Seperti Apa Hukum Tahlilan Orang Meninggal Menurut Islam

12 November 2021 by tidak ada komentar Diterbitkan di artikel

hukum tahlilan orang meninggal menurut islam

Di Indonesia, kita sering menjumpai orang-orang menggelar satu tradisi atau bentuk acara ketika ada orang yang meninggal dunia. Nama dari tradisi ini adalah tahlilan. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca serangkaian ayat Al-Qur’an dan kalimat thayyibah (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir). Namun, seperti apakah hukum tahlilan orang meninggal menurut Islam? Mari kita sama-sama mempelajari hal ini untuk menambah ilmu dan pemahaman. Perhatikan berbagai macam informasi penting di bawah ini.

Hukum Tahlilan Orang Meninggal Menurut Islam

Orang-orang biasanya melaksanakan tahlilan pada hari-hari tertentu, seperti tujuh hari berturut-turut dari kematian seseorang, hari ke-40, atau ke-100. Hidangan biasanya juga akan disantap setelah kegiatan ini berlangsung. Seperti apakah pendapat para ulama terhadap kegiatan ini?

1. Hukum Menghadiahkan Bacaan Al-Quran dan Kalimat Thayyibah

Terjadi perbedaan pendapat tentang hukum menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan kalimat thayyibah ini. Pertama, ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i, dan ulama mazhab Hanbali menegaskan, menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an serta kalimat thayyibah kepada orang yang sudah meninggal hukumnya boleh, dan pahalanya sampai kepada sang orang tersebut. Syekh Az-Zaila’i dari mazhab Hanafi menyebutkan:

أَنَّ الْإِنْسَانَ لَهُ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ، عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، صَلَاةً كَانَ أَوْ صَوْمًا أَوْ حَجًّا أَوْ صَدَقَةً أَوْ قِرَاءَةَ قُرْآنٍ أَوْ الْأَذْكَارَ إلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبِرِّ، وَيَصِلُ ذَلِكَ إلَى الْمَيِّتِ وَيَنْفَعُهُ

“Bahwa seseorang diperbolehkan menjadikan pahala amalnya untuk orang lain, menurut pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah, baik berupa shalat, puasa, haji, sedekah, bacaan Qur’an, zikir, atau sebagainya, berupa semua jenis amal baik. Pahala itu sampai kepada orang yang sudah meninggal dan bermanfaat baginya.” (Lihat: Usman bin Ali Az-Zaila’i, Tabyinul Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq, juz 5, h. 131).

Sedangkan, Syekh Ad-Dasuqi dari mazhab Maliki menyebutkan:

وَإِنْ قَرَأَ الرَّجُلُ، وَأَهْدَى ثَوَابَ قِرَاءَتِهِ لِلْمَيِّتِ، جَازَ ذَلِكَ، وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ أَجْرُهُ

Jika seseorang membaca Al-Qur’an, dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada orang yang sudah meninggal, maka hal itu diperbolehkan, dan pahala bacaannya sampai kepada orang yang sudah meninggal.” (Lihat: Muhammad bin Ahmad bin Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir, juz 4, h. 173).

Namun sebagian lagi menyatakan bahwa pahala ini tidak akan bisa sampai kepada orang yang meninggal. Syekh Ad-Dasuqi dari mazhab Maliki menulis:

قَالَ فِي التَّوْضِيحِ فِي بَابِ الْحَجِّ: الْمَذْهَبُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ لِلْمَيِّتِ حَكَاهُ الْقَرَافِيُّ فِي قَوَاعِدِهِ وَالشَّيْخُ ابْنُ أَبِي جَمْرَةَ

“Penulis kitab At-Taudhih berkata dalam kitab At-Taudhih, bab Haji: Pendapat yang diikuti dalam mazhab Maliki adalah bahwa pahala bacaan tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal. Pendapat ini diceritakan oleh Syekh Qarafi dalam kitab Qawaidnya, dan Syekh Ibnu Abi Jamrah.” (Lihat: Muhammad bin Ahmad bin Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir, juz 4, h. 173).

2. Hukum Bersedekah Untuk Orang yang Sudah Meninggal

Para ulama sepakat bahwa bersedekah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya boleh. Riwayat Aisyah radhiyallahu anha juga mendukung hal ini:

أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا، وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ. أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا. قَالَ نَعَمْ

Seseorang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: “Hai Rasulullah. Sesungguhnya ibuku meninggal dalam keadaan tiba-tiba, dan belum berwasiat. Saya rasa seandainya sebelum meninggal dia sempat berbicara, dia akan bersedekah. Apakah dia mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya?” Rasul bersabda: “Ya.”

Berdasarkan informasi di atas, kegiatan tahlilan ini bukanlah sesuatu yang salah. Namun, masih ada perbedaan pendapat dari berbagai ulama, sehingga masih sulit mengatakan dengan jelas apakah kegiatan ini benar atau salah. Namun tentu saja ini adalah hal yang baik untuk dilakukan. Bila Anda membutuhkan taman pemakaman sesuai dengan syariat Islam, maka Taman Pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden bisa menjadi pilihan Anda. Kunjungi website kami sekarang juga.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda * wajib diisi
*

Artikel Terkait