Mengingat Mati dengan Berziarah Kubur

25 February 2019 by no comments Posted in artikel

Pemakaman sering dipandang hanya sebatas tempat untuk menguburkan jenazah saja. Padahal, di dalam Islam, kematian harus senantiasa diingat sebagai masa yang sudah pasti datangnya, untuk itu sudah selayaknya disikapi dengan serius. Kematian bersifat Faza atau dahsyat.

Banyak yang belum mengetahui bahwa didalam Islam, membuat makam dan memakamkan jenazah yang merupakan fardhu kifayah memiliki tata cara dan aturan yang terkandung didalam syariat pemakaman. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk menghormati jenazah sebagaimana semasa dia hidup. Meski sudah meninggal dunia, jenazah tetaplah manusia yang memiliki derajat mulia sebagai Khalifah sehingga jenazah wajib diperlakukan sebagaimana ketika masih hidup.

‘Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Albaqarah:30).

Diantara syariat pemakaman dalam Islam adalah makam muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim, tidak boleh ditinggikan, tidak boleh dihias, tidak boleh dilangkahi, diduduki apalagi diinjak-injak.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah bersabda: “Aku terbebas dari orang Muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Supaya api darikeduanya tidak saling berdampingan.” 

Rasulullah juga mengimbau umatnya untuk ziarah kubur untuk mengingat akhirat. Hakikat pemakaman pada umumnya ada dua yakni menuburkan jenazah dengan hormat dan membantu orang yang masih hidup untuk mengingat kematian. Ada makna dakwah dan edukasi di balik sebuah prosesi pemakaman.

Ziarah kubur diharapkan bisa membuat peziarah menitikkan air mata agar hati menjadi lembut. Dengan berziarah kubur diharapkan membuat keluarga yang ditinggalkan bersikap qonaah atau merasa cukup, serta lebih bersyukur. Selain itu, tentu saja diharapkan bisa menambah rasa takut kepada Allah. Berziarah kubur diharapkan bisa mengenang jasa-jasa orang yang sudah dimakamkan.

“Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: Barangsiapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jumat sekali, maka Allah akan mengampuninya dan mencatatnya sebagai anak yang berbakti” (HR al-Thabrani).

Namun, sayangnya, kondisi pemakaman di Jakarta yang kian terdesak oleh kepadatan penduduk membuat makam saling berhimpitan, sehingga peziarah terpaksa melangkahi makam bahkan menginjak makam karena sudah tidak leluasa bergerak. Kondisi pemakaman yang sempit membuat peziarah tidak nyaman berziarah. Padahal berziarah kubur sangat dianjurkan dalam Islam.

Untuk itu pemakaman di Al Azhar Memorial Garden dibuat dengan konsep taman yang syahdu, agar peziarah dapat takzim mengingat kematian. Disamping itu lingkungan yang bersih, asri dan tertata rapi merupakan representasi karakter Islam yang penuh kebersahajaan dan suci. “Konsep taman yang asri di Al Azhar Memorial Garden juga kami buat sebagai salah satu bentuk Syiar mengagungkan kebesaran Allah SWT,” ujar Direktur Utama Al Azhar Memorial Garden Nugroho Adiwiwoho.

Disamping itu Nugroho menekankan bahwa umat hendaknya juga tidak berlebihan dalam membangun makam, agar tidak terjebak pada perilaku tabzir, yakni menghamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat, serta israf, yaitu perilaku berlebihan. Dengan lokasi di Karawang Timur seluas 25 Hektar, Nugroho berharap Al Azhar Memorial Garden dapat melayani kaum muslim se Jabodetabek, Karawang hingga Bandung. Layanan kavling makam di Al Azhar Memorial Garden termasuk perawatan sepanjang masa, sehingga keluarga tidak dipusingkan lagi dengan iuran bulanan.

Sejenak Mengingat Kematian

19 February 2019 by no comments Posted in artikel

Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya. Hidup tak selalu bisa terencana akan dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani tanpa tahu arah dan tujuan. Namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.

Bagi saya, hidup sekadar halte persinggahan semata, sedang akhirat adalah tujuan akhir kita. Itu sebabnya saya selalu bertanya-tanya, kapan waktu saya akan sampai ke tujuan? Hari ini? Esok Lusa? Entahlah. Yang saya yakini, sama seperti ketika saya naik bus dan sudah dekat dengan tujuan, maka saya harus segera bersiap-siap untuk menyetop bus, dan melangkah turun. Saya tidak akan bisa maksa kenek atau bahkan supir bus untuk jangan segera sampai di tujuan.

“Pak, jalannya jalan ngebut, kita santai aja ya. Relaks, Man … Takkan lari gunung dikejar!”

Sama halnya seperti HIDUP. Kita tidak akan bisa tawar menawar dengan Tuhan, kapan kita ingin dijemput oleh Malaikat Maut. Seorang teman pernah bilang, kalau ditotal, waktu untuk kita hidup di dunia itu paling cuma sekedipan mata buat mereka yang udah ada di akhirat.

Kalau iman saya sedang turun, saya suka takut ngebayangin kematian. Bukan apa-apa, saya merasa bekal yang saya siapkan belum cukup. Masih jauh dari kata CUKUP malah. Saya senantiasa dibayangi oleh satu hal: Saya pengen masuk SURGA, tapi jangan-jangan tiket saya cuma cukup buat masuk ke NERAKA? Astagfirullah.

Selain bekal ibadah, ada satu hal lagi yang selama ini jadi beban pikiran saya. Yaitu, pertanyaan “Kalau besok kamu meninggal, kamu mau dimakamkan di mana?”. Saya yakin banyak orang yang sama sekali belum kepikiran mau dimakamin di mana. Sementara, pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan, besok lusa saya harus punya rumah. Mau beli rumah di mana? Tipe berapa? Bangunannya seperti apa? Yup, banyak diantara kita sibuk mempersiapkan tempat tinggal di dunia, tapi lupa mau tinggal di mana kita nanti saat tiba-tiba ajal menjelang.

Beban pikiran itu juga yang mendadak kembali nyangkut di kepala, saat saya dapet kesempatan jalan-jalan berkunjung ke Al Azhar Memorial Garden (AAMG) di Karawang, Jawa Barat. Sebuah pemakaman  yang dimiliki oleh Yayasan Al Azhar dan dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 25 hektar.

Terus terang aja, saya takjub liat tempat ini. Saya tahu, ada banyak suara di luar sana tentang pemakaman model begini. Banyak anggapan yang bilang bahwa ini pemakaman mewah, terutama kalau melihat harga makam per kaplingnya di sini berapa. Harga makam di sini, per kapling diberi banderol Rp. 25 jutaan. Mahal? Tapi ternyata nggak lho!

Kenapa saya bilang nggak mahal, bahkan menurut saya sangat murah? Karena harga ini untuk seumur hidup dan nggak bakal ada biaya-biaya tambahan lain, karena semuanya ditanggung oleh pihak Al Azhar Memorial Garden. Pihak AAMG mengerahkan sekitar 22 orang pegawai yang bertanggung jawab untuk mengurus kebersihan makam.

Ketika saya dan teman-teman berkesempatan keliling makam untuk melihat-lihat 3 tipe makam yang ada di sana, yaitu single, double, dan family, yang saya lihat bukan makam-makam mewah seperti yang ada di tempat lain. Melainkan betul-betul sebuah kompleks pemakaman yang asri, adem, sangat sederhana, dengan batu-batu nisan yang betul-betul sederhana sesuai dengan syariat Islam, sangat jauh dari kesan mewah.

Langsung terbayang di pelupuk mata, andai saya bisa booking satu kapling tipe Family di pemakaman ini, tentu saya, tiga anak saya, 2 orangtua, dan keluarga adik saya (4 orang) nantinya nggak perlu pusing-pusing lagi bertanya mau dimakamkan di mana. Siapa yang mau mengurus makamnya, mesti nyiapin dana berapa, dan lain sebagainya.

 

Mempersiapkan Makam untuk Keluarga

17 February 2019 by no comments Posted in artikel

ahasia umur ada digenggaman Allah SWT. Tidak ada seorang pun dapat mengetahui kapan ajal tiba. Ketika kematian datang mendadak, umumnya keluarga bingung kemana hendak memakamkan. Alangkah baiknya apabila sudah ada wasiat hendak dimakamkan dimana serta mempersiapkan makam yang akan diwasiatkan.Berikut ini tips untuk mempersiapkan makam keluarga:

•    Persiapkanlah Makam Sebelum Wafat

 Berwasiat untuk dimakamkan ditempat tertentu juga dilakukan oleh Ustman Bin Affan RA, salah satu sahabat Rasulullah yang juga Khulafaur Rasyidin yang ketiga, dia termasuk kedalam Sholafus Shalih, yakni orang-orang salih pertama yang mendampingi perjuangan Nabi Muhammad SAW. Demikian halnya dengan Aisah RA, istri Rasulullah yang merupakan putri dari Abu Bakar RA, mewasiatkan untuk dimakamkan sebelum meninggal dunia.

•    Pilihlah Lahan Makam yang Memenuhi Syariat Pemakaman

Setelah kita mengetahui syariat pemakaman termasuk makna berziarah, hendaknya mulai memilih lahan makam yang memenuhi syariat pemakaman seperti :

•    Makam muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim

•    Harus menghadap kiblat

•    Sederhana, hanya terdiri dari gundukan tanah, tidak dibangun apapun diatasnya

•    Kedalaman makam 1,5 m

•    Boleh meletakkan batu nisan sebagai penanda

•    Berdasarkan Fatwa MUI no 9 tahun 2014, membeli makam dimana terdapat unsur tabzir dan israf hukumnya haram*

*Tabzir   : Menggunakan/membelanjakan harta kepada hal yang tidak perlu, atau

disebut juga boros

*Israf      : Suatu sifat jiwa yang memperturutkan keinginan yang melebihi semestinya

Serta memilih makam yang  memudahkan keluarga untuk berziarah dengan khidmat.

•    Mempersiapkan Makam Orangtua Agar Memudahkan untuk Berziarah

Agar amal bakti tidak terputus meski orangtua sudah meninggal dunia, persiapkan makam orangtua ditempat yang memudahkan Anda berziarah khusyuk dan khidmat. Pilih lahan pemakaman yang memungkinkan Anda untuk berdoa dan bertafakur tanpa gangguan. Ajarkan kepada anak-anak Anda kebiasaan ziarah kubur sebagai salah satu tradisi keluarga dengan mengajak mereka berziarah ke makam orangtua Anda

•    Pilih Makam yang Bebas Biaya Sewa Tahunan dan Biaya Perawatan Harian

Untuk memudahkan perawatan makam serta agar makam tidak ditumpuk hanya karena Anda lupa membayar biaya sewa makam tahunan, baiknya Anda membeli makam yang bersertifikat dengan biaya perawatan sepanjang masa.

•    Hindari Tabzir dan Israf dalam Pemakaman dengan Berkonsultasi dengan Ahlinya

Membeli makam sesuai dengan fungsi dan kemampuan Anda, akan membuat Anda terhindar dari tabzir dan israf. Diskusikan dengan ulama atau mereka yang mengetahui mengenai takaran tabzir dan israf sebelum Anda memutuskan membeli makam.

Agar Berziarah Kubur tak Lagi Berat

11 February 2019 by no comments Posted in artikel

Tidak pernah ada dalam bayangan saya sengaja datang berkunjung ke sebuah komplek pemakaman kecuali untuk berziarah mengunjungi makam mertua atau adik saya. Itu pun kadang rasanya berat. Entah kenapa rasanya auranya selalu membuat saya tak nyaman. Tapi ketika mendapat ajakan berkunjung ke Al Azhar Memorial Garden, entah kenapa saya kok ya bersemangat.

Saya membayangkan komplek pemakaman Al Azhar ini seperti komplek pemakaman mewah yang pernah saya dengar juga berada di daerah Karawang, San Diego Hills. Ketika akhirnya saya datang dan menyaksikan sendiri komplek pemakaman Islam ini, bayangan tadi langsung buyar. Apa yang saya bayangkan mewah, ada tempat hiburan, ada tempat wisata, dan sebagainya, pupus sudah. Sepanjang mata memandang, saya tak menemukan apa yang saya cari.

 

Saat memperhatikan makam-makam yang ada di Al Azhar Memorial Garden, tercermin perwujudan pemakaman Islam yang ideal, sederhana, ada jarak antar makam sehingga tak sampai terinjak-injak ketika peziarah lain yang sedang datang.

Konsep pembelian tanah makam di AMG dilakukan di awal, sesuai prinsip perdagangan Islam, ada uang, ada barang. Mungkin akan terasa mahal, tapi karena semua biaya perawatan sudah termasuk biaya di awal, ya terasa biasa aja. Tiap bulan sudah tak ada lagi biaya perawatan yang ditagihkan. Seumur hidup keluarga almarhum bisa tenang tak perlu memikirkan biaya perawatan.

Kalau lihat kerapihan komplek pemakaman AMG, terasa setimpal sih antara biaya yang dikeluarkan dengan fasilitas yang didapatkan. Makam yang tertata rapi dan selalu terawat. Hampir tiap hari ada petugas yang bekerja merawat dan menjaga kebersihan dan kerapihan makam. Semua rumput menggunakan rumput Jepang. Hampir tak ada rumput liar, semua tertata rapi, bersih, dan tenang. Rasa takut yang biasa menghampiri ketika mengunjungi pemakaman biasa, sama sekali hilang. Mungkin karena kerapihannya.

Menjaga Syar’i Hingga Liang Lahat

5 February 2019 by no comments Posted in artikel

Tahukah anda bahwa dalam Islam ada petunjuk agar makam muslim dan non muslim tidak dianjurkan berada dalam satu komplek pemakaman? Mengapa. Karena Allah memuliakan orang muslim. Syariat Islam sudah memberi pedoman agar tidak menguburkan orang kafir di pemakan muslim demikian juga sebaliknya. Kuburan non muslim adalah tempat Allah akan memberi azab sementara pada makam muslim Allah akan memberikan rahmat Allah berupa ampunan dosa. Maka tak selayaknya tempat yang penuh adzab disatukan dengan tempat akan diturunkannya rahmat Allah.

Sebagaimana disabdakan Rasul SAW: “Aku terbebas dari orang muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian Rasul bersabda lagi: Supaya api dari keduanya tidak saling berdampingan”. HR. Abu Daud).

Inilah  salah satu alasan mengapa kemudian Yayasan Pesantren Islam (YPI) lewat divisi usahanya mengembangkan komplek pemakaman muslim yang diberi nama Al-Azhar Memorial Garden yang terletak di Jalan Raya Peruri KM.53-54, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebagai bentuk kepedulian Al-Azhar terhadap persoalan yang berkaitan dengan pemakaman dan bagaimana melaksanakan prosesi kematian secara syar’i.

Manajemen Al-Azhar Memorial Gaden mengejawantahkan visi dan misi dengan benar-benar menjalankan prosesi pemakaman dari hulu ke hilir dengan bersandarkan pada nilai-nilai yang telah digariskan oleh agama.

Apa sajakah yang berkaitan dengan prosesi pemakaman yang sesuai dengan landasan syari itu?

  1. Makam Muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim.
  2. Harus Menghadap kiblat.
  3. Sederhana hanya terdiri dari gundukan tanah tidak dibangun apapun diatasnya.
  4. Tidak boleh dilangkahi, diduduki atau diinjak-injak.
  5. Kedalaman makam 1,5 meter
  6. Boleh meletakkan batu nisan sebagai penanda.
  7. Berdasarkan Fatwa MUI DKI Jakarta tahun 2011, menumpuk jenazah hukumnya haram.
  8. Berdasarkan Fatwa MUI No.9 tahun 2014, membeli makam dimana terdapat unsur tabzir & israf didalamnya adalah haram.
  9. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk memperlakukan jenazah dengan hormat.

Selain prosesi pemakaman yang berlandaskan nilai-nilai syar’i, Al-Azhar Memorial Garden juga memperlakukan semua area dengan konsep yang sama, tanpa hiasan yang berlebih kecuali nisan sebagai penanda.

Satu hal yang menarik dan layak diapresiasi adalah dibukanya pintu amal kebaikan kepada siapapun untuk bisa mewakafkan tanah kuburan di area makam ini kepada muslim lainnya sebagai bentuk kepedulian muslim terhadap muslim lainnya, Tentu saja ada aturan yang harus dilakukan bersama antara muwakif dan nadzir dalam hal ini adalah manajemen AMG agar proses wakaf ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Dari luas 25 ha yang disediakan saat ini oleh AMG dengan kebutuhan tiap makam sekitar 3×2 meter persegi, maka lubang yang tersedia diperkirakan sekitar 29 ribu lubang yang disediakan kepada seluruh muslimim yang berniat menyiapkan makam untuk dirinya atau keluarganya. Saat ini AMG sudah memasuki tahap ke V pada aspek pemasarannya dengan jumlah lubang yang sudah dibeli sekitar 3.000 liang yang sudah dipesan sejak hadirnya AMG pada 2012.

Bagaimana dengan harga yang ditawarkan, mahalkah?

Bila melihatnya dari sisi ukuran tanah yang dibeli memang terkesan mahal, namun harus dilihat bahwa proses pemeliharaan tanah mulai dari awal dibeli hingga dikuburkan serta pemeliharaan sepanjang masa tentu nilai yang ditawarkan di Al-Azhar Memorial Garden akan terasa tidak ada artinya dengan jumlah nominal yang dikeluarkan.

Begini Seharusnya Memakamkan Mereka yang Pulang ke Rahmatullah (2)

25 January 2019 by no comments Posted in artikel

Sederhana Hanya Terdiri Gundukan dan tidak dibangun Apapun

Kita sering melihat makam-makan dibangun dengan berbagai macam bentuk bangunan diatasnya dengan berbagai keramik dan cat beraneka ragam. Dalam islam hal ini tidaklah dianjurkan. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat rasulullah.

Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, “Dan makam beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam digunduki tanah seperti punuk yang berada di tanah lapang merah. Tidak ada bangunan dan tidak juga diplester. Demikian itu pula makam kedua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar).”

“Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw melarang memplester kubur, mendudukinya dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, no. 94/970)

MakamTidaklah di duduki atau di Injak-injak

Di Jakarta bahkan ada fenomena, anak-anak atau gelandangan jalanan terpaksa tinggal di makam karena tak mampu membayar kontrakan. Padahal hal seperti ini tidaklah diperbolehkan. Jangankan tinggal diatasnya, duduk dan menginjakpun tidak boleh.

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Lebih baik salah seorang dari kamu duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya dan sekujur tubuhnya daripada duduk di atas kubur’,” (HR Muslim (971).

Rasulullah aja sampe bilang begitu. Ini karena betapa manusia sangat di muliakan Allah bahkan sampe setelah meninggal dunia.

Kedalaman Makam 1,5 M

Kenapa?? Supaya yang meninggal atau jenazah terhindar atau terlindungi dari hewan yang hidup. Begitu juga yang hidup terhindar dari yang telah meninggal, dari bau dan lain. lain.

Boleh Meletakkan Nisan Penanda

Sebagai kebutuhan penanda agar kita tidak kehilangan jejak atau agar mudah ketika berziaran maka sebatas ada kebutuhanmenuliskan nama orang yang wafat di atas kuburan atau pada nisan sebagai penanda agar kuburannya dikenali, bukan dalam kategori bermegah-megahan diperbolehkan. Ingat hanya sebagai penanda bukan dalam kategori bermegah-megahan.

Kuburan Mewah Haram Hukumnya

Kini nampaknya mucul trend kuburan mewah dengan berbagai fasilitas wah yang ditawarkan. Padahal hal ini haram hukumnya. MUI jelas menyatakan Jual beli dan bisnis lahan untuk kepentingan kuburan mewah yang terdapat unsur tabdzir dan israf hukumnya haram,” jelas Fatwa MUI Nomor 9 tahun 2014

Begini Seharusnya Memakamkan Mereka yang Pulang ke Rahmatullah

18 January 2019 by no comments Posted in artikel

Ada seorang anak gadis yang meninggal dunia. Lalu sang ayah menguburkannya seperti layaknya jenazah pada umumnya di pemakaman umum. Setelah itu sang Ayah setiap malam selama tiga hari selalu bermimpi di datangi anak gadisnya yang mengeluh, “Ayah tolong ayah, aku tidak bisa tidur suara pabrik kapur berisik sekali sampai aku tak bisa tidur”.

Lalu sang ayah mengecek memastikan di pemakamannya tak ada pabrik apapun sepi sunyi senyap. kemudian usut diusut ternyata makam anak gadisnya bersebelahan dengan makan seorang algojo yang seumur hidupnya selalu berbuat maksiat.

Demikian sepenggal kisah yang berkaitan dengan pemakanaman. Dalam Islam ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemakamam seorang muslim. Ada beberepa syariat yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah tidak mencampur makam seorang muslim dengan non muslim. Kenapa? jawabannya cerita diatas menunjukkannya.

Seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin semenjak zaman rasulullah para khulafa’ ar rasyidun dan orang-orang setelahnya. Hal tersebut terus berlangsung dan menjadi ijma’ amali untuk memisah kuburan ummat islam dengan kuburan orang-orang musyrik.

Sebab, adzab bagi orang-orang musyrik tersebut akan dirasakan oleh seluruh penduduk kuburan tersebut. Padahal adzab kepada mereka tidak terputus. Jenazah umat muslim yang dicampur dengan muysrikin akan tersiksa.Tersiksanya mayit tergantung dengan siksaan yang ditimpakan pada tetangganya berupa pedihnya adzab, bau yang busuk ataupun kegelapan liang lahat dan yang lainnya.

Harus Menghadap Kiblat

Ketaqwaan seorang muslim di buktikan dengan tiga hal yaitu Qaulan; melalui kata-kata yang keluar dari mulut kita. Maka kita harus bersyahadat, mengucapkan dua kalimat syahadat. Qulbi; hati kita. Ketaqwaan kita juga harus dibuktikan dengan hati kita yang selalu hanya menyakini hanya Allah satu-satunya tuhan kita. Yang ketiga Fikli ketaqwaan kita juga dibuktikan dengan perilaku dan gerakan kita. Maka saat kita sholat kita harus dengan tertib baik dan menghadap kiblat.

Itulah mengapa saat sholat hingga saat kita meninggalpun harus menghadap ke kiblat. Sebagai bukti ketaqwaan kita.

Ku hadapkan muka dan hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, demikianlah aku diperintah dan aku termasuk golongan orang-orang muslim

 

Bersambung….

Tetap Syariah Hingga Peristirahatan Terakhir

17 January 2019 by no comments Posted in artikel

Memasuki bulan Ramadhan salah satu tradisi umat Islam di Indonesia ialah ziarah ke makam orang tua, keluarga atau kerabat. Dulu saya rutin melakukannya ketika masih di Semarang. Sejak tinggal dan bekerja di Jakarta, kegiatan ziarah biasanya saya lakukan menjelang hari Raya Idul Fitri.

Kegiatan ziarah ke makam awalnya bagi saya hanya sebatas mendoakan almarhum orang tua atau keluarga tanpa peduli di mana dimakamkan. Di beberapa daerah makam masih menjadi tempat yang menyeramkan untuk didatangi.

Namun beberapa tahun terakhir ada perubahan tren yang terjadi. Tempat pemakaman menjadi menyenangkan bahkan tempat rekreasi karena fasilitas hiburan seperti danau atau taman. Awalnya saya menyambut baik tren tersebut karena mengubah image makam menjadi keren dan berbobot. Tetapi kebanyakan orang yang dimakamkan di tempat tersebut beragama non Muslim dan dengan harga yang mahal. Tak lama muncul pemakaman syariah yang dikelola lembaga pendidikan ternama di Karawang Timur.

 

Ada dua hal penting dalam hakikat pemakam Islam yang harus diketahui yaitu menguburkan jenazah dengan hormat dan melakukan ziarah kubur untuk mengingat kematian. Selain itu ada tujuh hal penting dalam memilih pemakaman sesuai dengan syariat Islam antara lain :

a. tidak boleh bercampur dengan makam non muslim

b. harus menghadap kiblat

c. sederhana

d. tidak boleh dilangkahi atau diinjak

d. kedalaman hanya 1,5 meter

e. boleh meletakkan nisan sebagai penanda

f. jenazah tidak boleh ditumpuk dan tidak boleh berfungsi sebagai tempat wisata

Mendengar hal itu saya menjadi terkejut karena baru mengetahuinya dan menganggap wajar tempat makam yang dijadikan hiburan. Ternyata hakikat manusia melakukan ziarah kubur agar membuat kita merasa cukup dan bersyukur, mengenang jasa orang yang telah meninggal dan mendorong jadi lebih baik dalam beribadah.

 

Memikirkan Makna Hidup Ketika Mengunjungi Pemakaman

11 January 2019 by no comments Posted in artikel

Sebagai manusia, rumah masa depan kita adalah kuburan alias pemakaman. Kalau berbicara tentang pemakaman pasti yang terpikir adalah suasana yang seram, sunyi, penuh pepohonan dan aneka bentuk liang lahat itu sendiri. Ternyata, ada pemakaman yang sesuai syariat islam dan tempatnya cukup nyaman tertata rapi.

Beberapa waktu lalu saya di undang oleh Republika Online untuk berkunjung ke Al-Azhar Memorial Garden yang berada di Karawang, Jawa Barat. Dari Jakarta menuju kesana cukup memakan waktu 2 jam saja. Kalau dengar kata Al-Azhar mungkin sudah tak asing lagi di telinga sebagian banyak orang termasuk saya sendiri yang kebetulan rumah saya dekat dengan Sekolah Al-Azhar Bintaro.

Yang saya tahu kalau Al-Azhar itu hanya Yayasan di bidang pendidikan dan wakaf saja tapi ternyata Al-Azhar juga memiliki Pemakaman yang di namakan Al-Azhar Memorial Garden, mau tahu lebih lengkap tentang pemakaman ini? Berikut ini ulasannya:

Setelah keluar Tol Karawang timur kita melewati jalan yang banyak sekali hilir mudik aneka truk kontainer karena seperti yang kita ketahui Karawang itu merupakan daerah industri jadi banyak pabrik yang ada disana. Tak jauh dari keluar tol terlihat gerbang dengan tulisan Al-Azhar Memorial Garden. Dari melihat gerbang yang terlihat megah mungkin banyak yang berfikir mewahnya area pemakaman ini.

Al-Azhar memberikan layanan Pendidikan seperti TK, SD, SMP, SMA dan Universitas. Al-Azhar juga melayani sosial amil dan zakat juga pengurusan jenazah. Seiring berjalanya waktu ketika para pengurus meninggal banyak yang tidak memiliki tempat atau sulit dan yang akhirnya di buatlah Al-Azhar Memorial Garden ini.

Sebagai muslim juga tentunya kita menginginkan pemakaman yang sesuai syariat Islam bukan hanya asal di makamkan saja. Bagaimanapun juga kita adalah khalifah yang walaupun sudah meninggal juga masih sebagai khalifah. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk memperlakukan jenazah dengan hormat.

Al Azhar Memotial Garden juga memiliki layanan prosesi pemakaman syariah yaitu menangani prosesi pemakaman, mulai dari rumah duka hingga ke Al-Azhar Memorial Garden dan pemindahan makam, dari makam lama ke Al-Azhar Memorial Garden.

Setelah di jelaskan oleh ibu Maya kami semua berkeliling naik bis menuju tempat pemakaman. Wahh, suasana yang nyaman, bersih sudah terasa ketika kita melewati jalan yang di setiap pinggirnya berjajar pohon-pohon.Terlihat juga para petugas kebersihan yang sedang membersihkan areal makam. Al-Azhar Memorial Garden ini memiliki luas 25 hektar dan saat ini sudah 3.000 lahan yang terjual namun baru 100 lahan saja yang sudah terisi.

Kalau kita membeli lahan pemakaman disini, kita hanya membayar uang di muka saja tidak perlu memikirkan biaya kebersihan makam setiap bulannya. Ada program wakaf juga di Al-Azhar Memorial Garden ini yaitu jika satu makam ada yang beli maka satu makam lagi di wakafkan untuk makam kaum Dhuafa dan untuk pemakaman kaum dhuafa juga menyatu dengan makam lainya alias tidak di pisah-pisah.

Berkunjung Al-Azhar Memorial Garden membuat saya terus termenung memikirkan segala amal perbuatan saya yang saya pikir belum cukup untuk bekal ketika saya mati nanti. Berfikir juga apa nanti ketika saya meninggal saya akan di makamkan dengan syariat Islam atau tidak ya oleh orang-orang terkasih saya yang masih hidup?

Menepis Kesan ‘Horor’ dari Sebuah Makam

5 January 2019 by no comments Posted in artikel

Ada hal ini sangat kontras dengan pengalaman masa kecil, dibanding ketika menjejakkan kaki di Al Azhar Memorial Garden. Tak ada pepohonan rimbun menyeramkan, semua tertangkap asri di indera pengihatan. Jalanan halus dipersiapkan khusus, juga terdapat pemisahan blok untuk memudahkan keluarga mencari makam.

Al Azhar Memorial Garden untuk merespons kebutuhan masyarakat, utamanya keluarga besar Al Azhar yang umumnya golongan menengah atas. Mereka kebanyakan public figure, kesulitan mencari tempat pemakaman bagi keluarganya. Namun tak perlu kawatir, masyarakat luas juga bisa memiliki makam di Al Azhar memorial Garden.