat penipuan tadi, Aziz kehilangan uang jutaan rupiah.

tertipu, ia mendapat panggilan dari Al-Azhar Memorial Garden untuk bergabung menjadi Staf Pelayanan. “Belum ada sebulan saya bekerja, saya mendapatkan upah yang nilainya sama dengan uang saya yang hilang akibat kena tipu tadi,” cerita Aziz yang kembali berpikir mendalam akan hikmah kejadian yang dialaminya. “Sampai segitunya Tuhan membuat cerita  untuk hamba-hambaNya”

Mencari hikmah atas setiap kejadian ditengah perjalanan hidup, senantiasa menjadi perenungan bagi Aziz. “ Saya masih mencari apa yang Tuhan hadapkan kepada saya saat ini, dari sebelumnya saya menjadi reporter,hingga bekerja di Al-Azhar Memorial Garden,” kata Aziz berusaha menerjemahkan hikmah yang ia dapatkan selama bekerja dalam pelayanan. “Saya merasa semakin didekatkan dengan kematian. Artinya ketika kita sudah mulai didekatkan dengan hal-hal kayak gitu (kematian), tetapi kelakuan masih kayak gitu (perilaku tidak baik) ya gimana. Masa kita mau tetap seperti itu (perilaku tidak baik), kita mau uangnya (upah)  saja diambil, tetapi ngomongnya saja (yang) Allahu Akbar  tapi jadi ya paradoks (berlawanan), jadi kontradiksi kan (dengan perilaku tidak baik) ”

Lebih jauh Aziz memandang melalui pekerjaan sekarang, Tuhan sudah menghadapkannya pada pelajaran besar. “Tuhan sudah membenturkan kita dengan, itu lho lihat (kematian) didepan mata,” lanjut Aziz yang merasa pekerjaannya merupakan tolak ukur sensitifitas dalam memandang kematian. ”Sejauhmana hati kita melihat orang meninggal dunia. Ketika hati kita tergerak, bisa dikatakan, ada iman (dihati). Tetapi kalau mau dalam lagi, bergeraklah sejauh apa (yang bisa kita lakukan untuk berbuat baik).Tapi kalau kita menyaksikan orang yang meninggal hati kita biasa-biasa saja, itu (berarti) ada masalah (dalam hati kita) “. Getaran dalam hati ketika menyaksikan kematian bagi Aziz bisa menjadi ukuran untuk senantiasa mawas diri “Ketika melihat yang seperti itu (kematian) hati kita nggak merasa apa-apa, kita (mestinya) bertanya,kenapa melihat hal seperti itu hati kita tidak merasa apa-apa.”

Keseimbangan antara tugas dan fardhu kifayah dijalankan Aziz sebagai bentuk tanggung jawab akan kewajiban yang diserahkan kepadanya “Saya melihatnya balance. Satu sisi saya punya kewajiban terhadap kantor. Di lain sisi agama juga memandangnya sebagai fardhu kifayah, kewajiban bersama yang bisa digugurkan apabila ada orang lain sudah melakukannya.”kata Aziz yang sehari-hari mengendarai motor dalam menjalankan tugasnya menghampiri keluarga yang berduka.

Seperti halnya Abdul Aziz, pelayanan kami kepada Anda merupakan sebuah amanah yang harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara moril maupun  syariat , agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa merasa tenang melepas orang terkasih dalam naungan akidah hingga hari akhir.(MD)

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda * wajib diisi
*

Artikel Terkait