Yang Harus Dilakukan Saat Seseorang dalam Keadaan Sakaratul Maut

7 February 2017 by no comments Posted in artikel

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sakaratul maut didefinisikan sebagai keadaan saat-saat menjelang kematian.

Islam sebagai agama yang lengkap ajarannya, memberikan kita beberapa tuntunan yang harus dilakukan saat kita menemani orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.

Apa saja tuntunan Islam tersebut?

Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden telah menyusun pembahasannya.

Namun, sebelum membahas hal tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu seperti apa gambaran sakaratul maut menurut Islam.

Gambaran Sakaratul Maut Menurut Islam

dahsyatnya gambaran sakaratul maut menurut Islam
Source: wikimedia.org

Islam memberikan gambaran kepada kita bahwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan. Gambaran ini bisa kita peroleh dari ungkapan Fathimah radhiyâllahu ‘anhâ saat menemani ayahnya menjelang wafat.

Dari Anas radhiyallâhu anhu, ia bercerita:

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: ‘Alangkah berat penderitaanmu wahai ayahku.’ Beliau lalu menjawab, ‘Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.” (HR al-Bukhari)

Gambaran serupa bisa kita lihat dari ungkapan ‘Aisyah radhiyâllahu ‘anhâ:

“Aku tidak iri kepada siapa pun atas kemudahan kematiannya, sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah.” (HR al-Tirmidzi)

Fakta bahwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan bahkan pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam lewat sabdanya:

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR al-Tirmidzi)

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR al-Bukhari)

Yang Harus Dilakukan Saat Menemani Orang yang Menghadapi Sakaratul Maut

yang harus dilakukan saat menemani orang yang mengalami sakaratul maut
Source: pixabay.com

Orang yang mengalami sakaratul maut berarti ia sedang mengalami peristiwa yang dahsyat. Dan Islam memberikan kepada kita beberapa tuntunan yang harus kita lakukan saat menemani orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

1. Men-talqîn (menuntun) dengan bacaan Lâ ilâha illallâh.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله

“Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan Lâ ilâha illallâh.” (HR Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya Lâ ilâha illallâh, dia akan masuk surga. (HR al-Bukhari)

Apabila berbicara dengan ucapan yang lain setelah ditalqin, maka diulangi kembali, supaya akhir dari ucapannya di dunia kalimat tauhid.

2. Berdoa untuknya dan tidak berkata kecuali yang baik.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمْ الْمَرِيضَ أَوْ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Apabila kalian mendatangi orang sakit atau orang mati, maka janganlah berkata kecuali yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” (HR Muslim)

Penutup

Demikian yang harus kita lakukan saat menemani orang yang mengalami sakaratul maut menurut Islam. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Tata Cara Shalat Ghaib Sesuai Sunnah

6 February 2017 by no comments Posted in artikel

Shalat ghaib adalah salah satu shalat yang dikenal di dalam ajaran Islam.

Sebagaimana shalat pada umumnya, maka shalat ghaib memiliki ketentuan-ketentuan yang hendaknya diketahui oleh setiap muslim-muslimah.

Apa saja ketentuan-ketentuan yang perlu diketahui tersebut? Berikut pembahasannya.

Pengertian Shalat Ghaib

Shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan ketika jenazah tidak berada di tempat atau ia berada di tempat lain. Demikian pengertian singkat shalat ghaib.

Setelah membahas pengertian shalat ghaib, mari kita membahas tata cara shalat ghaib. Namun, sebelum itu, alangkah baiknya terlebih dahulu kita membahas hukum shalat ghaib menurut Islam.

Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama. Ada ulama yang tidak membolehkan, ada pula ulama yang membolehkan dengan syarat. Berikut penjelasannya.

Dalil Shalat Ghaib

Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pemimpin Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Al-Quran di hadapan beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyaknya para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.

Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib di Madinah. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

“Bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali.” (HR al-Bukhari)

Ulama yang tidak Membolehkan

Di antara ulama yang tidak membolehkan ialah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Alasannya, shalat ghaib yang dilakukan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk An-Najasyi adalah khusus untuk An-Najasyi saja, tidak berlaku umum bagi yang lainnya.

Dalam kata lain, shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafaz dalam riwayat lain hadis ini, “Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, tidak ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa nabi melakukan shalat ghaib kepada selain An-Najasyi. Hal tersebut menunjukkan bahwa shalat ghaib yang dilakukan nabi untuk An-Najasyi merupakan amalan yang dikhususkan untuk nabi saja.

Ulama yang Membolehkan

Di antara ulama yang membolehkan ialah Imam Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu al-Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd. Beliau berpendapat, boleh melakukan shalat ghaib, dengan syarat orang tersebut meninggal di suatu tempat dan belum dishalatkan jenazah untuknya. Kalau jenazah tersebut sudah dishalati, maka tidak perlu dilakukan shalat ghaib lagi, karena kewajiban shalat ghaib telah gugur dengan shalat jenazah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin padanya.

Alasan lainnya, tidaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib kecuali pada An-Najasyi saja. Faktanya, An-Najasyi meninggal dunia di tengah-tengah orang musyrik sehingga tidak ada yang menshalatinya. Seandainya ia meninggal dunia di tengah-tengah kaum muslimin, niscaya akan ada yang menshalatkan jenazah untuknya, dan tentu tidak akan ada shalat ghaib. Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyolati An-Najasyi di Madinah, sedangkan An-Najasyi sendiri berada di Habasyah (Ethiopia).

Alasan lain, ketika para pembesar dan pemimpin umat ini meninggal dunia di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam–padahal mereka berada di tempat yang jauh–tidak diketahui bahwa mereka dishalati dengan shalat ghaib.

Pendapat Lain dalam Masalah Ini?

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan dilaksanakannya shalat ghaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun, bagi orang yang tidak seperti itu tidak perlu dilaksanakan shalat ghaib.

Kesimpulan Mengenai Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama yang mumpuni dalam masalah fiqih. Pendapat yang insya Allah lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang membolehkan. Artinya, shalat ghaib boleh dilakukan apabila jenazah yang berada di suatu tempat belum dishalatkan jenazah.

Apabila jenazah sudah dishalatkan jenazah, maka shalat ghaib tidak perlu dilakukan. Juga, ia bisa dilakukan khusus bagi orang-orang yang memiliki peran dalam masalah agama seperti ketika ada seorang ulama besar yang meninggal dunia, sebagaimana penjelasan tambahan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Tata Cara Shalat Ghaib

Tata cara pelaksanaannya sama seperti shalat jenazah, yaitu dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud.

tata cara shalat ghaib
Source: wikimedia.org

Setelah takbir pertama (takbiratul ihram), yang dibaca adalah surah Al-Fatihah.

Setelah takbir kedua, yang dibaca adalah shalawat atas nabi minimal shalawat pendek “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad”.

Setelah takbir ketiga, yang dibaca adalah doa untuk jenazah. Doa yang dibaca biasanya adalah doa singkat yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuniah dia, berilah dia rahmat, dan sejahterakan dia, serta maafkanlah dia.”

Setelah takbir keempat, salam. Namun, sebelum salam, disunnahkan untuk membaca doa:

  ُاَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَه

“Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

Niat Shalat Ghaib

Di atas adalah penjelasan tentang tata cara shalat ghaib. Sebelum shalat tersebut ditunaikan, orang yang akan menunaikannya harus berniat terlebih dahulu.

Niatnya sebagaimana niat shalat lainnya, yaitu wajib digetarkan dalam hati, dan apabila ingin dilafazkan, maka lafaznya berbunyi:

أُصَلِّي عَلىٰ مَيِّتِ (فلان) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifâyah karena Allah Ta’ala.”

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Apabila kita sebagai makmum ingin ikut menunaikan shalat tapi kita tidak mengetahui identitas jenazahnya secara pasti, maka lafaz niatnya bisa berupa sebagai berikut:

أُصَلِّي عَلىٰ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit yang dishalati oleh imam empat kali takbir fardhu kifâyah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

Demikian penjelasan seputar tata cara shalat ghaib sunnah. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Sunnah

3 February 2017 by no comments Posted in artikel

Tata cara shalat jenazah sesuai sunnah dan doa shalat jenazah penting diketahui oleh umat Islam. Walaupun hukum menyelenggarakan shalat jenazah adalah fardhu kifâyah (wajib dilaksanakan minimal oleh satu orang), tapi setiap individu muslim perlu menguasainya agar muslim yang satu bisa menggantikan muslim yang lain untuk memimpin shalat jenazah secara berjama’ah.

Sebab, berdasarkan fakta di lapangan, terutama di daerah-daerah, sangat sedikit yang menguasai tata cara shalat jenazah dan doa shalat jenazah yang sesuai dengan sunnah.

Nah, bagaimana tata cara shalat jenazah sesuai sunnah?

Al Azhar Memorial Garden telah menyusun pembahasannya.

Berikut penjelasannya.

Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Sunnah

Shalat jenazah berbeda dengan shalat pada umumnya, karena di dalam shalat jenazah tidak ada gerakan rukuk, i’tidâl, dan sujud. Shalat jenazah harus dilakukan sebelum jenazah diantarkan ke pemakaman.

Rukun shalat jenazah meliputi:

  1. Niat.
  2. Melakukan empat kali takbir.
  3. Berdiri (bagi yang mampu).
  4. Membaca surah Al-Fatihah usai takbir pertama.
  5. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam usai takbir kedua.
  6. Membaca doa shalat jenazah usai takbir ketiga.
  7. Mengucapkan salam usai takbir keempat.

Adapun tata cara shalat jenazah sesuai sunnah urutannya adalah sebagai berikut:

  1. Berniat.
  2. Melakukan takbiratul ihram (takbir pertama). Setelah melakukan takbir pertama, tidak perlu membaca istiftah, melainkan langsung membaca basmalah, lalu surah Al-Fatihah.
  3. Setelah membaca surah Al-Fatihah, maka dilanjutkan dengan melakukan takbir kedua yang diikuti dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam semisal shalawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam shalat wajib lima waktu, yaitu Allâhumma shallî ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad.
  4. Setelah itu melakukan takbir yang ketiga dan mendoakan jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.
  5. Setelah itu melakukan takbir keempat. Setelah melakukan takbir keempat, berhentilah sejenak, lalu salam dengan salam yang sempurna ke arah kanan dengan satu kali salam (berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah), atau dua kali salam sebagaimana salat pada umumnya (berdasarkan hadits riwayat al-Baihaqi).

Niat Shalat Jenazah

Niat wajib digetarkan dalam hati. Apabila dilafalkan secara lisan, maka niat shalat jenazah bisa dilafalkan dengan lafaz berikut:

Niat shalat jenazah apabila jenazahnya laki-laki:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذَا الـمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Niat shalat jenazah apabila jenazahnya perempuan:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذِهِ الـمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Doa Shalat Jenazah

Seusai melakukan takbir yang ketiga, kita disunnahkan membaca doa shalat jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.

Apa saja doa shalat jenazah yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih? Berikut di antaranya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, berikanlah ampunan dan rahmat-Mu kepadanya, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburnya, dan cucilah ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah ia dari dosa sebagaimana bersihnya pakaian putih dari noda. Berikanlah ia kediaman yang lebih baik dari pada kediamannya selama di dunia, keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya selama di dunia, dan pasangan yang lebih baik dari pada pasangannya selama di dunia. Perkenankanlah ia untuk memasuki surga-Mu, hindarkanlah ia dari azab kubur dan siksa neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah ia di dalamnya.” (HR Muslim)

Apabila yang dishalatkan itu jenazah perempuan, maka dhamir muzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa shalat jenazah menjadi berbunyi:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهَا فِي قَبْرِهَا، ونَوِّرْ لَهَا فِيهِ

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak kecil laki-laki, maka doa shalat jenazah yang dibaca adalah…

اللّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan, pahala, dan sebagai syafaat yang mustajab untuk kedua orang tuanya.” (HR al-Bukhari)

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهُ فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

“Ya Allah, perberatlah karenanya timbangan kebaikan kedua orang tuanya, perbanyaklah pahala kedua orang tuanya, dan kumpulkanlah dia bersama orang-orang shalih terdahulu dari kalangan orang yang beriman, masukkanlah dia dalam pengasuhan Ibrahim, dan dengan rahmat-Mu, peliharalah dia dari azab api neraka.”

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak perempuan, maka dhamir muzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa menjadi berbunyi:

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا لِوَالِدَيْهَا فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهَا مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهَا أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهَا بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهَا فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهَا بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

Doa shalat jenazah lainnya yang bisa dibaca seusai melafazkan takbir ketiga adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا

“Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup di antara kami, orang-orang yang telah meninggal dunia, orang-orang yang hadir, orang-orang yang tidak hadir, baik anak kecil maupun dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR al-Tirmidzi)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menambahkan:

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيْمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

“Ya Allah, siapa pun di antara kami yang Engkau masih berikan kesempatan hidup, maka hidupkanlah ia dalam keadaan memegang keimanan. Dan siapa pun di antara kami yang Engkau akan wafatkan, maka wafatkanlah ia dalam keadaan beragama Islam. Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya.” (HR Abu Dawud)

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mensalati jenazah dan beliau berdoa:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah tempat peristirahatannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah dia dengan air, es, dan embun sebagaimana Engkau mencuci pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, dan istrinya dengan istri yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari azab kubur dan siksa api neraka.” (HR Muslim)

Untuk semakin melengkapi pemahaman kita tentang doa shalat jenazah, mari kita simak penjelasan Ustaz Dr. Khalid Basalamah di bawah ini.

Catatan Penting Seputar Pelaksanaan Shalat Jenazah

  1. Bacaan dalam salat jenazah tidak dikeraskan, tapi dibaca dengan sirr (tidak keras). Standar tidak keras di sini ialah hanya terdengar oleh diri sendiri saja, sedangkan orang yang di samping kita tidak mendengarnya. Atau dalam kata lain, mulut kita bergerak, tapi tidak keluar suara yang bisa didengar oleh orang lain di samping kita.
  2. Disunnahkan mengangkat tangan pada setiap takbir. Imam Ibnu Hajar berkata, “Terdapat riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya beliau mengangkat tangannya pada seluruh takbir dalam shalat jenazah.” Hal lain yang menunjukkan bahwa mengangkat tangan pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah hukumnya sunnah ialah berdasarkan hadits shahih dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau mengerjakannya. Hadits yang diriwayatkan secara mauqûf ini memiliki hukum marfû’, karena hal seperti ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang sahabat nabi berdasarkan hasil ijtihad pribadi.
  3. Tidak diperbolehkan menunaikan shalat jenazah pada tiga waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat, yaitu ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak, ketika matahari sepenggalah hingga tergelincir, dan ketika matahari condong ke barat hingga terbenam.
  4. Bagi kaum wanita, diperbolehkan untuk menunaikan shalat jenazah secara berjama’ah, dan boleh juga secara sendirian (munfarid). Alasannya, dahulu ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ pernah menyalatkan jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallâhu ‘anhu secara sendirian.
  5. Apabila terkumpul lebih dari satu jenazah dan terdapat mayat laki-laki dan perempuan, maka boleh dishalatkan secara bersamaan. Jenazah lelaki meskipun anak kecil, diletakkan paling dekat dengan imam, sedangkan jenazah wanita diletakkan di arah kiblatnya imam.
  6. Apabila seseorang masbûq setelah imam salam, maka dia meneruskan shalatnya sesuai dengan sifatnya.
  7. Apabila seseorang tertinggal dari shalat jenazah secara berjama’ah, maka dia shalat sendirian selama jenazah belum dikubur. Apabila sudah dikubur, maka dia diperbolehkan menunaikan shalat jenazah di kuburannya.
  8. Shalat jenazah boleh dikerjakan di dalam masjid.
  9. Usai shalat jenazah sebaiknya tidak membaca doa lagi, karena tidak ada riwayat tentangnya. Karena tidak ada riwayat tentangnya, sebagian ulama seperti Syaikh Abu ‘Umar Usamah al-Utaibi bahkan menganggap membaca doa setelah shalat jenazah termasuk perbuatan bid’ah. Oleh karena itu, doa untuk jenazah sebaiknya hanya diucapkan di dalam shalat jenazah saja, yaitu usai melakukan takbir yang ketiga.
  10. Dianjurkan untuk memperbanyak peserta shalat jenazah. Semakin banyak jumlahnya, semakin baik.
tata cara shalat jenazah sesuai sunnah
Source: wikipedia.org

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh kaum muslimin, jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendo’akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafa’at untuknya.” (HR Muslim)

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa’at kepada mereka untuknya.” (HR Muslim)

Demikian penjelasan tentang tata cara shalat jenazah sesuai sunnah. Untuk semakin memahami materi seputar shalat jenazah, silakan simak video produksi Yufid.Tv di bawah ini.

Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

23 January 2017 by no comments Posted in artikel

Di tengah masyarakat masih banyak yang belum memahami seperti apa bentuk kuburan menurut syariat Islam. Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden sudah menyusun sebuah artikel yang membahas hal tersebut. Berikut pembahasannya.

Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

Kuburan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna tanah tempat menguburkan mayat, sinonimnya makam.

Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam.

Seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam?

Jawabnya, bentuknya harus sesuai dengan petunjuk yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

muhammad rasulullah
Source: youtube.com

Hadis-hadis Nabi, baik yang diucapkan oleh Nabi sendiri maupun yang berbentuk kesaksian para Sahabat radhiyallâhu ‘anhum, yang berkaitan dengan bentuk kuburan, jumlahnya sangat banyak, empat di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

Bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.

2. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah melarang menyemen kuburan, duduk di atasnya, dan membangun sesuatu di atasnya.” (HR. Muslim)

3. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

4. Dari Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pada saat lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang shalih diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sungguh aku melarang kalian melakukan hal itu.”

Mengetahui hadis-hadis saja tidak cukup, kita juga perlu merujuk pada penjelasan para ulama agar kita tidak salah dalam memaknai hadis.

Penjelasan Ulama

Dalam kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i berkata:

kitab al-umm
Kitab al-Umm karya Imam Syafii

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

“Saya menyukai agar kuburan tidak diberi bangunan di atasnya dan tidak pula disemen. Sebab, hal semacam ini sama dengan menghias kuburan dan berbangga dengan kuburan. Sementara kematian sama sekali tidak layak untuk itu. Dan saya juga melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar, kuburan mereka tidak disemen.” (al-Umm, juz I, hal. 277)

Imam al-Nawawi, ulama besar dari mazhab Syafi’i, pernah berkata:

أَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ الْقَبْرَ لَا يُرْفَعُ عَلَى الْأَرْضِ رَفْعًا كَثِيرًا وَلَا يُسَنَّمُ بَلْ يُرْفَعُ نَحْوَ شِبْرٍ وَيُسَطَّحُ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ

“Yang sesuai ajaran Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, bahwa kuburan itu tidak ditinggikan dari atas tanah, yang dibolehkan hanyalah meninggikan satu jengkal dan hampir terlihat rata dengan tanah. Inilah pendapat dalam madzbab Syafi’i dan yang sepaham dengannya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, hal. 35).

Imam al-Nawawi di tempat lain juga menegaskan,

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ كَرَاهَةُ تَجْصِيصِ القبر والبناء عيه وَتَحْرِيمُ الْقُعُودُ وَالْمُرَادُ بِالْقُعُودِ الْجُلُوسُ عَلَيْه

“Dilarang memberikan semen pada kuburan, dilarang mendirikan bangunan di atasnya, dan haram pula duduk di atasnya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, hal. 37).

Imam Abu Syuja’ dalam Matan al-Ghâyah wa at-Taqrîb, beliau berkata:

ويسطح القبر ولا يبني عليه ولا يجصص

“Kuburan itu mesti diratakan, kuburan tidak boleh dibangun bangunan di atasnya, dan tidak boleh kuburan diberi semen.” (Mukhtashar Abî Syujâ’, hal. 83)

Adapun mengapa kuburan boleh dinaikan ketinggiannya dari atas permukaan tanah, alasannya bisa kita temukan dalam kitab Kifâyah al-Akhyâr karya Imam Taqiyyuddin Abu Bakr Muhammad al-Hishni al-Husaini al-Dimasyqi.

kifayah al-akhyar
Kitab Kifayah al-Akhyar karya Imam Taqiyuddin

Dalam kitab tersebut, Imam Taqiyuddin berkata, “Kuburan boleh dinaikan satu jengkal saja supaya ia dikenali dan mudah diziarahi, juga agar lebih dihormati oleh para peziarah.” (Kifâyah al-Akhyâr, hal. 214).

Kesimpulan

Berdasarkan hadis nabi dan penjelasan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa bentuk kuburan menurut syariat Islam adalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki liang lahat sebagai tempat diletakkannya jenazah.
  2. Terdapat batu nisan di atas kuburan.
  3. Kuburan ditinggikan sewajarnya untuk memberikan tanda bahwa itu adalah kuburan, bukan jalan umum.
  4. Di atas kuburan tidak terdapat bangunan.
  5. Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat ibadah.
  6. Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat duduk.
bentuk kuburan sesuai syariat islam
Bentuk kuburan yang terdapat di Al-Azhar Memorial Garden insya Allah sudah sesuai syariat Islam

Demikian kesimpulan yang bisa kita ambil dari pembahasan kali ini. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.