Mempersiapkan Makam Islam untuk Keluarga Muslim

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

ahasia umur ada digenggaman Allah SWT. Tidak ada seorang pun dapat mengetahui kapan ajal tiba. Ketika kematian datang mendadak, umumnya keluarga bingung kemana hendak memakamkan. Alangkah baiknya apabila sudah ada wasiat hendak dimakamkan dimana serta mempersiapkan makam yang akan diwasiatkan.Berikut ini tips untuk mempersiapkan makam keluarga:

•    Persiapkanlah Makam Sebelum Wafat Berwasiat untuk dimakamkan ditempat tertentu juga dilakukan oleh Ustman Bin Affan RA, salah satu sahabat Rasulullah yang juga Khulafaur Rasyidin yang ketiga, dia termasuk kedalam Sholafus Shalih, yakni orang-orang salih pertama yang mendampingi perjuangan Nabi Muhammad SAW. Demikian halnya dengan Aisah RA, istri Rasulullah yang merupakan putri dari Abu Bakar RA, mewasiatkan untuk dimakamkan sebelum meninggal dunia.

•    Pilihlah Lahan Makam yang Memenuhi Syariat Pemakaman

Setelah kita mengetahui syariat pemakaman termasuk makna berziarah, hendaknya mulai memilih lahan makam yang memenuhi syariat pemakaman seperti :

•    Makam muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim

•    Harus menghadap kiblat

•    Sederhana, hanya terdiri dari gundukan tanah, tidak dibangun apapun diatasnya

•    Kedalaman makam 1,5 m

•    Boleh meletakkan batu nisan sebagai penanda

•    Berdasarkan Fatwa MUI no 9 tahun 2014, membeli makam dimana terdapat unsur tabzir dan israf hukumnya haram*

*Tabzir   : Menggunakan/membelanjakan harta kepada hal yang tidak perlu, atau

disebut juga boros

*Israf      : Suatu sifat jiwa yang memperturutkan keinginan yang melebihi semestinya

Serta memilih makam yang  memudahkan keluarga untuk berziarah dengan khidmat.

•    Mempersiapkan Makam Orangtua Agar Memudahkan untuk Berziarah

Agar amal bakti tidak terputus meski orangtua sudah meninggal dunia, persiapkan makam orangtua ditempat yang memudahkan Anda berziarah khusyuk dan khidmat. Pilih lahan pemakaman yang memungkinkan Anda untuk berdoa dan bertafakur tanpa gangguan. Ajarkan kepada anak-anak Anda kebiasaan ziarah kubur sebagai salah satu tradisi keluarga dengan mengajak mereka berziarah ke makam orangtua Anda

•    Pilih Makam yang Bebas Biaya Sewa Tahunan dan Biaya Perawatan Harian

Untuk memudahkan perawatan makam serta agar makam tidak ditumpuk hanya karena Anda lupa membayar biaya sewa makam tahunan, baiknya Anda membeli makam yang bersertifikat dengan biaya perawatan sepanjang masa.

•    Hindari Tabzir dan Israf dalam Pemakaman dengan Berkonsultasi dengan Ahlinya

Membeli makam sesuai dengan fungsi dan kemampuan Anda, akan membuat Anda terhindar dari tabzir dan israf. Diskusikan dengan ulama atau mereka yang mengetahui mengenai takaran tabzir dan israf sebelum Anda memutuskan membeli makam.

Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim 14
Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim 14

Pemakaman Islam Menjaga Syar’i Hingga Liang Lahat

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Tahukah anda bahwa dalam Islam ada petunjuk agar makam muslim dan non muslim tidak dianjurkan berada dalam satu komplek pemakaman? Mengapa. Karena Allah memuliakan orang muslim. Syariat Islam sudah memberi pedoman agar tidak menguburkan orang kafir di pemakan muslim demikian juga sebaliknya. Kuburan non muslim adalah tempat Allah akan memberi azab sementara pada makam muslim Allah akan memberikan rahmat Allah berupa ampunan dosa. Maka tak selayaknya tempat yang penuh adzab disatukan dengan tempat akan diturunkannya rahmat Allah.

Sebagaimana disabdakan Rasul SAW: “Aku terbebas dari orang muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian Rasul bersabda lagi: Supaya api dari keduanya tidak saling berdampingan”. HR. Abu Daud).

Inilah  salah satu alasan mengapa kemudian Yayasan Pesantren Islam (YPI) lewat divisi usahanya mengembangkan komplek pemakaman muslim yang diberi nama Al-Azhar Memorial Garden yang terletak di Jalan Raya Peruri KM.53-54, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebagai bentuk kepedulian Al-Azhar terhadap persoalan yang berkaitan dengan pemakaman dan bagaimana melaksanakan prosesi kematian secara syar’i.

Manajemen Al-Azhar Memorial Gaden mengejawantahkan visi dan misi dengan benar-benar menjalankan prosesi pemakaman dari hulu ke hilir dengan bersandarkan pada nilai-nilai yang telah digariskan oleh agama.

Apa sajakah yang berkaitan dengan prosesi pemakaman yang sesuai dengan landasan syari itu?

  1. Makam Muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim.
  2. Harus Menghadap kiblat.
  3. Sederhana hanya terdiri dari gundukan tanah tidak dibangun apapun diatasnya.
  4. Tidak boleh dilangkahi, diduduki atau diinjak-injak.
  5. Kedalaman makam 1,5 meter
  6. Boleh meletakkan batu nisan sebagai penanda.
  7. Berdasarkan Fatwa MUI DKI Jakarta tahun 2011, menumpuk jenazah hukumnya haram.
  8. Berdasarkan Fatwa MUI No.9 tahun 2014, membeli makam dimana terdapat unsur tabzir & israf didalamnya adalah haram.
  9. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk memperlakukan jenazah dengan hormat.

Selain prosesi pemakaman yang berlandaskan nilai-nilai syar’i, Al-Azhar Memorial Garden juga memperlakukan semua area dengan konsep yang sama, tanpa hiasan yang berlebih kecuali nisan sebagai penanda.

Satu hal yang menarik dan layak diapresiasi adalah dibukanya pintu amal kebaikan kepada siapapun untuk bisa mewakafkan tanah kuburan di area makam ini kepada muslim lainnya sebagai bentuk kepedulian muslim terhadap muslim lainnya, Tentu saja ada aturan yang harus dilakukan bersama antara muwakif dan nadzir dalam hal ini adalah manajemen AMG agar proses wakaf ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Dari luas 25 ha yang disediakan saat ini oleh AMG dengan kebutuhan tiap makam sekitar 3×2 meter persegi, maka lubang yang tersedia diperkirakan sekitar 29 ribu lubang yang disediakan kepada seluruh muslimim yang berniat menyiapkan makam untuk dirinya atau keluarganya. Saat ini AMG sudah memasuki tahap ke V pada aspek pemasarannya dengan jumlah lubang yang sudah dibeli sekitar 3.000 liang yang sudah dipesan sejak hadirnya AMG pada 2012.

Bagaimana dengan harga yang ditawarkan, mahalkah?

Bila melihatnya dari sisi ukuran tanah yang dibeli memang terkesan mahal, namun harus dilihat bahwa proses pemeliharaan tanah mulai dari awal dibeli hingga dikuburkan serta pemeliharaan sepanjang masa tentu nilai yang ditawarkan di Al-Azhar Memorial Garden akan terasa tidak ada artinya dengan jumlah nominal yang dikeluarkan.

Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 15
Pemakaman Islam Al Azhar Karawang

Begini Seharusnya Memakamkan Mereka yang Pulang ke Rahmatullah (II)

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Sederhana Hanya Terdiri Gundukan dan tidak dibangun Apapun

Kita sering melihat makam-makan dibangun dengan berbagai macam bentuk bangunan diatasnya dengan berbagai keramik dan cat beraneka ragam. Dalam islam hal ini tidaklah dianjurkan. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat rasulullah.

Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, “Dan makam beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam digunduki tanah seperti punuk yang berada di tanah lapang merah. Tidak ada bangunan dan tidak juga diplester. Demikian itu pula makam kedua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar).”

“Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw melarang memplester kubur, mendudukinya dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, no. 94/970)

MakamTidaklah di duduki atau di Injak-injak

Di Jakarta bahkan ada fenomena, anak-anak atau gelandangan jalanan terpaksa tinggal di makam karena tak mampu membayar kontrakan. Padahal hal seperti ini tidaklah diperbolehkan. Jangankan tinggal diatasnya, duduk dan menginjakpun tidak boleh.

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Lebih baik salah seorang dari kamu duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya dan sekujur tubuhnya daripada duduk di atas kubur’,” (HR Muslim (971).

Rasulullah aja sampe bilang begitu. Ini karena betapa manusia sangat di muliakan Allah bahkan sampe setelah meninggal dunia.

Kedalaman Makam 1,5 M

Kenapa?? Supaya yang meninggal atau jenazah terhindar atau terlindungi dari hewan yang hidup. Begitu juga yang hidup terhindar dari yang telah meninggal, dari bau dan lain. lain.

Boleh Meletakkan Nisan Penanda

Sebagai kebutuhan penanda agar kita tidak kehilangan jejak atau agar mudah ketika berziaran maka sebatas ada kebutuhanmenuliskan nama orang yang wafat di atas kuburan atau pada nisan sebagai penanda agar kuburannya dikenali, bukan dalam kategori bermegah-megahan diperbolehkan. Ingat hanya sebagai penanda bukan dalam kategori bermegah-megahan.

Kuburan Mewah Haram Hukumnya

Kini nampaknya mucul trend kuburan mewah dengan berbagai fasilitas wah yang ditawarkan. Padahal hal ini haram hukumnya. MUI jelas menyatakan Jual beli dan bisnis lahan untuk kepentingan kuburan mewah yang terdapat unsur tabdzir dan israf hukumnya haram,” jelas Fatwa MUI Nomor 9 tahun 2014

Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim 14
Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim

Ramadhan Ziarah Kubur Tetap Syariah Hingga Peristirahatan Terakhir

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Memasuki bulan Ramadhan salah satu tradisi umat Islam di Indonesia ialah ziarah ke makam orang tua, keluarga atau kerabat. Dulu saya rutin melakukannya ketika masih di Semarang. Sejak tinggal dan bekerja di Jakarta, kegiatan ziarah biasanya saya lakukan menjelang hari Raya Idul Fitri.

Kegiatan ziarah ke makam awalnya bagi saya hanya sebatas mendoakan almarhum orang tua atau keluarga tanpa peduli di mana dimakamkan. Di beberapa daerah makam masih menjadi tempat yang menyeramkan untuk didatangi.

Namun beberapa tahun terakhir ada perubahan tren yang terjadi. Tempat pemakaman menjadi menyenangkan bahkan tempat rekreasi karena fasilitas hiburan seperti danau atau taman. Awalnya saya menyambut baik tren tersebut karena mengubah image makam menjadi keren dan berbobot. Tetapi kebanyakan orang yang dimakamkan di tempat tersebut beragama non Muslim dan dengan harga yang mahal. Tak lama muncul pemakaman syariah yang dikelola lembaga pendidikan ternama di Karawang Timur.

Ada dua hal penting dalam hakikat pemakam Islam yang harus diketahui yaitu menguburkan jenazah dengan hormat dan melakukan ziarah kubur untuk mengingat kematian. Selain itu ada tujuh hal penting dalam memilih pemakaman sesuai dengan syariat Islam antara lain :

a. tidak boleh bercampur dengan makam non muslim

b. harus menghadap kiblat

c. sederhana

d. tidak boleh dilangkahi atau diinjak

d. kedalaman hanya 1,5 meter

e. boleh meletakkan nisan sebagai penanda

f. jenazah tidak boleh ditumpuk dan tidak boleh berfungsi sebagai tempat wisata

Mendengar hal itu saya menjadi terkejut karena baru mengetahuinya dan menganggap wajar tempat makam yang dijadikan hiburan. Ternyata hakikat manusia melakukan ziarah kubur agar membuat kita merasa cukup dan bersyukur, mengenang jasa orang yang telah meninggal dan mendorong jadi lebih baik dalam beribadah.

Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim 14
Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim

Pemakaman Islam Begini Seharusnya Memakamkan Mereka yang Pulang ke Rahmatullah

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Ada seorang anak gadis yang meninggal dunia. Lalu sang ayah menguburkannya seperti layaknya jenazah pada umumnya di pemakaman umum. Setelah itu sang Ayah setiap malam selama tiga hari selalu bermimpi di datangi anak gadisnya yang mengeluh, “Ayah tolong ayah, aku tidak bisa tidur suara pabrik kapur berisik sekali sampai aku tak bisa tidur”.

Lalu sang ayah mengecek memastikan di pemakamannya tak ada pabrik apapun sepi sunyi senyap. kemudian usut diusut ternyata makam anak gadisnya bersebelahan dengan makan seorang algojo yang seumur hidupnya selalu berbuat maksiat.

Demikian sepenggal kisah yang berkaitan dengan pemakanaman. Dalam Islam ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemakamam seorang muslim. Ada beberepa syariat yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah tidak mencampur makam seorang muslim dengan non muslim. Kenapa? jawabannya cerita diatas menunjukkannya.

Seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin semenjak zaman rasulullah para khulafa’ ar rasyidun dan orang-orang setelahnya. Hal tersebut terus berlangsung dan menjadi ijma’ amali untuk memisah kuburan ummat islam dengan kuburan orang-orang musyrik.

Sebab, adzab bagi orang-orang musyrik tersebut akan dirasakan oleh seluruh penduduk kuburan tersebut. Padahal adzab kepada mereka tidak terputus. Jenazah umat muslim yang dicampur dengan muysrikin akan tersiksa.Tersiksanya mayit tergantung dengan siksaan yang ditimpakan pada tetangganya berupa pedihnya adzab, bau yang busuk ataupun kegelapan liang lahat dan yang lainnya.

Harus Menghadap Kiblat

Ketaqwaan seorang muslim di buktikan dengan tiga hal yaitu Qaulan; melalui kata-kata yang keluar dari mulut kita. Maka kita harus bersyahadat, mengucapkan dua kalimat syahadat. Qulbi; hati kita. Ketaqwaan kita juga harus dibuktikan dengan hati kita yang selalu hanya menyakini hanya Allah satu-satunya tuhan kita. Yang ketiga Fikli ketaqwaan kita juga dibuktikan dengan perilaku dan gerakan kita. Maka saat kita sholat kita harus dengan tertib baik dan menghadap kiblat.

Itulah mengapa saat sholat hingga saat kita meninggalpun harus menghadap ke kiblat. Sebagai bukti ketaqwaan kita.

Ku hadapkan muka dan hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, demikianlah aku diperintah dan aku termasuk golongan orang-orang muslim

Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 42
Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang

Memikirkan Makna Hidup Ketika Mengunjungi Pemakaman Islam

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Sebagai manusia, rumah masa depan kita adalah kuburan alias pemakaman. Kalau berbicara tentang pemakaman pasti yang terpikir adalah suasana yang seram, sunyi, penuh pepohonan dan aneka bentuk liang lahat itu sendiri. Ternyata, ada pemakaman yang sesuai syariat islam dan tempatnya cukup nyaman tertata rapi.

Beberapa waktu lalu saya di undang oleh Republika Online untuk berkunjung ke Al-Azhar Memorial Garden yang berada di Karawang, Jawa Barat. Dari Jakarta menuju kesana cukup memakan waktu 2 jam saja. Kalau dengar kata Al-Azhar mungkin sudah tak asing lagi di telinga sebagian banyak orang termasuk saya sendiri yang kebetulan rumah saya dekat dengan Sekolah Al-Azhar Bintaro.

Yang saya tahu kalau Al-Azhar itu hanya Yayasan di bidang pendidikan dan wakaf saja tapi ternyata Al-Azhar juga memiliki Pemakaman yang di namakan Al-Azhar Memorial Garden, mau tahu lebih lengkap tentang pemakaman ini? Berikut ini ulasannya:

Setelah keluar Tol Karawang timur kita melewati jalan yang banyak sekali hilir mudik aneka truk kontainer karena seperti yang kita ketahui Karawang itu merupakan daerah industri jadi banyak pabrik yang ada disana. Tak jauh dari keluar tol terlihat gerbang dengan tulisan Al-Azhar Memorial Garden. Dari melihat gerbang yang terlihat megah mungkin banyak yang berfikir mewahnya area pemakaman ini.

Al-Azhar memberikan layanan Pendidikan seperti TK, SD, SMP, SMA dan Universitas. Al-Azhar juga melayani sosial amil dan zakat juga pengurusan jenazah. Seiring berjalanya waktu ketika para pengurus meninggal banyak yang tidak memiliki tempat atau sulit dan yang akhirnya di buatlah Al-Azhar Memorial Garden ini.

Sebagai muslim juga tentunya kita menginginkan pemakaman yang sesuai syariat Islam bukan hanya asal di makamkan saja. Bagaimanapun juga kita adalah khalifah yang walaupun sudah meninggal juga masih sebagai khalifah. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk memperlakukan jenazah dengan hormat.

Al Azhar Memotial Garden juga memiliki layanan prosesi pemakaman syariah yaitu menangani prosesi pemakaman, mulai dari rumah duka hingga ke Al-Azhar Memorial Garden dan pemindahan makam, dari makam lama ke Al-Azhar Memorial Garden.

Berkunjung Al-Azhar Memorial Garden membuat saya terus termenung memikirkan segala amal perbuatan saya yang saya pikir belum cukup untuk bekal ketika saya mati nanti. Berfikir juga apa nanti ketika saya meninggal saya akan di makamkan dengan syariat Islam atau tidak ya oleh orang-orang terkasih saya yang masih hidup?

Mengenal Lebih Dekat Pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden Karawang

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Tentang Al-Azhar Memorial Garden

Al-Azhar Memorial Garden adalah salah satu unit usaha Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar yang bergerak di bidang layanan pemakaman Islam.

Al-Azhar Memorial Garden dibangun untuk melayani umat yang ingin dimakamkan sesuai syariat Islam, sekaligus sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat tentang syariat pemakaman Islam.

Terbentang seluas 25 hektar di wilayah Karawang Timur, Al-Azhar Memorial Garden siap menampung sekitar 29.000 ribu jenazah muslim dari wilayah Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, dan sekitarnya.

Latar Belakang Dibangunnya Pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden

Pada saat ini, masyarakat Indonesia yang berada di wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk yang terus meningkat menghadapi permasalahan semakin terbatasnya pemakaman yang disediakan oleh pemerintah dan masyarakat.

Perlu diketahui bahwa Wilayah DKI Jakarta dengan luas 65.680 hektar diproyeksikan membutuhkan lahan makam seluas 785 hektar.

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta tahun 2011, ditargetkan 745 hektar.

Padahal, luas makam di Jakarta hanya 576 hektar. Jadi, Jakarta jelas masih kekurangan lahan sebesar 209 hektar.

Tingginya angka warga Jakarta yang meninggal dunia, dengan rata-rata per hari mencapai 111 orang, berarti mulai 2012 dan seterusnya, lahan pemakaman di DKI Jakarta akan habis apabila tidak segera dilakukan penambahan.

Selain usaha menambah luas lahan makam, dilakukan juga kebijakan menumpuk jenazah dalam satu lubang makam bagi yang masih ada hubungan keluarga. Jarak waktunya minimal dua tahun, hal itu untuk mengantisipasi over-loadnya lahan makam.

Kondisi Tempat Pemakaman Umum yang ada pada saat ini sangat memprihatinkan, antara lain:

  • Terkesan berdesak-desakan dan tidak beraturan.
  • Kurang terurus dengan baik.
  • Seringkali ditemui pengemis, pedagang asongan, dan lain-lain.
  • Tidak memiliki fasilitas memadai.
  • Kewajiban membayar biaya perpanjangan pemakaian lahan dan iuran bulanan.
  • Terkesan seram dan angker.

Maksud dan Tujuan

Dengan melihat keadaan yang memprihatinkan ini, kami tergugah untuk berpartisipasi mengatasi kesulitan yang dihadapi pemerintah dengan menyediakan lahan pemakaman muslim yang dapat memberikan keamanan, kenyamanan, dan ketentraman bagi keluarga yang ditinggalkan.

Adapun pembangunan Al-Azhar Memorial Garden bertujuan untuk:

  1. Memberikan pilihan bagi umat Islam untuk dapat dikuburkan di pemakaman muslim sesuai syariat Islam.
  2. Rumput terawat untuk selamanya, tanpa ada lagi beban biaya bulanan ataupun tahunan yang memberatkan ahli waris.
  3. Adanya kemudahan prosesi pemulasaraan jenazah sejak awal sampai penguburan.
  4. Melanggengkan persaudaraan dan kekeluargaan, dengan adanya kuburan di lahan pemakaman muslim, memungkinkan anak cucu untuk berziarah.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden yang dibangun sejak 2011 lalu memiliki konsep sebagai berikut:

  1. Memiliki konsep, makam adalah bagian dari taman.
  2. Tidak ada gangguan dari pihak luar, karena tertutup dan diawasi selama 24 jam nonstop.
  3. Tersedia fasilitas lengkap dan modern (masjid, gazebo, dll)
  4. Landscape yang tertata dengan baik.
  5. Tata letak makam yang jelas dan teratur.
  6. Jaminan penggunaan makam dan perawatan rumput selamanya.
  7. Satu makam untuk satu orang.
  8. Persepsi umum terkesan damai dan sejuk.

Visi dan Misi

Visi

Menjadi pemakaman muslim sesuai syariah di tengah hijaunya taman.

Misi

  • Merealisasikan program Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar.
  • Membantu pemerintah daerah dalam menyediakan pemakaman muslim.
  • Membangun area pemakaman muslim yang aman, nyaman, tertata, asri, dan terawat.

Komitmen

  • Amanah – Menjaga kepercayaan umat dalam menerapkan pemakaman sesuai syariat Islam dengan konsisten dan sebaik-baiknya.
  • Syiar – Mengajak peziarah untuk mengingat akhirat sekaligus dengan memandang indahnya taman, mengajak peziarah untuk mengingat kebesaran Allaah SWT yang telah menciptakan alam dengan sempurna.
  • Maslahat – Keberadaan Al Azhar Memorial Garden membawa maslahat bagi penduduk sekitar, antara lain: membuka lapangan kerja dan menambah nafkah penduduk setempat, perbaikan jalan menuju dan dari Al Azhar Memorial Garden, menggerakkan ekonomi setempat, meramaikan kegiatan keagamaan di Masjid Al Azhar Memorial Garden, dan menghidupkan kawasan Teluk Jambe di mana Al Azhar Memorial Garden berada.

Layanan

Di samping itu, untuk memudahkan masyarakat muslim dalam menyelenggarakan prosesi pemakaman, kami juga menyediakan layanan lengkap seperti pemulasaran jenazah, penyediaan batu nisan, penyediaan ambulans, dll.

pemakaman muslim al azhar memorial garden karawang 12
pemakaman muslim al azhar memorial garden karawang

Layanan Pemulasaran:

Kami memberikan layanan pemulasaran di rumah duka, mulai dari memandikan, mengkafani, menunaikan salat jenazah, sampai dengan memberangkatkan jenazah menuju lokasi  Al-Azhar Memorial Garden.

Layanan di Pemakaman

Kami memberikan layanan di lokasi pemakaman, mulai dari penjemputan di gerbang Tol Karawang Timur sampai dengan pelaksanaan prosesi pemakaman yang khidmat dan sesuai syariah.

Rincian layanan di pemakaman adalah sebagai berikut:

  • Jasa gali/tutup lubang
  • Pendamping prosesi pemakaman (Doa)
  • Dokumentasi video
  • 1 tenda uk. 4 x 6 meter
  • 30 buah kursi lipat
  • Tangga turun ke liang kubur
  • Panggung (jika diperlukan) + karpet
  • Sound System dan MC
  • 1 buah podium
  • 2 dus air mineral
  • 1 buah spanduk turut berduka cita
  • nisan sementara
  • papan ari
  • 1 unit mobil Al-Azhar yang menjemput di gerbang Tol Karawang Timur

Layanan Pemeliharaan Rumput

Kami memberikan layanan pemeliharaan rumput sepanjang masa—mulai dari pemotongan rumput, pembersihan, hingga penyiraman yang dilakukan secara rutin—sehingga Anda bisa berziarah kapan pun dengan nyaman.

Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 10
Pemakaman Islam Al Azhar Karawang

Kesimpulan: Al-Azhar Memorial Garden Hadir Sebagai Solusi

Al-Azhar Memorial Garden hadir sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, masyarakat muslim, dan masyarakat sekitar.

Apa saja solusi dan manfaat yang diberikan oleh Al-Azhar Memorial Garden? Berikut ini di antaranya:

  1. Menjadi solusi atas permasalahan semakin minimnya ketersediaan lahan makam di Jabodetabek dan sekitarnya.
  2. Menjadi solusi bagi individu muslim yang ingin menyediakan pemakaman yang sesuai syariat Islam, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya.
  3. Menjadi solusi bagi penduduk sekitar yang membutuhkan lapangan pekerjaan dan nafkah tambahan.
  4. Membantu pemerintah daerah dalam melakukan perbaikan jalan dari dan menuju lokasi Al-Azhar Memorial Garden.
  5. Memberikan kesempatan kepada umat untuk berpartisipasi dalam program wakaf makam Al-Azhar Memorial Garden untuk kaum duafa.
Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 3
Pembagian Sembaoko kepada Penduduk Sekitar Pemakaman Islam Al Azhar Karawang

Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Islam )

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Sebelum dimakamkan di pemakaman muslim, jenazah orang Islam wajib dimandikan dan dishalatkan terlebih dahulu (hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifâyah).

Sama seperti kewajiban lainnya dalam Islam, memandikan jenazah ada syarat dan tata caranya.

Apa syarat dan tata cara memandikan jenazah menurut Islam? Berikut pembahasannya.

Syarat Jenazah yang Wajib Dimandikan Menurut Islam

  1. Jenazah muslim atau muslimah.
  2. Ada tubuhnya.
  3. Bukan mati syahid.
  4. Bukan bayi yang meninggal karena keguguran.

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

  1. Muslim.
  2. Berakal.
  3. Balig.
  4. Berniat memandikan jenazah.
  5. Jujur dan saleh.
  6. Terpercaya, amanah, mengetahui hukum memandikan jenazah, dan mampu menutupi aib si jenazah.

Orang yang Berhak Memandikan Jenazah

Adapun orang yang berhak memandikan jenazah adalah sebagai berikut:

Orang yang paling utama untuk memandikan dan mengkafani jenazah laki-laki adalah orang yang diwasiatkan oleh si jenazah semasa hidupnya, kemudian ayah, kakek, keluarga terdekat, mahramnya, dan istrinya.

Apabila dari pihak keluarga tidak ada yang bisa memandikannya, maka boleh diwakili oleh orang laki-laki lain yang bisa memandikannya.

Orang yang paling utama untuk memandikan dan mengkafani jenazah perempuan adalah ibunya, neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita, dan suaminya.

Apabila dari pihak keluarga tidak ada yang mampu untuk memandikannya, maka boleh diwakili oleh perempuan lain yang mampu dan biasa memandikan jenazah.

Untuk jenazah anak laki-laki boleh perempuan yang memandikannya, dan sebaliknya untuk jenazah anak perempuan boleh laki-laki yang memandikanya.

Jika seorang perempuan dewasa meninggal, sedangkan yang masih hidup semuanya hanya laki-laki, dan dia tidak mempunyai suami, atau sebaliknya seorang laki-laki meninggal sementara yang masih hidup hanya perempuan saja dan ia tidak mempunyai istri, maka jenazah tersebut tidak dimandikan, tetapi cukup ditayamumkan.

Cara mentayamumkannya, yaitu seseorang menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah, kemudian mengusapkannya ke bagian wajah dan punggung jenazah.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

“Jika seorang meninggal ditempat laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya, maka kedua mayat itu ditayamumkan, lalu dikuburkan karena kedudukannya sama seperti tidak mendapat air.” (HR Abu Daud dan al-Baihaqi)

Untuk semakin memahami penjelasan tentang siapa saja yang berhak memandikan jenazah, silakan saksikan video penjelasan Ustadz Dr. Khalid Basalamah di bawah ini.

Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Islam

Pertama-tama, siapkan semua peralatan untuk memandikan jenazah. Peralatan-peralatan tersebut antara lain:

  1. Ruang tertutup untuk memandikan jenazah.
  2. Tempat atau alas untuk memandikan jenazah. Usahakan agar tempat atau alas pemandian agak miring ke arah kakinya, tujuannya agar air dan semua yang keluar dari jasadnya bisa mengalir ke bawah dengan mudah.
  3. Air secukupnya.
  4. Sabun, air kapur barus, dan wangi-wangian.
  5. Sarung tangan untuk memandikan.
  6. Potongan atau gulungan kain kecil-kecil.
  7. Kain basahan, handuk, dan lain-lain.

Setelah tempat dan peralatan yang dibutuhkan tersedia, maka tibalah saatnya untuk memandikan jenazah.

Pertama kali yang harus dilakukan oleh petugas ialah melunakkan persendian jasad jenazah terlebih dahulu. Apabila kuku si jenazah panjang, maka hendaknya kukunya tersebut dipotong hingga memiliki ukuran panjang yang normal. Begitu pula dengan bulu ketiaknya. Adapun bulu kelamin, maka jangan dicukur, karena itu merupakan aurat besar.

Setelah itu kepala jenazah diangkat sampai setengah duduk, lalu diurut perutnya dengan perlahan hingga semua kotoran dalam perutnya keluar.

Petugas yang memandikan jenazah hendaknya memakai sarung tangan maupun kain untuk membersihkan qubul dan dubur jenazah tanpa harus melihat maupun menyentuh auratnya.

Setelah jenazah dimandikan, kemudian petugas ‘mewudhui’ jenazah sebagaimana wudhu sebelum sholat. Dalam ‘mewudhui’ jenazah tidak perlu memasukkan air ke dalam hidung dan mulut jenazah, akan tetapi petugas cukup membasahi jari yang dibungkus dengan kain, kemudian jari tersebut digunakan untuk membersihkan bibir jenazah, menggosok gigi dan kedua lubang hidungnya hingga bersih.

Selanjutnya petugas menyela jenggot dan mencuci rambut jenazah menggunakan busa perasan daun bidara, atau dengan menggunakan perasan sabun, kemudian sisa perasan daun bidara tersebut digunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah.

Membasuh Tubuh Jenazah

Saat membasuh jenazah disunnahkan untuk mendahulukan anggota badan sebelah kanan. Pertama membasuh tekuknya yang sebelah kanan, kemudian bahu dan tangan kanannya, kemudian betis, paha dan telapak kaki sebelah kanannya.

Selanjutnya petugas membalikkan tubuhnya dengan posisi miring ke sebelah kiri, kemudian membasuh belahan punggungnya sebelah kanan. Setelah anggota tubuh sebelah kanan telah selesai, kemudian dengan cara yang sama membasuh anggota badan yang sebelah kiri.

Jumlah Bilangan dalam Memandikan Jenazah

Wajib memandikan jenazah sebanyak satu kali. Apabila dilakukan hingga kali maka itu adalah lebih utama (afdhal). Jumlah bilangan dalam memandikan jenazah tergantung pada kotoran yang terdapat pada jenazah.

Pada pembilasan terakhir, air yang digunakan hendaknya dicampur dengan kapur barus terlebih dahulu, agar air tersebut menimbulkan bau harum pada jenazah.

Catatan Penting:

  • Dianjurkan untuk menggunakan air yang sejuk untuk memandikan jenazah. Apabila dibutuhkan air panas untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada jenazah, maka tidak mengapa.
  • Boleh menggunakan sabun dalam menghilangkan kotoran pada jenazah, akan tetapi dilarang untuk mengerik atau menggosok kulit jenazah.
  • Boleh menyiwaki gigi jenazah dan menyisir rambutnya.
  • Setelah semua proses pemandian sudah dilaksanakan, kemudian petugas menghanduki jenazah dengan kain atau semisalnya.
  • Jika jenazah tersebut perempuan, maka rambut kepalanya dipintal atau dipilah menjadi tiga pilahan, kemudiann diletakkan di sebelah belakang punggungnya.
  • Apabila jenazah sudah dimandikan sampai tujuh kali, akan tetapi masih keluar kotoran tinja dan sebagainya, maka hendaklah dibersihkan dengan menggunaka air dan menutupnya dengan kapas. akan tetapi jika keluarnya setelah dikafani, maka cukup dibiarkan saja.
  • Apabila ada orang yang meninggal dalam keadaan mengenakan kain ihram saat haji, maka cara pemandiannya sama seperti yang telah dijelaskan diatas dan ditambah dengan siraman dari perasan daun bidara. Akan tetapi yang membedakan adalah tidak perlu dikasih pewangi dan tidak perlu ditutupi kepalanya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi tentang jenazah yang menunaikan haji.
  • Orang yang meninggal karena peperangan membela agama atau syahid, maka jasadnya tidak perlu dimandikan dan ditunaikan shalat jenazah, melainkan hendaklah dikubur bersama pakaian yang dikenakannya.
  • Janin yang gugur berusia empat bulan, maka wajib diberi nama dan diurus sebagaimana mestinya orang dewasa yang meninggal.
  • Apabila ada halangan dalam memandikan jenazah, misalnya karena tidak ada air atau jenazahnya dalam keadaan tidak utuh, maka cukup ditayamumkan. Cara mentayamumkannya yaitu petugas menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah, kemudian mengusapkannya ke bagian wajah dan punggung jenazah.
  • Hendaknya petugas yang memandikan atau yang mengurus jenazah menutupi semua aib yang ada pada jenazah, baik dari segi fisik maupun kejadian-kejadian yang lain.

Penutup

Demikian tata cara memandikan jenazah menurut Islam.

Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 41 1
Pemakaman Islam Al Azhar Karawang

Menurut Islam Orang Sakit Wajib Melakukan 6 Hal Ini

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Al Azhar Memorial Garden kali ini membahas tentang 6 hal yang harus dilakukan oleh orang sakit menurut Islam. Apa saja keenam hal tersebut?

1. Rela terhadap qadha dan qadar Allah, sabar dan berprasangka baik kepada-Nya.

2. Orang sakit boleh berobat dengan sesuatu yang mubah, dan tidak boleh berobat dengan sesuatu yang haram, atau berobat dengan sesuatu yang merusak akidah seperti datang kepada dukun, tukang sihir, atau ke tempat lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً”.أخرجه البخاري

“Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah turunkan juga obatnya.” (HR al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram.” (Dikeluarkan al-Haitsami dalam kitab Majma’ al-Zawâ’id).

3. Orang sakit, apabila sakitnya bertambah parah, maka ia tidak boleh mengharapkan kematian.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah meminta kematian sebelum datang waktunya. Apabila seorang di antara kalian meninggal, maka terputuslah amalnya.” (HR Muslim)

4. Hendaknya seorang muslim berada di antara khauf (rasa takut) dan raja’ (harap).

Diriwayatkan dari Anas radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mendatangi seorang pemuda yang dalam keadaan sakaratul maut, kemudian beliau bertanya:

“Bagaimana engkau menjumpai dirimu?” Dia menjawab: “Wahai, Rasulullah! Demi Allah, aku hanya berharap kepada Allah, dan aku takut akan dosa-dosaku.” Kemudian Rasulullah bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Tidaklah berkumpul dua hal ini (yaitu khauf dan raja’) di dalam hati seseorang, dalam kondisi seperti ini, kecuali pasti Allah wujudkan harapkannya dan Allah berikan ia rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR al-Tirmidzi)

5. Wajib baginya untuk mengembalikan hak dan harta titipan orang lain, atau dia juga meminta haknya dari orang lain. Kalau tidak memungkinkan, hendaknya memberikan wasiat untuk dilunasi hutangnya, atau dibayarkan kafarah atau zakatnya.

6. Orang sakit hendaknya segera untuk berwasiat sebelum datang tanda-tanda kematian.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidak sepatutnya bagi seorang muslim yang masih memiliki sesuatu yang akan diwasiatkan untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di dekatnya.” (HR al-Bukhari)

Apabila hendak berwasiat yang berkaitan dengan hartanya, maka ia tidak boleh berwasiat lebih banyak dari sepertiga hartanya. Dan hartanya tidak boleh diwasiatkan kepada ahli waris. Tidak diperbolehkan pula untuk merugikan orang lain dengan wasiatnya, dengan tujuan untuk menghalangi bagian dari salah satu ahli waris, atau melebihkan bagian seorang ahli waris daripada yang lain.

Penutup

Demikian 6 hal yang harus dilakukan oleh orang sakit menurut Islam. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 41
Pemakaman Islam Al Azhar Karawang

Pemakaman Islam: Yang Harus Dilakukan Saat Seseorang dalam Keadaan Sakaratul Maut

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sakaratul maut didefinisikan sebagai keadaan saat-saat menjelang kematian.

Islam sebagai agama yang lengkap ajarannya, memberikan kita beberapa tuntunan yang harus dilakukan saat kita menemani orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.

Apa saja tuntunan Islam tersebut?

Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden telah menyusun pembahasannya.

Namun, sebelum membahas hal tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu seperti apa gambaran sakaratul maut menurut Islam.

Gambaran Sakaratul Maut Menurut Islam

Islam memberikan gambaran kepada kita bahwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan. Gambaran ini bisa kita peroleh dari ungkapan Fathimah radhiyâllahu ‘anhâ saat menemani ayahnya menjelang wafat.

Dari Anas radhiyallâhu anhu, ia bercerita:

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: ‘Alangkah berat penderitaanmu wahai ayahku.’ Beliau lalu menjawab, ‘Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.” (HR al-Bukhari)

Gambaran serupa bisa kita lihat dari ungkapan ‘Aisyah radhiyâllahu ‘anhâ:

“Aku tidak iri kepada siapa pun atas kemudahan kematiannya, sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah.” (HR al-Tirmidzi)

Fakta bahwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan bahkan pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam lewat sabdanya:

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR al-Tirmidzi)

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR al-Bukhari)

Yang Harus Dilakukan Saat Menemani Orang yang Menghadapi Sakaratul Maut

Orang yang mengalami sakaratul maut berarti ia sedang mengalami peristiwa yang dahsyat. Dan Islam memberikan kepada kita beberapa tuntunan yang harus kita lakukan saat menemani orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

1. Men-talqîn (menuntun) dengan bacaan Lâ ilâha illallâh.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله

“Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan Lâ ilâha illallâh.” (HR Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya Lâ ilâha illallâh, dia akan masuk surga. (HR al-Bukhari)

Apabila berbicara dengan ucapan yang lain setelah ditalqin, maka diulangi kembali, supaya akhir dari ucapannya di dunia kalimat tauhid.

2. Berdoa untuknya dan tidak berkata kecuali yang baik.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمْ الْمَرِيضَ أَوْ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Apabila kalian mendatangi orang sakit atau orang mati, maka janganlah berkata kecuali yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” (HR Muslim)

Penutup

Demikian yang harus kita lakukan saat menemani orang yang mengalami sakaratul maut menurut Islam. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Pemakaman Islam Al Azhar Karawang 20
Pemakaman Islam Al Azhar Karawang

Tata Cara Shalat Ghaib Sesuai Sunnah Islam

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Shalat ghaib adalah salah satu shalat yang dikenal di dalam ajaran Islam.

Sebagaimana shalat pada umumnya, maka shalat ghaib memiliki ketentuan-ketentuan yang hendaknya diketahui oleh setiap muslim-muslimah.

Apa saja ketentuan-ketentuan yang perlu diketahui tersebut? Berikut pembahasannya.

Pengertian Shalat Ghaib

Shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan ketika jenazah tidak berada di tempat atau ia berada di tempat lain. Demikian pengertian singkat shalat ghaib.

Setelah membahas pengertian shalat ghaib, mari kita membahas tata cara shalat ghaib. Namun, sebelum itu, alangkah baiknya terlebih dahulu kita membahas hukum shalat ghaib menurut Islam.

Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama. Ada ulama yang tidak membolehkan, ada pula ulama yang membolehkan dengan syarat. Berikut penjelasannya.

Dalil Shalat Ghaib

Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pemimpin Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Al-Quran di hadapan beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyaknya para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.

Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib di Madinah. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

“Bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali.” (HR al-Bukhari)

Ulama yang tidak Membolehkan

Di antara ulama yang tidak membolehkan ialah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Alasannya, shalat ghaib yang dilakukan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk An-Najasyi adalah khusus untuk An-Najasyi saja, tidak berlaku umum bagi yang lainnya.

Dalam kata lain, shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafaz dalam riwayat lain hadis ini, “Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, tidak ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa nabi melakukan shalat ghaib kepada selain An-Najasyi. Hal tersebut menunjukkan bahwa shalat ghaib yang dilakukan nabi untuk An-Najasyi merupakan amalan yang dikhususkan untuk nabi saja.

Ulama yang Membolehkan

Di antara ulama yang membolehkan ialah Imam Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu al-Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd. Beliau berpendapat, boleh melakukan shalat ghaib, dengan syarat orang tersebut meninggal di suatu tempat dan belum dishalatkan jenazah untuknya. Kalau jenazah tersebut sudah dishalati, maka tidak perlu dilakukan shalat ghaib lagi, karena kewajiban shalat ghaib telah gugur dengan shalat jenazah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin padanya.

Alasan lainnya, tidaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib kecuali pada An-Najasyi saja. Faktanya, An-Najasyi meninggal dunia di tengah-tengah orang musyrik sehingga tidak ada yang menshalatinya. Seandainya ia meninggal dunia di tengah-tengah kaum muslimin, niscaya akan ada yang menshalatkan jenazah untuknya, dan tentu tidak akan ada shalat ghaib. Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyolati An-Najasyi di Madinah, sedangkan An-Najasyi sendiri berada di Habasyah (Ethiopia).

Alasan lain, ketika para pembesar dan pemimpin umat ini meninggal dunia di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam–padahal mereka berada di tempat yang jauh–tidak diketahui bahwa mereka dishalati dengan shalat ghaib.

Pendapat Lain dalam Masalah Ini?

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan dilaksanakannya shalat ghaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun, bagi orang yang tidak seperti itu tidak perlu dilaksanakan shalat ghaib.

Kesimpulan Mengenai Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama yang mumpuni dalam masalah fiqih. Pendapat yang insya Allah lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang membolehkan. Artinya, shalat ghaib boleh dilakukan apabila jenazah yang berada di suatu tempat belum dishalatkan jenazah.

Apabila jenazah sudah dishalatkan jenazah, maka shalat ghaib tidak perlu dilakukan. Juga, ia bisa dilakukan khusus bagi orang-orang yang memiliki peran dalam masalah agama seperti ketika ada seorang ulama besar yang meninggal dunia, sebagaimana penjelasan tambahan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Tata Cara Shalat Ghaib

Tata cara pelaksanaannya sama seperti shalat jenazah, yaitu dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud.

Setelah takbir pertama (takbiratul ihram), yang dibaca adalah surah Al-Fatihah.

Setelah takbir kedua, yang dibaca adalah shalawat atas nabi minimal shalawat pendek “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad”.

Setelah takbir ketiga, yang dibaca adalah doa untuk jenazah. Doa yang dibaca biasanya adalah doa singkat yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuniah dia, berilah dia rahmat, dan sejahterakan dia, serta maafkanlah dia.”

Setelah takbir keempat, salam. Namun, sebelum salam, disunnahkan untuk membaca doa:

  ُاَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَه

“Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

Niat Shalat Ghaib

Di atas adalah penjelasan tentang tata cara shalat ghaib. Sebelum shalat tersebut ditunaikan, orang yang akan menunaikannya harus berniat terlebih dahulu.

Niatnya sebagaimana niat shalat lainnya, yaitu wajib digetarkan dalam hati, dan apabila ingin dilafazkan, maka lafaznya berbunyi:

أُصَلِّي عَلىٰ مَيِّتِ (فلان) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifâyah karena Allah Ta’ala.”

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Apabila kita sebagai makmum ingin ikut menunaikan shalat tapi kita tidak mengetahui identitas jenazahnya secara pasti, maka lafaz niatnya bisa berupa sebagai berikut:

أُصَلِّي عَلىٰ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit yang dishalati oleh imam empat kali takbir fardhu kifâyah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

Demikian penjelasan seputar tata cara shalat ghaib sunnah. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim 1
Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang Taman Pemakaman Muslim

Tata Cara Shalat Jenazah Muslim Sesuai Sunnah Islam

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Tata cara shalat jenazah sesuai sunnah dan doa shalat jenazah penting diketahui oleh umat Islam. Walaupun hukum menyelenggarakan shalat jenazah adalah fardhu kifâyah (wajib dilaksanakan minimal oleh satu orang), tapi setiap individu muslim perlu menguasainya agar muslim yang satu bisa menggantikan muslim yang lain untuk memimpin shalat jenazah secara berjama’ah.

Sebab, berdasarkan fakta di lapangan, terutama di daerah-daerah, sangat sedikit yang menguasai tata cara shalat jenazah dan doa shalat jenazah yang sesuai dengan sunnah.

Nah, bagaimana tata cara shalat jenazah sesuai sunnah?

Al Azhar Memorial Garden telah menyusun pembahasannya.

Berikut penjelasannya.

Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Sunnah

Shalat jenazah berbeda dengan shalat pada umumnya, karena di dalam shalat jenazah tidak ada gerakan rukuk, i’tidâl, dan sujud. Shalat jenazah harus dilakukan sebelum jenazah diantarkan ke pemakaman.

Rukun shalat jenazah meliputi:

  1. Niat.
  2. Melakukan empat kali takbir.
  3. Berdiri (bagi yang mampu).
  4. Membaca surah Al-Fatihah usai takbir pertama.
  5. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam usai takbir kedua.
  6. Membaca doa shalat jenazah usai takbir ketiga.
  7. Mengucapkan salam usai takbir keempat.

Adapun tata cara shalat jenazah sesuai sunnah urutannya adalah sebagai berikut:

  1. Berniat.
  2. Melakukan takbiratul ihram (takbir pertama). Setelah melakukan takbir pertama, tidak perlu membaca istiftah, melainkan langsung membaca basmalah, lalu surah Al-Fatihah.
  3. Setelah membaca surah Al-Fatihah, maka dilanjutkan dengan melakukan takbir kedua yang diikuti dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam semisal shalawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam shalat wajib lima waktu, yaitu Allâhumma shallî ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad.
  4. Setelah itu melakukan takbir yang ketiga dan mendoakan jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.
  5. Setelah itu melakukan takbir keempat. Setelah melakukan takbir keempat, berhentilah sejenak, lalu salam dengan salam yang sempurna ke arah kanan dengan satu kali salam (berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah), atau dua kali salam sebagaimana salat pada umumnya (berdasarkan hadits riwayat al-Baihaqi).

Niat Shalat Jenazah

Niat wajib digetarkan dalam hati. Apabila dilafalkan secara lisan, maka niat shalat jenazah bisa dilafalkan dengan lafaz berikut:

Niat shalat jenazah apabila jenazahnya laki-laki:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذَا الـمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Niat shalat jenazah apabila jenazahnya perempuan:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذِهِ الـمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Doa Shalat Jenazah

Seusai melakukan takbir yang ketiga, kita disunnahkan membaca doa shalat jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.

Apa saja doa shalat jenazah yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih? Berikut di antaranya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, berikanlah ampunan dan rahmat-Mu kepadanya, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburnya, dan cucilah ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah ia dari dosa sebagaimana bersihnya pakaian putih dari noda. Berikanlah ia kediaman yang lebih baik dari pada kediamannya selama di dunia, keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya selama di dunia, dan pasangan yang lebih baik dari pada pasangannya selama di dunia. Perkenankanlah ia untuk memasuki surga-Mu, hindarkanlah ia dari azab kubur dan siksa neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah ia di dalamnya.” (HR Muslim)

Apabila yang dishalatkan itu jenazah perempuan, maka dhamir muzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa shalat jenazah menjadi berbunyi:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهَا فِي قَبْرِهَا، ونَوِّرْ لَهَا فِيهِ

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak kecil laki-laki, maka doa shalat jenazah yang dibaca adalah…

اللّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan, pahala, dan sebagai syafaat yang mustajab untuk kedua orang tuanya.” (HR al-Bukhari)

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهُ فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

“Ya Allah, perberatlah karenanya timbangan kebaikan kedua orang tuanya, perbanyaklah pahala kedua orang tuanya, dan kumpulkanlah dia bersama orang-orang shalih terdahulu dari kalangan orang yang beriman, masukkanlah dia dalam pengasuhan Ibrahim, dan dengan rahmat-Mu, peliharalah dia dari azab api neraka.”

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak perempuan, maka dhamir muzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa menjadi berbunyi:

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا لِوَالِدَيْهَا فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهَا مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهَا أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهَا بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهَا فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهَا بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

Doa shalat jenazah lainnya yang bisa dibaca seusai melafazkan takbir ketiga adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا

“Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup di antara kami, orang-orang yang telah meninggal dunia, orang-orang yang hadir, orang-orang yang tidak hadir, baik anak kecil maupun dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR al-Tirmidzi)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menambahkan:

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيْمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

“Ya Allah, siapa pun di antara kami yang Engkau masih berikan kesempatan hidup, maka hidupkanlah ia dalam keadaan memegang keimanan. Dan siapa pun di antara kami yang Engkau akan wafatkan, maka wafatkanlah ia dalam keadaan beragama Islam. Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya.” (HR Abu Dawud)

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mensalati jenazah dan beliau berdoa:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah tempat peristirahatannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah dia dengan air, es, dan embun sebagaimana Engkau mencuci pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, dan istrinya dengan istri yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari azab kubur dan siksa api neraka.” (HR Muslim)

Catatan Penting Seputar Pelaksanaan Shalat Jenazah

  1. Bacaan dalam salat jenazah tidak dikeraskan, tapi dibaca dengan sirr (tidak keras). Standar tidak keras di sini ialah hanya terdengar oleh diri sendiri saja, sedangkan orang yang di samping kita tidak mendengarnya. Atau dalam kata lain, mulut kita bergerak, tapi tidak keluar suara yang bisa didengar oleh orang lain di samping kita.
  2. Disunnahkan mengangkat tangan pada setiap takbir. Imam Ibnu Hajar berkata, “Terdapat riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya beliau mengangkat tangannya pada seluruh takbir dalam shalat jenazah.” Hal lain yang menunjukkan bahwa mengangkat tangan pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah hukumnya sunnah ialah berdasarkan hadits shahih dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau mengerjakannya. Hadits yang diriwayatkan secara mauqûf ini memiliki hukum marfû’, karena hal seperti ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang sahabat nabi berdasarkan hasil ijtihad pribadi.
  3. Tidak diperbolehkan menunaikan shalat jenazah pada tiga waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat, yaitu ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak, ketika matahari sepenggalah hingga tergelincir, dan ketika matahari condong ke barat hingga terbenam.
  4. Bagi kaum wanita, diperbolehkan untuk menunaikan shalat jenazah secara berjama’ah, dan boleh juga secara sendirian (munfarid). Alasannya, dahulu ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ pernah menyalatkan jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallâhu ‘anhu secara sendirian.
  5. Apabila terkumpul lebih dari satu jenazah dan terdapat mayat laki-laki dan perempuan, maka boleh dishalatkan secara bersamaan. Jenazah lelaki meskipun anak kecil, diletakkan paling dekat dengan imam, sedangkan jenazah wanita diletakkan di arah kiblatnya imam.
  6. Apabila seseorang masbûq setelah imam salam, maka dia meneruskan shalatnya sesuai dengan sifatnya.
  7. Apabila seseorang tertinggal dari shalat jenazah secara berjama’ah, maka dia shalat sendirian selama jenazah belum dikubur. Apabila sudah dikubur, maka dia diperbolehkan menunaikan shalat jenazah di kuburannya.
  8. Shalat jenazah boleh dikerjakan di dalam masjid.
  9. Usai shalat jenazah sebaiknya tidak membaca doa lagi, karena tidak ada riwayat tentangnya. Karena tidak ada riwayat tentangnya, sebagian ulama seperti Syaikh Abu ‘Umar Usamah al-Utaibi bahkan menganggap membaca doa setelah shalat jenazah termasuk perbuatan bid’ah. Oleh karena itu, doa untuk jenazah sebaiknya hanya diucapkan di dalam shalat jenazah saja, yaitu usai melakukan takbir yang ketiga.
  10. Dianjurkan untuk memperbanyak peserta shalat jenazah. Semakin banyak jumlahnya, semakin baik.
tata cara shalat jenazah sesuai sunnah
Source: wikipedia.org

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh kaum muslimin, jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendo’akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafa’at untuknya.” (HR Muslim)

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa’at kepada mereka untuknya.” (HR Muslim)

pemakaman islam al azhar memorial garden karawang 8
Pemakaman Islam Al Azhar Memorial Garden Karawang

Bentuk Kuburan Islam Menurut Syariat Islam

7 May 2020 by no comments Posted in artikel

Di tengah masyarakat masih banyak yang belum memahami seperti apa bentuk kuburan menurut syariat Islam. Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden sudah menyusun sebuah artikel yang membahas hal tersebut. Berikut pembahasannya.

Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

Kuburan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna tanah tempat menguburkan mayat, sinonimnya makam.

Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam.

Seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam?

Jawabnya, bentuknya harus sesuai dengan petunjuk yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

muhammad rasulullah
Source: youtube.com

Hadis-hadis Nabi, baik yang diucapkan oleh Nabi sendiri maupun yang berbentuk kesaksian para Sahabat radhiyallâhu ‘anhum, yang berkaitan dengan bentuk kuburan, jumlahnya sangat banyak, empat di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

Bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.

2. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah melarang menyemen kuburan, duduk di atasnya, dan membangun sesuatu di atasnya.” (HR. Muslim)

3. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

4. Dari Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pada saat lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang shalih diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sungguh aku melarang kalian melakukan hal itu.”

Mengetahui hadis-hadis saja tidak cukup, kita juga perlu merujuk pada penjelasan para ulama agar kita tidak salah dalam memaknai hadis.

Penjelasan Ulama

Dalam kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i berkata:

kitab al-umm
Kitab al-Umm karya Imam Syafii

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

“Saya menyukai agar kuburan tidak diberi bangunan di atasnya dan tidak pula disemen. Sebab, hal semacam ini sama dengan menghias kuburan dan berbangga dengan kuburan. Sementara kematian sama sekali tidak layak untuk itu. Dan saya juga melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar, kuburan mereka tidak disemen.” (al-Umm, juz I, hal. 277)

Imam al-Nawawi, ulama besar dari mazhab Syafi’i, pernah berkata:

أَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ الْقَبْرَ لَا يُرْفَعُ عَلَى الْأَرْضِ رَفْعًا كَثِيرًا وَلَا يُسَنَّمُ بَلْ يُرْفَعُ نَحْوَ شِبْرٍ وَيُسَطَّحُ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ

“Yang sesuai ajaran Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, bahwa kuburan itu tidak ditinggikan dari atas tanah, yang dibolehkan hanyalah meninggikan satu jengkal dan hampir terlihat rata dengan tanah. Inilah pendapat dalam madzbab Syafi’i dan yang sepaham dengannya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, hal. 35).

Imam al-Nawawi di tempat lain juga menegaskan,

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ كَرَاهَةُ تَجْصِيصِ القبر والبناء عيه وَتَحْرِيمُ الْقُعُودُ وَالْمُرَادُ بِالْقُعُودِ الْجُلُوسُ عَلَيْه

“Dilarang memberikan semen pada kuburan, dilarang mendirikan bangunan di atasnya, dan haram pula duduk di atasnya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, hal. 37).

Imam Abu Syuja’ dalam Matan al-Ghâyah wa at-Taqrîb, beliau berkata:

ويسطح القبر ولا يبني عليه ولا يجصص

“Kuburan itu mesti diratakan, kuburan tidak boleh dibangun bangunan di atasnya, dan tidak boleh kuburan diberi semen.” (Mukhtashar Abî Syujâ’, hal. 83)

Adapun mengapa kuburan boleh dinaikan ketinggiannya dari atas permukaan tanah, alasannya bisa kita temukan dalam kitab Kifâyah al-Akhyâr karya Imam Taqiyyuddin Abu Bakr Muhammad al-Hishni al-Husaini al-Dimasyqi.

kifayah al-akhyar
Kitab Kifayah al-Akhyar karya Imam Taqiyuddin

Dalam kitab tersebut, Imam Taqiyuddin berkata, “Kuburan boleh dinaikan satu jengkal saja supaya ia dikenali dan mudah diziarahi, juga agar lebih dihormati oleh para peziarah.” (Kifâyah al-Akhyâr, hal. 214).

Kesimpulan

Berdasarkan hadis nabi dan penjelasan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa bentuk kuburan menurut syariat Islam adalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki liang lahat sebagai tempat diletakkannya jenazah.
  2. Terdapat batu nisan di atas kuburan.
  3. Kuburan ditinggikan sewajarnya untuk memberikan tanda bahwa itu adalah kuburan, bukan jalan umum.
  4. Di atas kuburan tidak terdapat bangunan.
  5. Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat ibadah.
  6. Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat duduk.
pemakaman islam al azhar memorial garden karawang 5
pemakaman islam al azhar memorial garden karawang 5

Lebaran Doa Ziarah Kubur Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Lebaran: Doa Ziarah Kubur Muslim

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar memberikan penjelasan bahwa para peziarah hendaknya mengawali dengan mengucapkan salam kepada ahli kubur sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, serta mendoakan ahli kubur di daerah yang diziarahi dan semua umat Islam. ويُستحب للزائر الإِكثار من قراءة القرآن والذكر، والدعاء لأهل تلك المقبرة وسائر الموتى والمسلمين أجمعين “Kepada para peziarah disunnahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa untuk para ahli kubur, seluruh orang yang telah meninggal dunia, dan umat Islam secara keseluruhan.” Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa semua ayat Al-Qur’an, dzikir, mendoakan terhadap para pendahulu dengan doa yang baik boleh dibaca ketika kita berziarah kubur tak terkecuali makam orang tua. Secara singkat bisa dijelaskan, setelah mengucap salam lalu kita duduk bersila, selanjutnya kita membaca Surat al-Fatihah tiga kali yang pahalanya dihadiahkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para ulama, para ahli kubur dari kalangan umat Islam, khususnya orang tua, guru atau sahabat yang sedang kita ziarahi. Selanjutnya kita membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali, al-Falaq dan an-Nas, lalu Surat Al-Fatihah, awal Surat al-Baqarah, ayat kursi, lalu beberapa bacaan dzikir dan shalawat seperti biasa dibacakan dalam kegiatan tahlil. Sebelumnya juga bisa kita tambah dengan bacaan Surat Yasin.

Intinya dalam berziarah kubur adalah mendoakan para ahli kubur di satu sisi, dan bagi kita ziarah kubur adalah sarana untuk mengingatkan kematian agar kita segera memperbaiki jalan hidup kita. Adapun doa yang kita baca adalah sesuai kemampuan kita.

Sumber:https://islam.nu.or.id/post/read/60735/doa-ziarah-kubur-di-musim-lebaran

Ziarah Kubur Muslim Bacaan Yang Diamalkan

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Ziarah Kubur Muslim Bacaan Yang Diamalkan

ertama, setelah masuk di pintu makam dan membaca doa masuk makam, lalu duduk dengan rapi dan membaca doa tawassul berupa surat al-fatihah. Berikut bacaanya :

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزوَاجِهِ وَاَ وْلاَدِهِ وَذُرِيَّاتِهِ لَهُمُ الْفَاتِحَة

ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاْلأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَاْلعُلَمَاءِ وَاْلمُصَنِّفِيْنَ وَجَمِيْعِ اْلمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اَلْفَاتِحَةْ

ثُمَّ إليَ جَمِيْعِ أَهْلِ اْلقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اَبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادَنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخَنَا مَشَايِخِنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ وَخُصُوْصًا…….اَلْفَاتِحَةْ

*) …….. : sebut nama mayyit

Kedua, setelah selesai membaca tawassulan, bisa dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin, atau surat-surat yang lain.

Ketiga, lalu dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Ikhlas 3x, Surat Al-Falaq 1x, dan Surat An-Nas 1x, surat Al-Fatihah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(١) اللَّهُ الصَّمَدُ(٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

لاَ إِلهَ إِالا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ(١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ(٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ(٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّـاثَـاتِ فِى الْعُقَدِ(٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

لاَ إِلهَ إِلا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ(١) مَلِكِ النَّاسِ(٢) إِلهِ النَّاسِ(٣) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ(٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ(٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(١) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ(٢) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ(٣) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ(٤) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(٥) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّين

Keempat, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Baqarah ayat 1-5

الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(٣) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kelima, dilanjutkan membaca Surat Al-Baqarah ayat 163

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Keenam, dilanjutkan dengan membaca ayat kursi

اللهُ لاَ إِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ. لَهُ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ مَنْ ذَالَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَيُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَلاَ يَؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Ketujuh, dilanjutkan dengan membaca istighfar 7x, shalawat 3 x

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

 أَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Kedelapan, dilanjutkan membaca tahlil (la ilaha illallah) 100x, dengan doa pengantarnya 1x

نَوَيْتُ تَقَرُّباً اِلَى اللهِ. أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ

لاَ إِلهَ إِلا اللهُ

Kesembilan, dilanjutkan membaca tahlil 1x, dan shalawat 3x

لاَ إِلهَ إِلا اللهُ، لاَ إِلهَ إِلا اللهُ, لاَ إِلهَ إِلا اللهُ مُحَمَّدُ الرَّسُوْلُ الله

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد، أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

Kesepuluh, dilanjutkan membaca tasbih 11x

سَبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

Kesebelas, membaca shalawat 3x

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Keduabelas, membaca doa penutup

اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدَالنَّاعِمِيْنَ، حَمْدًايُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ،  يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،

اَللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَاهَلَّلْنَا وَمَاسَبَّحْنَا وَمَااسْتَغْفَرْنَا وَمَاصَلَّيْنَا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً، اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاِلَى جَمِيْعِ اِخْوَانِه مِنَ الْاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَآءِ الْعَالِمِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيِّ ثُمَّ اِلى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اِلَى آبَآءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا مَنِ اجْتَمَعْنَاههُنَا بِسَبَبِه وَلِاَجْلِه،

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُم، اَللهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَاَرِنَاالْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَااجْتِنَابَهُ، اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لَآاِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْفَاتِحَةْ

Artinya : Baca Juga >  Ingin Istri Cepat Hamil, Ini Resep dari Rasulullah SAW

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang mendapat banyak kenikmatan memuji-Nya.

Dengan pujian yang sepadan dan nikmat-Nya dan memungkinkan pertambahannya. Wahai Tuhan kami, pujian hanyalah untuk-Mu, sebagaimana yang layak akan kemuliaan Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.

Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad junjungan kami dan kepada keluarga beliau. Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur’an yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan shalawat kami kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung. Sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami.

Yaitu Nabi Muhammad SAW, juga kepada seluruh kawan-kawan beliau dari kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada’, orang-orang shalih, para sahabat, para tabi’in, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah Tuhan semesta alam, serta para malaikat yang selalu beribadah, khususnya ditujukan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani.

Kemudian kepada seluruh penghuni kubur dari kalangan orang-orang islam laki-laki dan perempuan, orang mukmin laki-laki dan perempuan, dari belahan bumi timur dan barat,
di laut dan di darat, terutama kepada bapak-bapak dan ibu-ibu kami, kakek dan nenek kami, lebih utamakan lagi kepada orang yang menyebabkan kami berkumpul di sini.

Ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, berilah mereka kesejahteraan dan maafkanlah mereka. Ya Allah, turunkanlah rahmat dan ampunan kepada ahli kubur yang selalu mengucapkan “Laailaaha illallaah muhammadur rasuulullaah” (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah)
Ya Allah, tunjukanlah kepada kami kebenaran adalah suatu kebenaran dan anugerahilah kami untuk mengikkutinya dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan adalah suatu kebatilan dan anugerahilah kami untuk menjauhinya. 

Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Maha suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan, dari sifat-sifat yang mereka (musuh-musuhNya) berikan. Keselamatan selalu tertuju kepada Rasul, dan segala puji bagi Allah penguasa alam semesta.

SUmber:https://bangkitmedia.com/ini-bacaan-yang-diamalkan-saat-ziarah-kubur/

Ziarah Kubur Doa dan Dzikir

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Ziarah Kubur Doa dan Dzikir

Pada saat ziarah kubur dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa. Di antara dzikir dan doa yang dibaca sebagai berikut:

Pertama, membaca istighfar tiga kali.

Kedua, membaca surat al-Fatihah.

Ketiga, Membaca surat al-Ikhlas tiga kali.

Keempat, membaca surat al-Falaq.

Kelima, membaca surat al-Nas.

Keenam, melafalkan kalimat tahlil tiga puluh tiga kali.

Ketujuh, membaca doa. Di antara doa yang bisa dibaca pada saat ziarah kubur adalah doa yang sering dibaca saat shalat jenazah:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ

الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Allahummaghfirlahu war hamhu wa ‘aafihii wa’fu anhu, wa akrim nuzuulahu wawassi’ madholahu, waghsilhu bil maa’i watssalji walbaradi, wa naqqihi, minaddzzunubi wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu minad danasi.  Wabdilhu daaran khairan min daarihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa aidzhu min adzabil qabri wa min adzabinnaari wafsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu fihi.

Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, lindungilah dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR. Muslim)

SumbeR:https://islami.co/bacaan-dzikir-dan-doa-saat-ziarah-kubur/

Doa Ziarah Kubur: Adab, Tata Cara

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Pertama : Ketika memasuki areal kuburan mengucapkan salam.

اَلسَّلاَمُعَلَىاَهلِالدِّيَارِمِنَالْمُؤْمِنِيْنَوَالْمُسْلِمِيْنَاَنْتُمْلَنَافَرْطٌوَنَحْنُاِنْشَآءَاللهُبِكُمْلاَحِقُوْنَ Promoted Content

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.

Artinya :

“Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.”

Atau mengucapkan salam seperti yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):

اَلسَّلاَمُعَلَىاَهْلِلاَاِلَهَاِلاَّاللهُمِنْاَهْلِلاَاِلَهَاِلاَّاللهُ،يَااَهْلَلاَاِلَهَاِلاَّبِحَقِّلاَاِلَهَاِلاَّاللهُ

كَيْفَوَجَدْتُمْقَوْلَلاَاِلَهَاِلاَّاللهُمِنْلاَاِلَهَاِلاَّاللهُ،يَالاَاِلَهَاِلاَّاللهُبِحَقِّلاَاِلَهَاِلاَّاللهُاِغْفِـرْلِمَنْ

قَالَلاَاِلَهَاِلاَّاللهُ،وَاحْشَـرْنَافِيزُمْرَةِمَنْقَالَلاَاِلَهَاِلاَّاللهُمُحَمَّدٌرَسُوْلُاللهِعَلِيٌّوَلِيُّاللهِ

Assâlamu ‘alâ ahli lâ ilâha illallâh min ahli lâ ilâha illallâh , ya ahla lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh kayfa wajadtum qawla lâ ilâha illallâh min lâ ilâha illallâh, ya lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh ighfir liman qâla lâ ilâha illallâh, wahsyurnâ fî zumrati man qâla lâ ilâha illallâh Muhammadun Rasûlullâh ‘Aliyyun waliyullâh.

Artinya :

“Salam bagi yang mengucapkan la ilaha illallah dari yang mengucapkan la ilaha illallah, wahai yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah, bagaimana kamu memperoleh kalimah la ilaha illallah dari la ilaha illallah, wahai la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah ampuni orang yang membaca kalimah la ilaha illallah, dan himpunlah kami ke dalam golongan orang yang mengu¬cap¬kan la ilaha illallah Muhammadur rasululullah Aliyyun waliyyullah.”

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:

“Barangsiapa yang memasuki areal kuburan, lalu mengucapkan (salam tersebut), Allah memberinya pahala kebaikan 50 tahun, dan mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya 50 tahun.”

Kedua: Membaca

1. Surat Al-Qadar (7 kali),
2. Surat Al-Fatihah (3 kali),
3. Surat Al-Falaq (3 kali),
4. Surat An-Nas (3 kali),
5. Surat Al-Ikhlash (3 kali),
6. Ayat Kursi (3 kali).

Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar (7 kali) di kuburan seorang mukmin, Allah mengutus malaikat padanya untuk beribadah di dekat kuburannya, dan mencatat bagi si mayit pahala dari ibadah yang dilakukan oleh malaikat itu sehingga Allah memasukkan ia ke surga. Dan dalam membaca surat Al-Qadar disertai surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlash dan Ayat kursi, masing-masing (3 kali).”

Ketiga: Membaca doa berikut ini (3 kali)

اَللَّهُمَّاِنِّياَسْئَلُكَبِحَقِّمُحَمَّدٍوَآلِمُحَمَّدٍاَنْلاَتُعَذِّبَهَذَاالْمَيِّتِ

Allâhumma innî as-aluka bihaqqi Muhammadin wa âli Muhammad an lâ tu’adzdziba hâdzal may¬yit.

Artinya :

“Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad janganlah azab penghuni kubur ini.”

Rasulullah saw bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang membaca doa tersebut (3 kali) di kuburan seorang mayit, kecuali Allah menjauhkan darinya azab hari kiamat.”

Keempat: Meletakkan tangan di kuburannya sambil membaca doa berikut

اَللَّهُمَّارْحَمْغُرْبَتَهُ،وَصِلْوَحْدَتَهُ،وَاَنِسْوَحْشَتَهُ،وَاَمِنْرَوْعَتَهُ،وَاَسْكِنْاِلَيْهِمِنْرَحْمَتِكَيَسْـتَغْنِيبِهَاعَنْرَحْمَةٍمِنْسِوَاكَ،وَاَلْحِقْهُبِمَنْكَانَيَتَوَلاَّهُ

Allâhumarham ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin raw‘atahu, wa askin ilayhi min rahmatika yastaghnî bihâ ‘an rahmatin min siwâka, wa alhiqhu biman kâma yatawallâhu.

Artinya :

“Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak membutuhkan kasih sayang dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.”

Ibnu Thawus mengatakan:

“Jika kamu hendak berziarah ke kuburan orang-orang mukmin, maka hendaknya hari Kamis, jika tidak, maka waktu tertentu yang kamu kehendaki, menghadap ke kiblat sambil meletakkan tangan pada kuburannya dan membaca doa tersebut.”

Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa):

“Bolehkah kami berziarah ke orang-orang yang telah meninggal?”

Beliau menjawab:
“Boleh”.

Kemudian aku bertanya lagi:
“Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka?”

Beliau menjawab:
“Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.”

Aku bertanya lagi:
“Apa yang baca ketika kami berziarah kepada mereka?”

Beliau menjawab:
Bacalah doa ini:

اللَّهُمَّجَافِاْلاَرْضَعَنْجُنُوبِهِمْوَصَاعِدْإِلَيْكَأَرْوَاحَهُمْوَلَقِّهِمْمِنْكَرِضْوَانًاوَأَسْكِنْ

إِلَيْهِمْمِنْرَحْمَتِكَمَاتَصِلُبِهِوَحْدَتَهُمْوَتُونِسُبِهِوَحْشَتَهُمْإِنَّكَعَلَىكُلِّشَيْ‏ءٍقَدِيرٌ

Allâhumma jâfil ardha ‘an junûbihim, wa shâ’id ilayka arwâhahum, wa laqqihim minka ridhwânâ, wa askin ilayhim mir rahmatika mâ tashilu bihi wahdatahum, wa tûnisu bihi wahsyatahum, innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr.

Artinya :

“Ya Allah, luaskan kuburan mereka, muliakan arwah mereka, sampaikan mereka pada ridha-Mu, tenteramkan mereka dengan rahmat-Mu, rahmat yang menyambungkan kesendirian mereka, yang menghibur kesepian mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Doa ziarah kubur, adab ziarah kubur, tata cara ziarah kubur, hukum ziarah kubur, hikmah ziarah kubur, keutamaan ziarah kubur, doa tahlil ziarah kubur, doa ziarah kubur bahasa arab, doa ziarah kubur latin, dll.

Tata Cara Ziarah Kubur

Doa Ziarah Kubur | Sumber : 500px.com

Berikut adalah tata cara atau urutan berziarah kubur yang benar :

1. Membacakan Salam

Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengucapkan salam ketika masuk ke dalam kuburan, “Semoga keselamatan dicurahkan atasmu wahai para penghuni kubur, dari orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam. Dan kami, jika Allah menghendaki, akan menyusulmu. Aku memohon kepada Allah agar memberikan keselamatan kepada kami dan kamu sekalian (dari siksa).” (HR Muslim)

2. Tidak Duduk di atas Kuburan dan Menginjaknya

“Janganlah kalian shalat (memohon) kepada kuburan, dan ja-nganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim).
Hadis diatas menjelaskan agar manusia tidak semena mena pada kuburan seseorang dan tidak meminta sesuatu paa kuburan atau mayit yang sudah dikubur yang mengarahkan pada perbuatan syirik yang jelas diharamkan oleh agama dan merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah.

3. Tidak Thawaf di Kuburan

Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah, Ka’bah).” (AI-Hajj: 29)

Dari ayat tersebut dijelaskan jika thawaf hanya dilakukan di ka’bah dan tidak diperbolehkan dilakukan dikuburan. Thawaf yang dilakukan di kuburan tidak akan bernilai apapun dihadapan Allah.

4. Tidak Membaca Al-Quran di Kuburan

Islam tidak menganjurkan membaca Alquran di kuburan karena tidak sesuai dengan syariat dan tidak shahih. Kuburan hanyalah tempat untuk berziarah dengan mendoakan orang yang sudah mati dan sebagai pengingat akan kematian bagi diri sendiri. Sebagaimana hadis di bawah ini yang mengatakan :

“Janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan berlari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

5. Tidak Memohon Pertolongan atau Bantuan pada Mayit

Allah memerintahkan kepada setiap hambanNya untuk meminta permohonan atau pertolongan langsung kepada Allah yaitu dengan cara berdoa dan beribadah. Bukan kepada selainNya seperti kuburan atau mayat. Karena hal tersebut termasuk dalam perbuatan syirik besar yang amat besar dosannya.

Allah memerintahkan manusia untuk selalu berikhtiat dan bekerja keras diserta berdoa memohon kepada Allah jika sedang berhajat menginginkan sesuatu bukan dengan cara sesajen atau pesugihan dalam kuburan. Karena selain hal tersebut sia-sia juga termasuk hal yang diharamkan dalam islam karena termasuk perbuatan syirik.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Yunus ayat 106 yang artinnya :

“Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.”

Semoga kita dengan berziarah kubur dapat menjadi pengingat akan kematian dan dapat membentengi sekaligus taubat kita dari dosa-dosa yang telah lalu.

Doa ziarah kubur, adab ziarah kubur, tata cara ziarah kubur, hukum ziarah kubur, hikmah ziarah kubur, keutamaan ziarah kubur, doa tahlil ziarah kubur, doa ziarah kubur bahasa arab, doa ziarah kubur latin, dll.

Adab Melakukan Ziarah Kubur

Doa Ziarah Kubur | Sumber : 500px.com

Berikut merupakan adab berziarah kubur bagi umat islam :

1. Memahami Tujuan Utama Berziarah Kubur

Tujuan utama berziarah kubur adalah untuk mengingat pada kematian yang sudah pasti terjadi pada setiap orang agar manusia tidak terlena pada kehidupan dunia yang menyilaukan. Bahwa setiap manusia yang mati jasadnya akan terurai menjadi tanah sama seperti mereka diciptakan sedangkan ruhnya akan dimintai pertanggungjawaban di alam pembalasan.

Kehidupan dunia hanyalah sementara sedangkan yang kekal hanyalah akhirat tempat kita kembali. Oleh karena itu diadakan ritual ziarah kubur yang mempunyai banyak hikmah dan manfaat bagi manusia. Dalam pelaksanaannya ziarah kubur harus sesuai dengan tuntunan agama agar niatnnya tidak melenceng yang akan menimbulkan kemusyrikan.

Dengan ziarah yang benar dan diikuti niat yang benar manusia akan menyadari betapa kecilnya dirinnya dihadapan sang pencipta. Bahwa kuburan adalah rumah masa depan yang suatu saat akan dia tempati.

2. Mengucapkan Salam Ketika Masuk

Ketika masuk area kuburan, Rasulullah mengajari kita untuk mengucapkan salam. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadist sebagai berikut.

“Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan mereka (para shahabat) jika mereka keluar menuju pekuburan agar mengucapkan “Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”

3. Tidak Duduk dan Menginjak Atas Kuburan

“Janganlah kalian shalat (memohon) kepada kuburan, dan ja-nganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim).
Hadis diatas menjelaskan agar manusia tidak semena mena pada kuburan seseorang dan tidak meminta sesuatu paa kuburan atau mayit yang sudah dikubur yang mengarahkan pada perbuatan syirik yang jelas diharamkan oleh agama dan merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah.

4. Mendoakan Mayit

Mendoakan seseorang yang kita ziarahi di dalam kuburan adalah sesuatu yang dianjurkan oleh agama karena berharap si mayat akan diampuni segala dosannya dan kesalahan yang pernah dia lakukan ketika di dunia. Kita dianjurkan mendoakan yang baik-baik terhadap mayat apalagi jika sang mayat adalah keluarga kita sendiri. Maka sudah sewajarnnya kita doakan yang baik dan menyelamatkan mayat tersebut dari siksa.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau mengutus Barirah untuk membuntuti Nabi yang pergi ke Baqi’ Al Gharqad. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di dekat Baqi’, lalu mengangkat tangan beliau untuk mendo’akan mereka. Dan ketika berdo’a, hendaknya tidak menghadap kubur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan. Sedangkan do’a adalah intisari sholat.

5. Tidak Berbicara Kasar atau Hal yang Bathil

Di dalam berziarah kubur kita tidak diperbolehkan berbicara kotor bathil dan kasar tetapi dianjurkan berbicara yang baik dan santun agar tidak menggannggu peziaran lain juga menghormati seluruh orang dan mayat yang berada d kuburan.

6. Tidak diperbolehkan Menangis Meratapi Mayit

Menangis dalam berziarah kubur merupakan hal yang wajar asalkan bukan menangis yang histeris dan berlebihan yang mengakibatkan tidak terkontrolnya diri dan kehilangan pengendalian diri. Menangis sewajarnnya saja sehingga juga tidak mengganggu pengunjung yang sedang berziarah lainnya.

Doa ziarah kubur, adab ziarah kubur, tata cara ziarah kubur, hukum ziarah kubur, hikmah ziarah kubur, keutamaan ziarah kubur, doa tahlil ziarah kubur, doa ziarah kubur bahasa arab, doa ziarah kubur latin, dll.

Hukum Ziarah Kubur dalam Islam

Doa Ziarah Kubur | Sumber : 500px.com

Hukum ziarah kubur dalam islam adalah mubah dengan arti diperbolehkan, jadi tidak wajib jika dikerjakan akan mendapat manfaat akan tetapi jika tidak dikerjakan tidak mendapat dosa. Pelaksanaannya sesuai dengan orangnya masing-masing. Sesuai dengan waktu mereka menyempatkan diri untuk berziarah kubur.

Ziarah kubur jika dilaksanakan akan memperoleh hikmah yang besar yang dapat membuat manusia merasa kecil dihadapan Allah SWT. Karena pada dasarnya kita hanya mengunjungi rumah masa depan semua orang. Kita tidak hanya mendoakan orang yang kita ziarahi tapi juga sebagai pengingat kita akan kematian yang pasti akan datang kapanpun.

Allah menganjurkan untuk berziarah dengan tujuan untuk mengingat akan kematian agar manusia mempersiapkan diri dengan segala amal kebaikan akan tetapi terkadang beberapa manusia ada yang bertindak syirik dalam kuburan seperti pesugihan dan lain-lain. Hal tersebut jelas diharamkan dan syirik merupakan dosa yang tidak diampuni Allah.

Seperti firman Allah dalam surat Al ikhlas ayat 1-4 yang berbunyi :
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”

Doa ziarah kubur, adab ziarah kubur, tata cara ziarah kubur, hukum ziarah kubur, hikmah ziarah kubur, keutamaan ziarah kubur, doa tahlil ziarah kubur, doa ziarah kubur bahasa arab, doa ziarah kubur latin, dll.

Hikmah Ziarah Kubur

Ziarah kubur mempunyai tujuan agar manusia mengingat akan kematian yang sudah pasti terjadi pada dirinnya suatu saat nanti. Disini posisinnya manusia yang berziarah hanyalah menunggu antrian kematian yang datangnya juga tidak dapat diprediksi. Karena kematian merupakan rahasia illahi.

Dengan mengingat kematian manusia diharapkan sadar bahwa dia akan luruh membusuk dalam tanah dan ruhnya akan dimintai pertanggungjawaban di hari pembalasan nanti. Jadi kita bisa mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya berupa amal kebaikan yang akan menolong kita di hari pembalasan.

Dengan berziarah akan membuat manusia tidak terlena dengan fatamorgana kehidupan dunia yang hanya sementara ini. Bagi orang yang beriman berziarah dapat memperkuat dan menambah keimanan dalam hatinnya. Namun bagi orang tertentu justru sebagai ajang kemusyrikan seperti pesugihan atang permintaan pertolongan pada arwah yang jelas jelas sudah tak bernyawa.

SumbeR:https://thegorbalsla.com/doa-ziarah-kubur/

Saat Berziarah Kubur Baca Doa ini

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Saat Berziarah Kubur Baca Doa ini

Ziarah kubur juga dapat menurunkan rasa cinta terhadap kehidupan duniawi. Lalu, apakah doa yang baiknya dibaca ketika berziarah?

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menjelaskan bahwa para peziarah hendaknya mengawali ziarah dengan mengucapkan salam kepada ahli kubur sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Baru selanjutnya memperbanyak bacaan Alquran dan zikir.

Secara singkat, setelah mengucap salam, hendaknya membaca surat Al-Fatihah 3x, surat al-Ikhlas 3x, al-Falak, dan an-Nas, lalu kembali surat Al-Fatihah, awal surat al-Baqarah, ayat kursi, lalu beberapa bacaan zikir dan salawat seperti biasa dibacakan dalam kegiatan tahlil. Sebelumnya juga dapat ditambahkan dengan bacaan surat Yasin.

Sumber:https://www.liputan6.com/ramadan/read/3955530/baca-doa-ini-saat-berziarah-kubur

Adab dan Tata Cara Ziarah Kubur: Doa Ziarah Kubur Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Adab dan Tata Cara Ziarah Kubur: Doa Ziarah Kubur Muslim

1. Berwudu.

Sebelum berziarah kubur, ambillah air dan berwudu. Perkara ini adalah hal yang disunnahkan.

2. Mengucapkan salam kepada ahli kubur.

Jika ingin memasuki area pemakaman, maka ucapkan salam:

Assalamu’alaikum ahlad diyaar minal mukminiina wal musliminn.”

Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari golongan orang beriman, dan orang-orang Islam”.

Kemudian lanjutkan dengan doa, yang bacaannya:

Yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriin. Wa inna insyaa alloohu bikum la laahiquun wa as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyah“.

Artinya: “Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insyaallah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian”

3. Berdoa untuk almarhum dan berzikir dengan posisi menghadap ke kiblat.

Dzikir dengan membaca istighfar sebanyak tiga kali, membaca surat Al Fatihah, membaca surat al Ikhlas tiga kali, membaca surat Al Falaq, membaca surat An Nas, dan membaca tahlil tiga puluh kali.

4. Mengirim doa.

Setelah berdzikir, maka dilanjutkan dengan doa ziarah kubur, bacaannya: 

Audzubillahi minasyaithoonir rojim. Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, hamdan syakiriin, hamdannaa’imin, hamdan yuwaafiini’amahu wayukaafii mazidah, yaa robbanaa lakal hamdu kamaa yanbaghi lijalali wajhika wa’adzimi sultonik, allohumma shoolli wasalim ‘ala muhammad wa’ala alii muhammad.

Allahhumma taqobal wa ausil sawaaaba maa qoro, nahu minal qur’anil ‘adzim, wa maa halalna wa maa sabahna wamastaghfarnaa wamaa sholaina ‘atsayyidina muhammad sollallohu’alaihi wasallam, hadiyatan wasilatan, warohmatan najilatan wa barokatan samilatan ilaa hadoroti habibina wasafi’ina waquroti a’ayuninaa sayyidina wamaulanaa muhammadin sollallohu ‘alaihi wa sallam, wa ila jami’ii ikhwanihi minal anbiyaai walmursaliina wal auliyaai, wassuhadai, wassolihina, wassohabati wattabi’ina wal’ulamail ‘alimina wal mushonnafiinal mukhlisiina wa jami’il mujaa-hidiina fi sabilillahi robbil ‘alaminn, wal malaikatil muqorrobina khusushan ila sayyidina syaih abdul qodir zailanii.

Summa ilaa jami’i ahlil qubur, minal muslimiina wal muslimati, wal mu miniina wal mu minaati, min masaarikil ardhi ila magooribiha barriha wabahriha khusushan ila aabaaina wa ummahaa tiinaa, wa ajdaadina, wanakhussu khusushan manijtam’anaa hahunaa bisababihi waliajlihi.

Allahhummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu wa akrim nujulahu wawasi’ madholahu, waghsilhu bilmai wassalji wal barodi wanaqihi minal khotooya, kama yunaqqo saubul abyadu minaddannasi wa abdilhu, darron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahlihi wa jaujan khoiron min jauzihi wa adhilhul jannata wa ‘aidhu min ‘adzabil qobri wa fitnatihi wa min ‘adzabinnar, allohhumaghfir lihayyina wa mayyitina wa sahhidiina wa ghoniina washogiirona wa kaabirona wadakirona wa ansana, allohumma man ahyaitahu minna fa ahyihi ‘alal islami wa man tawafaitahu minna fatawafahu alal iiman allohumma la tuhrimna azrohu wa laa tudillanaa ba’dahu birohmatikayaa arhamarroohimiin, wal hamdu lillahi robbil ‘aalamiin.”

Artinya:

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah penguasa alam semesta, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang mendapat banyak kenikmatan memujiNya. Dengan pujian yang sepadan dan nikmatNya dan memungkinkan pertambahannya. Wahai Tuhan kami, pujian hanya untuk Mu, sebagaimana yang layak akan kemuliaan Dzat Mu dan keagungan kuasa Mu. Ya Allah limpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga beliau.

Ya Allah terimalah dan sampaikan pahala Al Quran yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan shalawat kami kepada Nabi Muhammad sebagai hadiah yang menjadi penyambung. Sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kamiyaitu Nabi Muhammad SAW, juga kepada seluruh kawan-kawan beliau dari kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada’, orang-orang shalih, para sahabat, para tabi’in, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah Tuhan semesta alam, serta para malaikat yang selalu beribadah, khususnya ditujukan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani.

Kemudian kepada seluruh penghuni kubur dari kalangan orang-orang islam laki-laki dan perempuan, orang mukmin laki-laki dan perempuan, dari belahan bumi timur dan barat, di laut dan di darat, terutama kepada bapak-bapak dan ibu-ibu kami, kakek dan nenek kami, lebih utamakan lagi kepada orang yang menyebabkan kami berkumpul di sini.

Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskan dia. Mulikanlah tempat tinggalnya dan luaskanlah. Muliaknlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air jernih dan sejuk. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan abju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik dari yang ditinggalkannya, serta suami/istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga dan lindungilah dia dari siksa kubur dan fitnahnya serta siksa api neraka. Ya Allah berikanlah ampun bagi kami yang masih hidup, dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil, kami yang dewasa, kami yang pria atau wanita. Ya Allah siapapun yang Egnkau hidupkan dari kami maka hidupkanlah dalam keadaan iman. Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami akan pahal beramal kepadanya. dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggalannya dengan mendapat rahmat Mu Yang Maha Pengasih. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam”

5. Tidak melakukan hal yang dilarang pada saat di kuburan.

Ada beberapa larangan yang tidak diperbolehkan saat berada di pemakaman. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: “Janganlah kalian sholat (berdoa) kepada kuburan dan janganlah kalian duduk di atasnya”.

Kemudian dalam hadits lain disebutkan “Rasulullah SAW melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan mendirikan bangunan di atas kubur”.

Sumber:https://www.brilio.net/creator/tata-cara-ziarah-kubur-sesuai-sunnah-lengkap-dengan-doanya-56228f.html

Doa Ziarah Kubur Muslim Syariah Islam

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Syariah Islam: Doa Ziarah Kubur Muslim

Rasulullah bersabda :

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

Artinya :

“Dulu aku melarangmu melakukan ziarah kubur. Sekarang, lakukanlah ziarah kubur, karena akan mengingatkan kalian terhadap akhirat.” (HR. Muslim).

Rasulullah juga pernah bercerita kepada sahabatnya, dan diriwayatkan oleh Muslim.

Pada suatu waktu beliau meminta ampunan untuk ibunya, tetapi Allah tidak mengizinkan. Lalu, Rasulullah meminta izin untuk menziarahi makam ibunya. Maka diperbolehkan agar selalu ingat dengan kematian.

Jadi, ziarah kubur itu diperbolehkan sepanjang tidak mengundang kesyirikan. Dalam artian hanya boleh berdoa kepada Allah, meminta pengampunan kepada Allah bukan kepada orang yang sudah dikubur tersebut.

Maka jika ketika ziarah kubur malah meminta kepada yang sudah dikubur, maka itu tergolong syirik. Syirik adalah menyekutukan Allah dan merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah.

Allah berfirman dalam Al Quran surah An Nissa ayat 116 :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi ampun terhadap dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan memberi ampun terhadap dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa ayat 116)

Berdasarkan firman Allah diatas, maka jangan sekali-kali melakukan perbuatan syirik (menyekutukan Allah), karena dosa syirik adalah dosa yang tidak akan diberi ampun oleh Allah.

Termasuk juga ketika Anda melakukan ziarah kubur ke makam orang tua, makam keluarga atau ke makam para wali, doakanlah mereka bukan malah meminta kepada yang sudah meninggal.

Doa Ziarah Kubur

Ketika melakukan ziarah kubur dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa.

Simak dzikir dan doa yang dibaca ketika ziarah kubur berikut :

  1. Membaca Salam (1x)
  2. Membaca Istigfar (3x)
  3. Membaca Surah Al Fatihah (1x)
  4. Membaca Surah Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas (3x)
  5. Membaca doa tahlil (33x)
  6. Membaca doa keselamatan atau doa jenazah

Silahkan simak penjelasan tentang bacaan doa ziarah kubur berikut ini.

1. Membaca Salam

Setiap akan keluar rumah pada akhir malam, Rasulullah menyapa penduduk makam dengan salam. Begitu juga ketika Anda akan memasuki makam, dianjurkan mengucapkan salam kepada penduduk makam.

Bacaan salam ketika ke makam sesuai sunnah

Bacaan salam ketika ke makam sesuai sunnah Arab

السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

“Assalamu‘alaìkum dara qaumìn mu’mìnîn wa atakum ma tu‘adun ghadan mu’ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun”

Artinya :

“Assalamuallaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian.”

Bacaan salam ini dapat Anda panjatkan ketika Anda memasuki makam atau ketika Anda akan mulai berdzikir.

2. Membaca Istighfar

Bacaan selanjutnya adalah dengan membaca doa istighfar.

Bacaan Istighfar

Bacaan Istighfar Arab

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

“Astaghfirullah Hal Adzim Alladzi La ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu Wa atubu Ilaihi.”

Artinya :

“Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”

3. Membaca Al Fatihah

Selanjutnya adalah mengirim doa Al Fatihah kepada para keluarga yang sudah meninggal, dan kepada para wali lainnya. Karena semua doa yang baik akan diterima oleh Allah.

Bacaan Al Fatihah

Bacaan Al Fatihah Arab

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم . مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Alhamdu lilla_hi rabbil ‘a_lamin. Ar Rahmaanirrahiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shirraatal musthaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladh-dhaalliin”

Arti Bacaan Al Fatihah

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Lago Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

“Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

4. Membaca Surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas

Bacaan Surah Al Ikhlas

Bacaan Surah Al Ikhlas Arab

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Qul huwallahu ahad, allahu somad, lam yalid wa lam yụlad, wa lam yakul lahụ kufuwan ahad.”

Artinya :

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, (Allah) tidak beranak dan tidak juga diperanakkan, Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”

Bacaan Surah Al Falaq

Bacaan Surah Al Falaq Arab

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Qul auudzu birobbil falaq. Min syarri maa kholaq. Wa min syarri ghoosiqin idzaa waqob. Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqod. Wa min syarri haasidin idzaa hasad.”

Artinya :

“Aku berlindung kepada Allah Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Bacaan Surah An Naas

Bacaan Surah An Naas Arab

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ . مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Qul auudzu birobbinnaas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khonnaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas, minal jinnati wan naas.”

“Aku berlindung kepada Allah (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

5. Membaca Tahlil

Kemudian dilanjutkan dengan membaca doa tahlil atau kalimat tahlil sebanyak 33 kali. Atau anda bisa mengikuti imam yang memimpin tahlil. Simak bacaan tahlil seperti berikut ini.

Bacaan Doa Tahlil

Bacaan Doa Tahlil Arab

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ

“Laailaaha Illallah.”

Artinya :

“Tiada Tuhan selain Allah.”

6. Membaca Doa Jenazah

Terakhir, adalah membaca doa. Silahkan membaca doa jenazah ketika ziarah kubur.

Bacaan Doa Jenazah Arab

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ

الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.”

“Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì.”

Artinya :

“Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.”

“Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR. Muslim).

Atau jika Anda makmum dengan pemimpin tahlil yang ada, silahkan mengaminkan dari doa yang sudah dipanjatkan imam.

Doa ziarah kubur diatas dapat dilakukan sendirian atau bersama-sama yang dipimpin oleh seorang imam. Dengan membaca doa ziarah kubur di makam ini ada beberapa manfaat yang akan Anda dapatkan.

Ziarah kubur sering dilakukan oleh umat muslim ke makam para wali Allah. Baik itu berziarah sendiri atau bersama dengan rombongan. Acara ziarah ke makam wali ini disebut dengan Zaroh.

Mengapa dianjurkan untuk berziarah dan berdoa ziarah kubur?

Manfaat ziarah kubur sangat banyak sekali, silahkan simak poin-poin di bawah ini.

1. Mengingatkan Akan Kematian

Faedah ziarah kubur yang pertama adalah dapat mengingatkan kita akan kematian. Sering kali manusia lupa seolah-olah dia akan hidup selamanya. Maka dari itu dia senantiasa tidak mengingat kematian dan hidup berfoya-foya.

Sering kali juga manusia menyakiti hati orang lain seolah-olah orang tersebut hidup selamanya dan masih punya kesempatan untuk meminta maaf. Tetapi sejatinya, semua orang akan mati dan tidak tahu kapan waktu tersebut datang.

Bisa jadi ketika kita berbuat dosa atau bahkan kebaikan. Sehingga ziarah kubur menjadikan kita selalu ingat bahwa kematian itu nyata adanya dan selalu berusaha baik terhadap sesama dan Allah SWT.

2. Ziarah Kubur Dapat Melembutkan Hati yang Keras

Faedah ziarah kubur yang kedua adalah berguna untuk melembutkan hati yang keras.

Bagaimana bisa, ziarah kubur dapat melembutkan hati yang keras?

Karena ketika ziarah kubur kita ingat akan kenangan, kebaikan dan pengorbanan orang yang diziarahi.

Apalagi itu adalah seorang wali yang perjuangannya luar biasa itu akan melembutkan hati kita karena tidak melulu senang tetapi juga ada air mata.

Air mata bisa melembutkan hati, asalkan masih dalam batas yang wajar dalam artian tidak berlebihan karena akan menyusahkan yang diziarahi dan agar tidak menganggu orang di sekitarnya.

3. Tidak Berorientasi Kepada Dunia Saja

Ketiga, ziarah kubur bisa membuat kita tidak hanya berorientasi kepada dunia saja, tetapi juga ada akhirat yang harus kita capai.

Apalagi jika sebelum berziarah membaca cerita para wali yang hidup dalam kesederhanaan dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk agama Allah.

4. Bermanfaat Bagi Orang yang Berziarah dan yang Diziarahi

Faedah keempat yaitu bahwa doa ziarah kubur yang dilantunkan bisa bermanfaat untuk yang berziarah dan yang menziarahi.

Hal ini karena doa-doa yang dipanjatkan untuk para wali akan sampai kepada Allah. Dan untuk yang mendoakan akan lebih rendah diri ketika mengunjungi makam para wali.

5. Lebih Rendah Hati

Faidah dari ziarah kubur dapat membuat kita rendah hati, mengapa demikian?

Karena mengingatkan kita bahwa sekaya apapun, secantik apapun, seganteng apapun. Peristirahatan terakhirnya tetap sama yaitu tanah, tanpa ada harta sedikitpun yang dibawa.

Hanya berbungkus kain kafan yang semuanya sama, bukan baju mewah. Sehingga ziarah kubur mengingatkan bahwa hendaknya kita tidak boleh mempunyai sifat yang sombong.

Selanjutnya, apa saja yang harus dibaca ketika berziarah kubur ke makam wali, dan bagaimana saja tahap-tahap dan do’anya?

ketika berada di makam para wali, ada aturan, sopan santun atau adab untuk ziarah kubur. Simak adab ziarah kubur pada ulasan berikut.

Adab Ziarah Kubur

Ziarah kubur juga ada adabnya. Adab ini harus Anda lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada yang meninggal atau waliyulloh :

1. Berpakaian yang sopan dan menutup aurat

Sudah seharusnya seseorang yang akan berziarah ke makam para Wali menggunakan pakaian yang sopan dan tertutup hingga menutu aurat.

2. Tidak duduk di makam orang lain

Sebagai wujud penghormatan dan sopan santun bagi peziarah, dianjurkan jangan pernah sesekali duduk di atas makam wali.

3. Tidak membawa makanan dan minuman

Ketika berziarah ke makam para wali dianjurkan tidak membawa makanan dan minuman. Hal ini agar ketika Anda membaca tahlil atau berdoa, Anda tetap khusu’.

4. Tidak bergurau

Silahkan tenang dan khusu’ mengikuti dan menyimak bacaan ziarah kubur. Jangan bergurau saat berdoa di makam wali.

5. Khusyu’ berdoa kepada Allah

Usahakan Anda fokus dan khusu’ ketika membaca doa ziarh kubur atau ketika makmum doa tahlil yang dippimpin oleh imam.

6. Dianjurkan Membawa Bunga dan Air

Dianjurkan untuk sebisa mungkin membawa bunga dan air untuk ditabur atau disiramkan di atas makam para wali.

7. Membersihkan Makam yang Diziarahi

Ketika sampai di makam para wali usahakan membantu membersihkan makamnya terlebih dahulu.

8. Berdoa Dengan Suara yang Pelan

Dianjurkan ketika berziarah ke makam para wali disaat membaca doa ziarah kubur dengan nada dan suara yang lembut dan pelan. Hal ini agar tidak mengganggu peziarah lainnya yang mungkin sudah selesai membaca doa.

9. Tidak Berkata Kotor

Selama berada di maka para wali jagalah omongan Anda. Jangan pernah mengucapkan kata-kata yang kasar dan kotor.

10. Bermuhasabah Diri Ketika Berziarah

Akan lebih baik jika Anda juga bermuhasabah saat berziarah kubur. Perbanyak sedekah untuk pembangunan makam dan biaya untuk kebersihan makam.

Sumber:https://wisatanabawi.com/doa-ziarah-kubur/

Doa Ziarah Kubur Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Doa Ziarah Kubur Muslim

Tujuan utama ziarah kubur ada dua,

Pertama, tujuan yang manfaatnya kembali kepada orang yang berziarah. Bentuknya mengingatkan orang yang berziarah akan kematian dan kehidupan dunia yang fana. Bekal utama mereka adalah iman dan amal soleh.

Tujuan ini yang sering ditekankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الْآخِرَةَ

”Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur mengingatkan kalian akan akhirat.” (HR. Ahmad 1236 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

فَزُورُوَا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكّركُمُ الـمَوتَ

Lakukanlah ziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kalian tentang kematian.” (HR. Ibn Hibban 3169 dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Kedua, tujuan yang manfaatnya kembali kepada mayit

Bentuknya adalah salam dari pengunjung dan doa kebaikan untuk mayit, serta seluruh penghuni kubur lainnya. Orang mati yang sudah tidak mampu menambah amal, dia sangat membutuhkan doa orang yang masih hidup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita doa ketika berziarah kubur. Teks doanya,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIINA WAL MUSLIMIIN. YARHAMULLOOHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA’KHIRIIN.

WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN

WA AS ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH.

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadis ini diajarkan kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang doa yang dibaca pada saat ziarah kubur.

(HR. Ahmad 25855, Muslim 975, Ibnu Hibban 7110, dan yang lainnya).

Bisa juga dengan bacaan yang lebih ringkas,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kuburan. Kemudian beliau berdoa,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

“Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum mukminin. Kami insyaaAllah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim 249).

Tidak Dianjurkan Membaca al-Quran di Kuburan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631).

Imam an-Nawawi (w. 676 H) – salah satu ulama madzhab Syafiiyah – menjelaskan hadis ini, dengan mengatakan,

وَفِيهِ أَنَّ الدُّعَاء يَصِل ثَوَابه إِلَى الْمَيِّت , وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة ….وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن وَجَعْل ثَوَابهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاة عَنْهُ وَنَحْوهمَا فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لا تَلْحَق الْمَيِّت

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa doa akan sampai pahalanya kepada mayit, demikian pula sedekah… sedangkan bacaan al-Quran, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, atau shalat atas nama mayit, atau amal ibadah lainnya, menurut madzhab Imam as-Syafii dan mayoritas ulama, amalan ini tidak bisa diberikan kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 11/85).

Mendoakan Mayit Bisa Dimanapun

Seluruh orang yang telah meninggal, sangat membutuhkan doa baik dari mereka yang hidup, karena mayit tidak lagi mampu beramal.Karena itu, jangan sampai kita memiliki prinsip, hanya mendoakan keluarga yang telah meninggal jika kita ziarah kubur. Padahal, ziarah kubur tidak mungkin bisa sering kita lakukan. Umumnya orang hanya setahun sekali.

Untuk itu, penting dipahami bahwa mendoakan mayit bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Anda tidak perlu bergantung kepada kuburan, ketika hendak mendoakan mayit. Anda bisa doakan keluarga yang telah meninggal, ketika di masjid, seusai shalat tahajud, atau ketika di tempat mustajab pada saat haji atau umrah.

Allah ajarkan prinsip mendoakan saudara kita yang telah meninggal, dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Jika kita renungkan, sejatinya adanya saling mendoakan antara yang hidup dan yang mati, merupakan bagian dari nikmat Allah kepada orang yang beriman. Karena ikatan iman, orang yang masih hidup bisa tetap memberikan doa kepada orang lain, meskipun dia sudah meninggal.

Tidak Boleh Mendoakan Orang Kafir yang Meninggal

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sedih. Sedih bukan karena ditinggal pamannya, tapi sedih karena sang paman mati dalam keadaan musyrik. Pamannya tidak bersedia mengucapkan laa ilaaha illallah.

Karena saking sedihnya, sampai beliau bersumpah untuk memohonkan ampunan bagi pamannya,

وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ

”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang.” (HR. Bukhari 1360 & Muslim 24).

Karena peristiwa ini, Allah menurunkan teguran kepada beliau,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ( ) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. ( ) Sementara permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun. (QS. At-Taubah: 113 – 114).

Nabi Ibrahim pernah mendoakan ayahnya dengan doa ampunan,

سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam: 47)

Sumber:https://konsultasisyariah.com/20865-doa-ziarah-kubur.html

Sholat Jenazah Muslim Laki-Laki dan Perempuan Tata cara bacaan doa niat sholat

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Sholat Jenazah Muslim Laki-Laki dan Perempuan Tata cara bacaan doa niat sholat

Berikut syarat sah dan tata cara sholat jenazah laki-laki dan perempuan yang dikutip dari Kementrian Agama RI Panduan Sholat: Syarat-syarat shalat jenazah :

1. Shalat jenazah sama halnya dengan shalat yang lain, yaitu harus menutup ‘aurat, suci dari hadas besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap qiblat.

2. Mayit sudah dimandikan dan dikafani.

3. Letak mayit sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali kalau shalat dilakukan di atas kubur atau shalat ghaib.

Berdiri tegak sebagaimana akan mengerjakan shalat.

1. Niat Sholat Jenazah

Niat untuk Jenazah Laki-Laki

Tata Cara Sholat Jenazah Laki-Laki dan Perempuan
Tata Cara Sholat Jenazah Laki-Laki dan Perempuan (Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Kemenag))

Artinya :

“Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir fardlu kifayah karena Alllah. Allah Akbar

Niat untuk Jenazah Perempuan

Niat Sholat Jenazah untuk Perempuan
Niat Sholat Jenazah untuk Perempuan (Tribunsumsel.com)

Artinya :

“Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir fardlu kifayah karena Alllah. Allah Akbar”

Setelah takbiratui ihram, yakni setelah mengucapkan “ALLAHU AKBAR” bersamaan dengan niat, sambil meletakkan tangan, kanan diatas tangan kiri diatas perut (sedakep).

Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah (tidak membaca surat yang lain).

2. Takbir yang kedua

Setelah takbir yang kedua, terus membaca shalawat atas Nabi

اَللَٰهُمُّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMADIN.

Artinya ;

“Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad”.

Lebih sempurna bacalah shalawat sbb. :

وعلي أل محمد كما باركت علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMADIN W A ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA ‘ALAA IBRAAHIIMA WA’ALAA AALI IBRAAHIIMA WABAARIK ‘ALAA MUHAMMADIN WA’ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ALAA IBRAAHIIMA WA’ALAA AALI IBRAAHIIMA FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMHDUM MAJHDUN.

Artinya :

“Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi dan atas keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan timpanilah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. Di seluruh alam ini Tuhanlah yang terpuji Yang Maha Mulia”.

3. Takbir yang Ketiga

Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca do’a sekurang – kurangnya sbb. :

للّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (لَهَا) وَارْحَمْهُ (هَا) وَعَافِهِ (هَا) وَاعْفُ عَنْهُ (هَا

ALLAAHUMMAGHFIR LAHUU WARHAMHU WA’AAFIHI WA’FU ‘ANHU.

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia”.

Lebih sempurna membaca doa sebagai berikut:



وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار

ALLAAHUMMAGHFIR LAHU (LAHAA) WARHAMHU (HA) WA’AAFIHI (HA) WA’FU ‘ANHU (HA) WAKRIM NUZUULAHU (HA) WAWASSI’ MADKHALAHU (HA) WAGHSILHU (HA) BIL MAA I WATS TSALJI WALBARADI WANAQQIHI (HA) MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAOOATS TSAUBUL ABYADLU MINAD DANASI WABDILHU (HA) DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHH (HA) WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI (HA) WAZA UJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI (HA) WAQIHI (HA) FIT NATAL OABRI WA’ADZAABAN NAARI

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik dari pada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah (hindarkanlah) ia dari siksa kubur, dan adzab api neraka”.

Keterangan: jika jenazah perempuan lafazh lahu menjadi laha dan seterusnya.

Jika mayit anak anak do’anya sbb :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ

ALLAAHUMMAJ’ALHU FARATHAN LI ABAWAIHI WA SALAFAN WADZUKHRAN WATZHATAN WATIBAARAN WASYAFIIAN WATSAQQIL BIHI MAWAAZIINAHUMAA WAFRIGHISHSHABRA ALA A QULUUBIHIMAA WALAA TAFTINHUMAA BA’DAHU WALAA TAHRIMNAA AJ RAHU.

Artinya :

“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa ‘at bagi orang tuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu bapanya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu-bapaaya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepenmggalkannya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya”.

4. Takbir yang keempat.

Selesai takbir keempat, membaca do’a sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَناَ وَلَهُ

“Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu.”

Artinya :

“Ya Allah, janganlah kiranya, pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau meluputkan kami – fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia”.

Lebih sempurna dan lengkap membaca do’a sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلَاِ خْوَا نِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَااِنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْمٌ

“Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’da – hu waghfir lanaa walahu wali ikhwaaninal ladziina saba- quuna bil iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillan lil- ladziina aamanuu rabbanaa innaka ra’uu fur rahiimun.”

Artinya :

“Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah – Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi – saudar –saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau men – jadikan unek – unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang–orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

5. Salam

Kemudian (selesai) memberi salam sambil memalingkan muka – ke kanan ke kiri dengan ucapan sebagai berikut

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْتُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.”

Artinya :

”Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian”.


Sumber:https://sumsel.tribunnews.com/2020/02/18/sholat-jenazah-tata-cara-bacaan-doa-niat-sholat-jenazah-laki-laki-dan-perempuan?page=4

Bacaan Tata Cara Sholat Jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Tata Cara Bacaan Sholat Jenazah Muslim

Rukun Salat Jenazah

  1. Niat
  2. Empat kali takbir
  3. Berdiri bagi yang mampu
  4. Membaca Al-Fatihah
  5. Membaca shalawat Nabi Muhammad setelah takbir kedua
  6. Doa terhadap jenazah setelah takbir ketiga
  7. Salam

Salat Jenazah tidak dilakukan dengan rukuk dan sujud, serta tidak adanya adzan dan iqamah. Dalam sebuah hadis, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam MusliM, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth. Ada yang bertanya, Apa yang dimaksud dua qiroth? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lantas menjawab, Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (Muttafaqun alaih)

Bacaan Tata Cara Salat Jenazah

1. Membaca Niat


Bacaan Niat Jenazah Laki-Laki


USHOLLI ‘ALAA HAADZIHIL MAYYITI ARBA’A TAKBIRATATIN FARDHOL KIFAYAATAI IMAAMAN / MA’MUUMAN LILLAHI TA’AALA

Artinya: Saya niat salat atas mayit laki-laki ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai imam / makmum karena Allah Taala

Bacaan Niat Jenazah Perempuan

USHOLLI ‘ALAA HAADZIHIL MAYYITATI ARBA’A TAKBIRATATIN FARDHOL KIFAYAATAI IMAAMAN / MA’MUUMAN LILLAHI TA’AALA


Artinya: Saya niat salat atas mayit perempuan ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai imam / makmum karena Allah Taala 3 dari 14 halaman

2. Takbiratul Ihram (takbir pertama)

Mengangkat kedua tangan sambil berucap “Allahu Akbar” dan dalam hati membaca niat salat jenazah. Dilanjutkan membaca surat Al-Fatihah, tanpa surat pendek Al-Quran.

BISMILLAHIR RAHMAA NIRRAHIIM. ALHAMDU LILLA HI RABBIL ‘ALAMIN. AR RAHMAANIRRAHIIM. MAALIKI YAUMIDDIIN. IYYAAKA NA’BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN. IHDINASH SHIRRAATAL MUSTHAQIIM. SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDUUBI ‘ALAIHIM WALADH-DHAALLIIN.

Artinya : “Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang. Segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam, yang maha pengasih, maha penyayang, pemilik hari pembalasan. Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

3. Takbir kedua

Membaca shalawat Nabi : ALLAHUMA SHALLI ALAA MUHAMMAD
Artinya : Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad

Lebih sempurna lagi, bila dibaca dengan lengkap :
Membaca sholawat Nabi,

ALLOHUMMA SHOLLI ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ALAA ALI SAYYIDINAA MUHAMMAD, KAMAA SHOOLAITA ALAA SAYYIDINA IBROHIM WA ALAA ALI SAYYIDINA IBROHIM, WA BAARIK ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ALAA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD, KAMA BARAKTA ALAA SAYYIDINA IBROHIM WA ALAA ALI SAYYIDINA IBROHIM, FIL ALAAMIINAA INNAKA HAMIIDUM MAJIID

Artinya :

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. Ya Allah, limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad beserta keluarganya, sebagaimana Engkau telah beri berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, Bahwasanya Engkau Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia di seluruh alam.

4. Takbir Ketiga

Membacakan doa untuk jenazah laki-laki :

ALLAAHUMMAGHFIR LA-HU WARHAM-HU WA’AFI-HI WA’FU AN-HU, (doa versi pendek yang mudah dihapal). Lanjutkan kalimat doa berikut :

WA AKRIM NUZUULA-HU, WAWASSI’ MADKHOLA-HU, WAGHSIL-HU BIL MAA-I WATS TSALJI WAL-BARADI, WANAQQI-HI MINAL KHATHAYAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYAD-HU MINAL DANASI, WA ABDIL-HU DAARAN KHAIRAN MIN DAARI-HI, WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLI-HI, WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAU-JI-HI, WAQI-HI FITNATAL QABRI WA’ADZABAN NAARI

Artinya :

Ya Allah, ampunilah dia (laki-laki) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya di dunia, berilah keluarga (atau istri di surga) yang lebih baik daripada istrinya di dunia, dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.

Takbir Ketiga, Doa Jenazah Perempuan :

ALLAAHUMMAGHFIR LA-HAA WARHAM-HAA WAAFI-HAA WAFU AN-HAA” (doa versi pendek yang mudah dihapal). Lanjutkan kalimat doa berikut :

WA AKRIM NUZUULA-HAA, WAWASSI MADKHOLA-HAA, WAGHSIL-HAA BIL MAA-I WATS TSALJI WAL-BARADI, WANAQQI-HAA MINAL KHATHAYAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYAD-HAA MINAL DANASI, WA ABDIL-HAA DAARAN KHAIRAN MIN DAARI-HAA, WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLI-HAA, WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAU-JI-HAA, WAQI-HAA FITNATAL QABRI WAADZABAN NAARI

Artinya :

“Ya Allah, ampunilah dia berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau suami di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), suami yang lebih baik daripada suaminya, dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.

Takbir Ketiga : Bacaan Doa Jenazah Anak Kecil

ALLAHUMAJALHU FARATHAN LI ABAWAIHI WA SALAFAN WA DZUKHRAN WA IZHATAN WA TIBAARAN WA SYAFIIAN WA TSAQILUUBIHIMAA WA LAA TAFTUNHUMAA BADAHU WA LAA TAHRIMHUMAA AJRAHU

Artinya : Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafaat bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu bapaknya karena, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada kedua orangtuanya.

5. Takbir keempat

Membaca doa, untuk jenazah laki-laki

ALLAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRO-HU WALAA TAFTINAA BA’DA-HU WAGHFIR LANAA WA LA-HU” (doa versi pendek yang mudah dihapal)

WA LI IKHWANINA LADZINA SABAQQUUNA BIL IMAANI WA LA TAJ’AL FI QULUUBINA GILAL LILADZINA AMANUU ROBBANA INNAKA ROUUFUR ROHIIM

Jenazah perempuan :

ALLAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRO-HAA WALAA TAFTINAA BADA-HAA WAGHFIR LANAA WA LA-HAA (doa versi pendek yang mudah dihapal)

WA LI IKHWANINA LADZINA SABAQUUNA BIL IMAANI WA LA TAJAL FI QULUUBINA GILLAL LILLADZINA AMANUU ROBBANA INNAKA ROUUFUR ROHIIM

Artinya :

Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya serta ampunilah kami dan dia, dan juga bagi saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Lebih sempurna lagi jika doanya dibacakan keseluruhan. Menggabungkan kedua kalimat doa di atas.

6. Salam

Memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil mengucap salam : ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKAATUH

Artinya : Keselamatan dan Rahmat Allah Semoga tetap kepada Kamu sekalian

Doa Sesudah Salat Jenazah

Ada dua kalimat doa sesudah salat jenazah yang dapat dipanjatkan untuk mayit, Anda bisa memilih salah satu.

Pertama


Bismillahhir-rahmaanir-rahiim

ALLAHUMMAGHFIRLI HAYYINA WA MAYYITINA WA SHAHIDINA WA GHAIBINA WA DHAKARINA WA UNTHANA WA SAGHIRINA WA KABIRINA. ALLAHUMMA, MAN AHYAYTAHU MINNA FA AHYIHI ALAL ISLAM WA MAN TAWAFFAYTAHU MINNA FA TAWAFFAHU ALAL IMAN WA KHUSSA HADHAL MAYYITA BIRRAWHI WARRAHATI WAL MAGHFIRATI WARRIDWAN. ALLAHUMMA IN KANA MUHSINAN FAZID FI IHSANIHI WA IN KANA MUSIAN FATAJAWAZ ANHU WA LAQQIHIL AMNA WAL BUSHRA WAL KARAMATA WAZZULFA BIRAHMATIKA YA ARHAMARRAHIMIN.

Artinya :

Ya Allah ampunilah di antara kami orang yang masih hidup dan yang mati, yang hadir dan yang tidak, yang kecil dan besar, laki-laki dan perempuan. Ya Allah, siapa pun di antara kami yang masih Engkau anugerahkan kehidupan, hidupkanlah ia atas Islam, dan orang yang Engkau wafatkan di antara kami, wafatkankan ia atas iman. Ya Allah, janganlah Engkau jauhkan kami dari pahalanya dan jangan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya. (HR. Muslim dan empat imam), Kitab Bulughul Maram.

Kedua

“Bismillahhir-rahmaanir-rahiim”

ALLOHUMMA SHOLLI ALAA SAYYIDINAA MUHAMMA WA ALAA ALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. ALLAHUMA BI HAQQIL-FAATIHAH. ITIQ RIQAABAANAA WA RIQAABA HAADZAL-MAYYITI (jenazah laki-laki) / HAADZIHIL MAYYITATI (jenazah perempuan) MINAN-NAAR ( 3 X ).

ALLAHUMA ANZILIR-RAHMATA WAL MAGHFIRATA ALAA HAADZAL MAYYITI (jenazah laki-laki) / HAADZIHIL MAYYITATI (jenazah perempuan) WAJAL QABRAHU (HAA)

RAUDHATAN MINAL-JANNAH. WA LAA TAJALHULAHU (LAHAA) HUFRATAN MINAN-NIIRAAN. WA SHALLALLAHU ALAA KHAIRI KHALQIHI SAYYIDINA MUHAMMADIN WA AALIHI WA SHAHBIHI AJMAIINA WAL-HAMDULILLAHI RABBIL-AALAMIIN.

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat al-Fatihah, bebaskanlah dosa kami dan dosa mayit ini dari siksaan api neraka. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampunan kepada mayit ini. Dan jadikanlah tempat kuburnya taman nyaman dari surge dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulianya makhluk-Nya, yaitu junjungan kami Nabi Muhamamad dan keluarganya, serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Penjelasan doa : ganti menjadi akhiran HUU untuk jenazah laki-laki, serta akhiran HAA untuk jenazah perempuan.
Doa ini dibacakan seusai salat Jenazah dan salat Gaib. 11 dari 14 halaman

Tata Cara Salat Jenazah Laki-Laki


Tata cara salat jenazah laki-laki memiliki perbedaaan dengan prosesi menyalatkan jenazah perempuan. Posisi imam berada sejajar dengan kepala sang jenazah.

Berdasarkan yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Nafi bin Abi Gholib Al-Khoyyat berkata :

Saya menyaksian Anas bin Malik mensalati jenazah laki-laki dan beliau berdiri searah dengan kepalanya (HR. Ahmad no. 12701, Dawud no. 3141).
Sebaiknya salat jenazah dilakukan di masjid, namun jika terlalu jauh bisa ditunaikan di mushola terdekat. Bagi yang tertinggal salat jenazah, dapat melakukannya setelah dimakamkan. Bila ternyata jenazah sudah dimakamkan namun belum disalatkan, bisa dilakukan di dekat kuburnya.

Tata Cara Salat Jenazah Perempuan



Tata cara salat jenazah perempuan, posisi imam berada sejajar dengan bagian perut atau tali pusar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Samurah bin jundub radhiallahuanhu, berkata :
Saya salat di belakang Nabi sallallahualaihi wa sallam terhadap wanita yang meninggal karena nifasnya, kemudian beliau berdiri di tengahnya. (HR. Bukhori, 1331 dan Muslim, 964).

Paling Berhak Mengurus Jenazah

  1. Orang yang diwasiyatkan, dengan syarat, orang yang diwasiatkan bukan orang fasik atau ahli bidah.
  2. Ulama atau pemimpin agama
  3. Orang tua dari jenazah tersebut
  4. Anak-anak si jenazah ke bawah
  5. Keluarga terdekat
  6. Kaum Muslimin

Syarat Salat Jenazah

  1. Salat jenazah sama dengan salat lain, yakni menutup aurat, suci dari hadats besar dan kecil, suci badan, pakaian, dan tempatnya, serta menghadap kiblat.
  2. Jenazah sudah dimandikan dan dikafani.
  3. Letak jenazah berada di sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali kalau salat dilakukan di dekat makamnya atau salat Gaib.

Sumber:https://www.merdeka.com/trending/bacaan-tata-cara-salat-jenazah-laki-laki-dan-perempuan-mudah-dihapal-kln.html

Tata Cara Sholat Jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Tata Cara Sholat Jenazah Muslim Lengkap Pria dan Wanita

1. Tata Cara Sholat Jenazah

Selain hukumnya, ada hal lain yang layak jadi perhatian dalam melakukan sholat jenazah, yaitu tata cara sholat jenazah. Sebab, cara melakukan sholat jenazah berbeda dengan saat melakukan sholat fardhu atau sholat sunah lainnya. Pada sholat jenazah tidak terdapat gerakan rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sebagainya.

Bahkan, dalam melakukan sholat jenazah bagi jenazah laki-laki dan jenazah perempuan, tata caranya juga berbeda. Tidak hanya tata cara, melainkan juga pada bacaannya pun berbeda.

Namun, sama halnya sholat dan ibadah lainnya, sholat jenazah juga mempunyai rukun-rukun yang harus dikerjakan agar sholat jenazah yang dilakukan sah. Berikut rukun dalam sholat jenazah.

1. Membaca niat

2. Berdiri tegak (bagi yang mampu)

3. Mengumandangkan takbir sebanyak empat kali takbir

4. Mengangkat tangan pada saat takbir pertama (takbiratul ikhram)

5. Membaca surah Al Fatihah

6. Membaca sholawat Nabi

7. Membaca doa untuk jenazah

8. Salam

Rukun-rukun tersebut harus dilakukan secara urut saat mendirikan sholat jenazah.

2. Tata Cara Sholat Jenazah untuk Jenazah Laki-Laki

(credit: pixabay) Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat perbedaan antara tata acara sholat jenazah untuk jenazah laki-laki dan jenazah perempuan. Perbedaan pertama, pada pelaksanaan sholat jenazah untuk jenazah laki-laki, imam sholat jenazah berada sejajar di kepala jenazah.

Selain itu, hal lain yang membedakan sholat jenazah laki-laki dan perempuan terletak pada tata cara dan bacaan niat dan doanya. Berikut tata cara dan bacaan niat sholat jenazah laki-laki.

1. Membaca Niat untuk Sholat Jenazah Laki-laki

Usholli ‘alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Yang Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

2. Membaca takbir pertama, dilanjutkan membaca al fatihah

3. Membaca takbir kedua, dilanjutkan sholawat:

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa sholaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamiidun majiid. wa baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Fil aalamiina Innaka hamidun majiid.

4. Membaca takbir ketiga, dilanjut membaca doa untuk jenazah laki-laki:

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu

5. Membaca takbir keempat, dilanjut membaca doa kedua:

Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu

6. Melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri dalam posisi tetap berdiri.

3. Tata Cara Sholat Jenazah Perempuan

(credit: pixabay) Untuk tata cara sholat jenazah perempuan, imam sholat jenazah berada sejajar dengan tali pusar jenazah. Sementara untuk tata cara dilakukan sama dengan saat melakukan sholat jenazah untuk jenazah laki-laki. Namun, bacaan niat serta doanya berbeda.

Berikut tata cara dan bacaan sholat jenazah perempuan:

1. Membaca Niat untuk Sholat Jenazah Perempuan

Usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Yang Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

2. Membaca takbir pertama, dilanjutkan membaca al fatihah

3. Membaca takbir kedua, dilanjutkan sholawat:

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa sholaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamiidun majiid. wa baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Fil aalamiina Innaka hamidun majiid.

4. Membaca takbir ketiga, dilanjut membaca doa untuk jenazah perempuan:

Allahummagh firlahaa waa warhamhaa wa’aafihaa wa’fuanhaa.

5. Membaca takbir keempat, dilanjut membaca doa kedua:

Allahumma la tahrim naa ajrahaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa.

6. Melakukan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri dalam posisi tetap berdiri.

Sumber:https://plus.kapanlagi.com/tata-cara-sholat-jenazah-lengkap-untuk-laki-laki-dan-perempuan-963118.html

Sholat Jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Sholat Jenazah Muslim

Bagi umat Islam yang ada saudaranya meninggal dunia mereka berkewajiban mengurus jenazahnya. Hukum mengurus jenazah adalah fardhu kifayah.

Hukum dari fardhu kifayah artinya bila diantara mereka umat Islam ada yang mengurus dengan baik. Mulai dari memandikan, mensholatkan sampai dengan mengubur. Maka umat islam yang tidak ikut sudah tidak berkewajiban dan tidak berdosa.

Namun apabila diantara mereka tidak ada yang mengurusi jenazah yang meninggal, maka semuanya mendapatkan dosa.

Bagi keluarga yang ditinggal mati sekali-kali jangan diratapi kematiannya. Boleh menangis sebagai belasungkawa terhadap hatinya yang memperoleh pukulan pertama. Namun jangan sampai meratap yang sampai menyiksa.

Rasulullah bersabda:

“Segerakanlah mengubur jenazah, apabila dia orang baik berarti kamu mempercepat mengantar dia kepada kebaikan. Apabila dia orang jahat berarti kamu sama dengan menyingkirkan bencana kepada dirimu.” (HR.Muslim).

Keutamaan Sholat Jenazah

Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barang siapa menshalatkan jenazah dan tidak mengiringinya (ke pemakaman), ia akan memperoleh pahala sebesar satu qirath. Jika dia juga mengiringinya (hingga pemakamannya), ia akan memperoleh dua qirath.”

Ditanyakan, “Apa itu dua qirath?” Beliau menjawab, “Yang terkecil di antaranya semisal Gunung Uhud.” (HR. Muslim)

Dari hadist diatas dapat dipahami kalau sholat Jenazah memiliki keutamaan yang luar biasa. Bagi yang mengusrusi jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, mensholatkan dan menguburkannya dengan layak, akan mendapat pahala sebesar 2 qirath.

2 qirath adalah sekitar sebesar gunung uhud. Sangat luar biasa pahalanya bagi yang mau mengurus jenazah kaum muslim di sekitar Anda.

Menunggu Orang Sakaratul Maut

Rasulullah bersabda:

لقنوا موتاكم لااله الا الله

Artinya:

“Tuntunlah orang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat laa ilaha illaallah.” (HR. Muslim).

Tuntunlah dia dengan kalimat-kalimat yang baik, kalimat tauhid (Laailaa ha ilallah) atau syahadat. Lirihkan tepat ditelinganya sampai lidahnya menirukan.

Misal ucapkan lafadz “Laailla ha illallah”, lirihkan ditelinga orang yang sakaratul maut. Perlu hati-hati, lafadzkan saja kalimat Allah, sebab jangan-jangan nanti ketika mengucapkan kalimat itu baru sampai Laailaa sudah putus nyawanya.

Laa ilaa artinya tidak ada Tuhan. Maka perbanyak lafadz jalalah dilirihkan ditelinganya. Apabila nyawanya sudah dicabut oleh malaikat.

Rasulullah bersabda:

“Tidakkah kamu lihat apabila manusia mati, matanya terbelalak ke atas! “ mereka menjawab , “Ya, kami melihatnya ya Rasulullah! “Rasulullah melanjutkan sabdanya, “Hal itu terjadi karena penglihatannya mengikuti ruh ketika sedang pergi.” (HR.Muslim, dari Abu Hurrairah ra.)

Jangan sekali-kali mendoakan jenazah dengan doa yang jelek melainkan doakan sebagus-bagusnya.

Kewajiban Terhadap Jenazah

Ada 4 kewajiban terhadap jenazah orang yang sudah meninggal:

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menshalati
  4. Mengubur

Kewajiban ke-1 : Memandikan Jenazah

Pertama-tama yang dilakukan adalah membersihkan kotoran-kotoran di badan termasuk najis-najis yang terdapat pada tubuh jenazah. Membersihkan lubang-lubang termasuk lubang hidung dan lain-lain.

Kemudian memberikan wudhu pada anggota wudhu-nya. Meratakan air keseluruh tubuh dengan tiga kali atau lima kali. Siraman pertama lebih baik menggunakan air yang dicampur dengan sabun. Kedua dengan air bersih dan ketiga (terakhir) dengan air yang dicampur kapur barus.

Jenazah laki-laki dimandikan oleh kaum laki-laki dan jenazah perempuan dimandikan oleh kaum perempuan. Setelah memandikan dan siap dikafani, apabila si mayyit memiliki rambut Panjang lebih praktisnya rambut itu dikepang atau disanggul.

Kewajiban ke-2 : Mengkafani Jenazah

Rasulullah bersabda:

“Dari Abu Salamah ra. dia berkata dan bertanya kepada Aisyah istri Rasulullah, “Berapa lapiskah kafan Rasulullah ya Aisyah?” Aisyah menjawab “Tiga lapis kain katun (putih).” (HR.Muslim)

Kain kafan untuk jenazah laki-laki sebanyak tiga lapis dan perempuan sebanyak dua lapis.

Apabila dua-duanya didalam tubuh ada pakaian lain misalnya kain sarung atau kain jarik maka kain sarung dan kain jarik itu termasuk hitungan tiga kali atau dua lapis.

Cara mengkafani jenazah yaitu letakkan kafan itu ditempat yang baik dan setelah itu letakkan jenazah diatasnya. Kemudian kafan itu ditelungkupkan ke atas untuk menyelubungi atau membungkus badan jenazah.

Kewajiban ke-3 : Mensholatkan Jenazah

Sholat Jenazah boleh dikerjakan di masjid atau di kuburan.

Menurut kitab Tanwiul qulub apabila jenazahnya laki-laki, maka ketika di sholatkan posisi kepala berada di selatan. Sedang jika jenazahnya perempuan posisi kepala disebelah utara.

Untuk jenazah laki-laki imam berdiri tepat kearah kepala jenazah sedangkan jika jenazah perempuan imam berdiri mengarah ke pinggang jenazah. Jadi kalau jenazah perempuan kepalanya ada disebelah kanan imam.

Sholat Jenazah tidak dengan rukuk atau sujud, hanya berdiri dengan 4 takbiran.

Apabila mensholatkan jenazah di daerah kuburan yang mungkin tanah dibawahnya tidak suci. Maka kalau memakai sandal maka jangan dipakai sandal itu, cukup lepas sandal dan berdiri diatas sandal.

Artinya sandal itu dipakai dibuat tempat sholat. Kalau sandal itu dipakai hukumnya adalah tetap sebagai sandal dan kalau dilepas dan ditumpangi atasnya hukumnya sudah berubah menjadi tempat sholat.

Niat Sholat Jenazah

Seperti sholat-sholat lainnya, sholat Jenazah juga diawali dengan membaca niat sholat jenazah dalam hati atau dengan suara lirih.

Untuk bacaan niat sholat Jenazah berbeda antara jenazah laki-laki dan perempuan. Simak ulasan bacaan niat sholat jenazah berikut ini.

Bacaan Niat Sholat Jenazah Laki-Laki Arab

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Jenazah Laki-Laki Latin

“Ushalli’alaahadzal mayyiti arba’a takbiraatin fardlal kifaayati ma’muuman lillahit ta’aala”

Arti Bacaan Niat Sholat Jenazah Laki-Laki

“Aku niat sholat atas mayit ini dengan empat takbir fardlu kirayah, sebagai makmum karena Allah taala.”

Bacaan Niat Sholat Jenazah Perempuan

Bacaan Niat Sholat Jenazah Perempuan Arab

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Sholat Jenazah Perempuan Latin

“Ushollii ‘alaa haadzihill mayyitati arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa”

Arti Bacaan Niat Sholat Jenazah Perempuan

“Aku niat sholat atas mayit ini dengan empat takbir fardlu kirayah, sebagai makmum karena Allah taala.”

Syarat Sholat Jenazah

Syarat sholat Jenazah adalah:

  1. Orang yang melakukan sholat Jenazah harus Muslim.
  2. Dalam keadaan suci dari hadast kecil maupun hadast besar.
  3. Menutup aurat seperti layaknya melaksanakan sholat lainnya.
  4. Menghadap kiblat.
  5. Jenazah yang disholati adalah muslim atau beragama islam.
  6. Jenazah yang akan disholati sudah dalam keadaan bersih atau sudah dimandikan.

Sedangkan membungkus jenazah dengan kain kafan tidak termasuk dalam syarat sholat jenazah. Untuk itu boleh melakukan sholat jenazah kepada jenazah yang sudah dimandikan walau belum dikafani.

Rukun sholat Jenazah

Rukun sholat Jenazah ada 7, yaitu:

  1. Niat
  2. Takbir dengan empat takbiran
  3. Berdiri bagi yang kuasa
  4. Membaca Al-Fatihah
  5. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad setelah takbir kedua
  6. Doa terhadap jenazah setelah takbir ketiga
  7. Salam

Tata Cara Sholat Jenazah

1. Berdiri tegak Membaca Niat kemudian Takbiratul Ikhram dilanjutkan membaca Al Fatihah

Seperti sholat -sholat lainnya, setiap akan memulai sholat maka diawali dengan berdiri tegak dan membaca niat sholat jenazah sesuai dengan jenazahnya.

Setelah melafadzkan niat dalam hati atau dengan suara lirih, kemudian takbiratul ihram yang didalam digerakkan niat diatas.

Tangan disedekapkan di atas pusar, kemudian membaca Al-Fatihah, tanpa menambahi dengan surat-surat lain. Semua didalam takbir pertama termasuk niat yang diucapkan didepan tadi.

2. Takbir Kedua Kemudian Membaca Sholawat

Membaca takbir kedua dengan mengangkat tangan setinggi telinga atau sejajar bahu. Kemudian tangan kembali disedekapkan di atas pusar.

Kemudian membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Boleh membaca sholawat nabi yang pendek dan boleh juga yan panjang sebagaimana shalawat nabi yang umum berikut.

Bacaan Sholawat Nabi Arab

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Bacaan Sholawat Nabi Latin

“Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid.”

Arti Bacaan Sholawat Nabi

“Ya Allah, anugerahkan shalawat kepda Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Nabi Ibrahim.Berikanlah keberkahan kpada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi kepada keluarga Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di dalam alam inilah Engaku Tuhan yang Maha Terpuji dan Maha Mulya.”

3. Takbir Ketiga Kemudian Membaca Doa Untuk Jenazah

Mendoakan kepada jenazah, dengan membaca doa sholat jenazah sebagai berikut.

Doa Sholat Jenazah

Bacaan Doa Sholat Jenazah Arab

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Bacaan Doa Sholat Jenazah Latin

“Allahummaghfirlahu wahamhu wa’aafihi wa’fu anhu, wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu wa aghsilhu minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubulabyadlu minad danas. Wa abdilhu daaraan khairam mind daarihi wa ahlan khairam min ahlihi wa ad khilhul jannata waaidzhu min ‘adsaabil qabri wa min ‘adsaabin naar.”

Arti Bacaan Doa Sholat Jenazah

“Ya Allah, ampunilah din, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampinulah dosa-dosanya, mulyakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran.”

“Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang dulit; dan masukkanlah ia ke dalam surge dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”

Apabila jenazahnya perempuan cukup mengganti lafadz “hu” menjadi “ha“, seperti contoh berikut.

“Allaahummagh firlahu war hamhu wa’aafihu wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahudiganti menjadi berikut.

“Allaahummagh firlaha war hamha wa’aafiha wa’fu ‘anha wa akrim nuzulaha

4. Takbir Keempat Kemudian Berdoa Untuk Jenazah Lagi

Setelah takbir keempat, kemudian membaca Doa sholat jenazah lagi sebagai berikut.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

“Allahumma laa tahrrimna aj-rahu walaa taftinnaa ba’dahu wagh firlanaa walahu”

Artinya :

“Ya Allah, janganlah engkau menutup-nutupi pahala mayit ini kepada kami dan janganlah diberikan fitnah kepada kami setelah kami meninggalkan mayit tersebut, ampunilah kami dan ampunilah dia.”

Jika jenazahnya perempuan, maka “hu” diganti “ha” menjadi:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

“Allahumma laa tahrrimna aj-raha walaa taftinnaa ba’daha wagh firlanaa walaha”

Dalam takbir ke empat ini apabila jenazahnya belum baligh diganti doa sebagai berikut.

Doa Jenazah Anak-Anak yang Belum Baligh

Doa Jenazah Anak-Anak yang Belum Baligh Arab

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيْعًا مُجَابًا. اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَسْلاَفِنَا، وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِاْلإِيْمَانِ

Doa Jenazah Anak-Anak yang Belum Baligh Latin

“Allaahummaj ‘alhu farothon wa dzukhron liwaalidaihi, wa syafii’an mujaaban. Allaahumma tsaqqil bihi mawaaziinahumaa wa a’zhim bihi ujuurohumaa, wa alhiqhu bishoolihil mu’miniin, waj ‘alhu fii kafaalati ibroohiim, wa qihi birohmatika ‘adzaabal jahiim, wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wa ahlan khoiron min ahlihi. Allaahummaghfir li-aslaafinaa, wa afroothinaa wa man sabaqonaa bil iimaan.”

Arti Doa Jenazah Anak-Anak yang Belum Baligh

“Ya Allah, jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala yang didahulukan, simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah, dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung.”

“Anak ini kumpulkan dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan.”

5. Mengucapkan Salam

Setelah selesai membaca doa sholat jenazah pada takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan salam sambil menoleh kekanan dan kekiri.

Bacaan Salam

Bacaan Salam Arab

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bacaan Salam Latin

“Assalaamu’alaikum warahmatullah wa barakaatuh”

Arti Bacaan Salam Arab

“Salam sejahtera untuk semua, rahmat Allah dan Barokah Allah juga untuk kamu semua.”

6. Doa Selesai Sholat Jenazah

Sebelum berdoa sebaiknya imam memimpin untuk memberikan kepada jenazah, membaca Al-Fatihah (kemudian berdoa dan makmum meng-Amiinkan doa imam tersebut).

Doa Setelah Sholat Jenazah

Doa Setelah Sholat Jenazah Arab

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ. اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ.اِعْتِقْ رِقَابَنَاوَرِقَابَ هٰذَاالْمَيِّتِ (هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ) مِنَ النَّارِ٣× اَللّٰهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَعَلٰى هٰذَالْمَيِّتِ (هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ) وَاجْعَلْ قَبْرَهٗ(هَا)رَوْضَةًمِنَ الْجَنَّةِ.وَلاَتَجْعَلْهُ لَهٗ (لَهَا) حُفْرَةًمِنَ النِّيْرَانِ.وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى خَيْرِخَلْقِهٖ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Doa Setelah Sholat Jenazah Latin

“Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allaahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa Muhammadin.”

“Allaahumma bihaqqil fatihati i’tiq riqaa banaa wariqaaba haadzal mayyiti (haadzihil mayyitati) waj’al qabrahuu (haa) roudhotan minal jannati. Walaa taj’alhu lahuu (lahaa) hufratan minanniiraani. Washollallaahu ‘alaa khoiri kholqihi sayyidinaa Muhammadin wa aalihii washohbihii ajma’iina walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiina.”

Arti Doa Setelah Sholat Jenazah

“Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Oh Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dan dosa mayat ini dari siksaan api neraka (3 kali).”

“Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampunan kepada mayat ini. Dan jadikanlah tempat kuburnya taman nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.”

Kewajiban ke-4 : Menguburkan Jenazah

Kewajiban yang keempat yaitu menguburkan jenazah secepatnya. Proses menguburkan jenazah untuk umat muslim tidak asal dimasukkan ke lubang dan ditimbun tanah begitu saja.

Ada beberapa aturan pe;aksanaan penguburan jenazah yang sudah ditetapkan dalam ajaran Islam. Ada perlakuan khusus yang harus dilakukan dan juga ada doa-doa yang harus diucapkan.

Allah berfirman dalam Al Quran surah Al-Isra ayat 70

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Artinya:

“Dan sungguh telah Kami muliakan anak keturunan Adam.” (QS. Al-Isra ayat 70)

Langkah-Langkah Menguburkan Jenazah Sesuai Syariat Islam

  1. Jenazah dikuburkan didalam sebuah lubang yang dalamnya sekitar tingginya orang dewasa berdiri dan dengan lebar seukuran satu dzira lebih satu jengkal.
  2. Ketika menaruh jenazah ke lubang kubur wajib memiringkan tubuh jenazah ke sebelah kanan dan menghadapkannya ke arah kiblat.
  3. Melepas tali ikatannya dimulai dari kepala setelah jenzah diletakkan dalam lubang kubur.
  4. Menutup lubang kubur dan memberikan batu nisan sebagai tanda biar mudah dikenali jenazah yang dikuburkan.

Sholat Jenazah Ghaib

Didalam kitab Sarah Imam Nawawi ada anjuran untuk melakukan sholat ghaib kepada jenazah.

Shalat ghaib adalah melakukan sholat jenazah yang kematiannya sudah berlalu, hal ini dishalati walaupun jenazahnya tidak ada didepan mereka.

Walaupun jenazah yang meninggal sudah berlalu atau meninggal pada hari itu, akan tetapi jenazahnya tidak ada di depan yang melaksanakn sholat jenazah bisa disebut juga dengan sholat ghaib.

Biasanya para umat muslim tersebut mengerjakan sholat jenazah kepada jenazah yang terkenal masa-masanya atau memiliki kedekatan lebih kepada Allah. Misalnya meninggalnya seorang kiyai atau ustadz yang lokasinya jauh.

Bisa juga untuk jenazah yang dulunya seorang pemimpin yang bijaksana. Dan kematiannya itu sangat jauh bilamana para jamaah ikut melayat ke sana, maka cukup dirumah dan menyampaikan dengan shalat ghaib.

Sesuai dengan Rasulullah ketika Raja Habsyah meninggal dunia. Rasulullah lantas mengumumkan kepada orang banyak atas kematian raja tersebut dan setelah itu mereka pergi ke masjid menunaikan shalat jenazah atas raja Habsyah.

Waktu itu raja Habsyah tidak ada di depan mereka, keadaan inilah yang disebut sholat ghaib.

Tata Cara Sholat Ghaib

Tata cara sholat ghaib atau rukun sholat ghaib tidak berbeda dengan tata cara sholat jenazah yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Pada sholat ghaib hanya berbeda pada bacaan niatnya saja.

Bacaan Niat Sholat Ghaib

Bacaan Niat Sholat Ghaib Arab

أُصَلِّى عَلَى اْلمَيِّتِ (اْلمَيِّتَةِ) اْلغَائبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ لِلّهِ تَعَالى

Bacaan Niat Sholat Ghaib Latin

“Ushalli ‘alaa mayyiti (sebut nama mayit) al ghaaibi arba’a takbiiraatin fardlu kifaayati lillaahi ta’aala.”

Arti Bacaan Niat Sholat Ghaib

“Aku niat shalat kepada mayit….(sebut nama mayit) yang ghaib dengan empat takbir fardlu kifayah karena Allah ta’aala.”

Mengenai doa setelah salam atau doa setelah sholat ghoib boleh menggunakan doa yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Tata Cara Mengurus Bayi yang Meninggal

Bayi yang lahir kemudian langsung meninggal dunia biasanya kelahirannya sebelum 6 bulan kandungan. Bayi 6 bulan jelas sudah bernyawa akan tetapi kesempuraan didalam dirinya ada kekurangan, sehingga ada yang meninggal dan juga ada yang hidup.

Untuk mengurus kematian bayi seperti ini ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan, sebab tidak lamanya bayi maninggal di urus dengan tata kewajiban muslim kepada jenazah.

Ketentuan-ketentuan untuk mengurus Bayi yang meninggal

  1. Apabila bayi sudah lahir dan bayi sempat menjerit sebentar kemudian meninggal, hukumnya seperti anak yang meninggal. Perlu dimandikan, dikafani, dishalati dan dikubur.
  2. Bayi yang lahir tanpa ada jeritan dan langsung mati, sementara bentuk tubuhnya sudah sempurna, kita hanya berkewajiban memandikan, mengkafani dan mengubur.
  3. Bayi yang lahir tanpa ada jeritan dan langsung mati dan belum sempurna bentuk tubuhnya hanya berkewajiban mengubur saja.

Sumber:https://wisatanabawi.com/sholat-jenazah/

Cara Sholat Jenazah Muslim Laki-Laki dan Wanita

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Cara Sholat Jenazah Muslim

Berbeda dengan sholat lainnya, cara sholat jenazah tidak memiliki gerakan rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, dan lain-lain. Hanya ada gerakan takbiratul ihram, karena memang dalam cara sholat jenazah kamu hanya berdiri, tanpa gerakan lainnya.

Selain itu, cara sholat jenazah untuk jenazah laki-laki dan perempuan berbeda pula. Jadi kamu harus memperhatikannya karena bahkan bacaan sholat jenazah untuk laki-laki dan perempuan juga berbeda sebagai bagian dari cara sholat jenazah. Begini rukun sholat jenazah:

1. Niat

2. Berdiri bagi yang mampu

3. Empat kali takbir

4. Mengangkat tangan pada saat takbir pertama

5. Membaca surat Al Fatihah

6. Membaca sholawat Nabi

7. Berdoa untuk jenazah

8. Salam

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth. Ada yang bertanya, Apa yang dimaksud dua qiroth? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lantas menjawab, Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Cara sholat jenazah untuk jenazah perempuan

Cara sholat jenazah untuk perempuan yang pertama adalah posisi imam berada pada searah tali pusar jenazah. Di belakang imam, para makmum disarankan untuk membuat shaf yang ganjil dengan urutan makmum laki-laki dewasa di depan, lalu di belakangnya makmum perempuan dewasa. Menyolatkan jenazah memberikan pahala yang sangat besar untuk orang-orang yang melaksanakannya.

Selanjutnya, ada beberapa bacaan yang harus dilafalkan saat menyolatkan jenazah perempuan sebagai cara sholat jenazah yang akan dilakukan. Cara sholat jenazah pertama adalah niat. Pengucapan niat sholat jenazah antara laki-laki dan perempuan berbeda.

Niat sholat jenazah perempuan:

Usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Yang Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

Setelah niat, langsung takbir pertama dengan membaca Surat Al-Fatihah.

Selanjutnya pada takbir kedua membaca sholawat,  

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa sholaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamiidun majiid. wa baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Fil aalamiina Innaka hamidun majiid.

Dilanjutkan dengan takbir ketiga dengan membaca:

Allohummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa wa akrim nuzulahaa wawassi’ mudkholahaa waghsilhaa bil maa-i wats tsalji wal barod. Wa naqqihaa minal khothooyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danas. Wa abdilhaa daaron khoiron min daarihaa wa ahlan khoiron min ahlihaa wa zaujan khoiron min zaujihaa wa adkhilhal jannata wa a’idzhaa min ‘adzaabin qobri au min ‘adzaabin naar

Atau bisa juga dibaca versi pendek saja, seperti di bawah ini:

Allahummagh firlahaa waa warhamhaa wa’aafihaa wa’fuanhaa.

Pada takbir keempat membaca:

Allahumma la tahrim naa ajrahaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa.

Kemudian salam ke kanan dan ke kiri dalam posisi berdiri.


Cara sholat jenazah untuk jenazah laki-laki

Sedangkan cara sholat jenazah untuk jenazah laki-laki posisi imam berbeda dengan menyolatkan jenazah perempuan. Cara sholat jenazah untuk laki-laki adalah posisi imam berada sejajar dengan kepala jenazah. Menyolatkan jenazah lebih diutamakan dilaksanakan di masjid atau musholla terdekat, namun bila masjid atau musholla jauh maka bisa dilakukan di rumah.

Niat sholat jenazah laki-laki:

Usholli ‘alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Yang Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

Setelah niat, langsung takbir pertama dengan membaca Surat Al-Fatihah.

Selanjutnya pada takbir kedua membaca sholawat,  

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa sholaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamiidun majiid. wa baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Fil aalamiina Innaka hamidun majiid.

Dilanjutkan dengan takbir ketiga dengan membaca:

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wawassi’ mudkholahu waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barod. Wa naqqihi minal khothooyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danas. Wa abdilhu daaron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahlihi wa zaujan khoiron min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabin qobri au min ‘adzaabin naar

Atau bisa juga dibaca versi pendek saja, seperti di bawah ini:

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu

Pada takbir keempat membaca:

Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu

Kemudian salam ke kanan dan ke kiri dalam posisi berdiri.

Sumber:https://www.liputan6.com/ramadan/read/3989702/cara-sholat-jenazah-untuk-jenazah-laki-laki-dan-perempuan-jangan-sampai-salah

Tata cara sholat jenazah Muslim dan doa serta niatnya

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Tata cara sholat jenazah Muslim dan doa serta niatnya

Tata cara sholat jenazah Muslim dan doa serta niatnya

Berikut beberapa keutamaan shalat jenazah yang penulis kutip dari rumaysho.com.

1. Pahalanya sebesar dua gunung bagi yang mengerjakannya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth. “Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945).

2. Allah perkenankan syafa’at bagi jenazah dari doa orang-orang yang menyolatinya.

Dari Kuraib, ia berkata,

“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyolati jenazahnya. “Kuraib berkata, “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab, “Ada 40 orang”. Kuraib berkata, “Baik kalau begitu. “Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.” (HR. Muslim no. 948)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (do’a mereka) akan diperkenankan.” (HR. Muslim no. 947)

Syarat sah shalat jenazah.

1. Seorang Muslim

2. Dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil

3. Menutup aurat seperti melakukan shalat lainnya

4. Menghadap kiblat

5. Jenazah yang disholati beragama Islam

6. Jenazah yang akan disholati telah dalam keadaan bersih dan suci atau sudah dimandikan

Tata cara shalat jenazah.

Shalat jenazah tidak memiliki gerakan rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud dan duduk tahiyat akhir. Hal ini membuat shalat jenazah sangat berbeda dengan shalat- shalat lainnya. Dalam shalat jenazah sendiri hanya ada gerakan takbiratul ihram, kita berdiri tanpa melakukan gerakan lainnya.

Tidak ada perbedaan gerakan dalam shalat jenazah bagi laki-laki ataupun perempuan. Hanya saja, bacaan shalat jenazah berbeda disesuaikan dengan jenis kelamin orang yang meninggal.

Pada shalat jenazah laki-laki posisi imam berada sejajar dengan kepala jenazah. Lebih diutamakan untuk menyolatkan jenazah di masjid atau musholla terdekat.

Jika jenazah adalah seorang perempuan maka posisi imam berada sejajar atau searah dengan tali pusar jenazah. Para makmum di belakang imam disarankan untuk membuat barisan atau shaf yang ganjil dengan urutan makmum laki- laki berada di depan, lalu di belakangnya makmum perempuan dewasa.

1. Membaca niat sholat jenazah.

– Untuk jenazah laki- laki

Usholli ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbirootin fardhol kifaayati makmuuman lillahi ta’aalaa.

Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

– Untuk jenazah perempuan

Usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Yang artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

2. Melakukan takbir pertama diikuti dengan membaca surat Al- Fatihah.

3. Melakukan takbir kedua, diikuti dengan membaca sholawat Nabi.

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘ala aali muhammad. Kamaa sholaita ‘ala ibroohim wa ‘ala aali ibroohim. Wa baarik ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad. Kamaa baarokta ‘ala ibroohim wa ‘ala aali ibroohim. Fil ‘aalamiina Innaka hamiidum majiid.

Yang artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad.Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad.Sebagai mana telah engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana engkau telah memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Bahwasannya engkau adalah tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia di seluruh alam.”

4. Melakukan takbir ketiga diikuti dengan membaca doa.

Doa pada takbir ketiga versi panjang.

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wawassi’ mudkholahu waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barod. Wa naqqihi minal khothooyaa kamaa naqqoit ats tsaubal abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahlihi wa zaujan khoiron min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabin qobri au min ‘adzaabin naar.

Yang artinya: “Ya Allah, ampunilah din, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya, muliakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang dulit; dan masukkanlah ia ke dalam surge dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”

Doa pada takbir ketiga versi pendek.

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu

Yang artinya: “Ya Allah, ampunilah din, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya. “

Apabila jenazahnya perempuan cukup mengganti lafadz “hu” menjadi “haa“, seperti contoh berikut.

“Allaahummagh firlahu war hamhu wa’aafihu wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu”

Diganti menjadi berikut:

“Allaahummagh firlahaa war hamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa wa akrim nuzulahaa”

5. Melakukan takbir keempat diikuti dengan membaca doa.

Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu

Yang artinya: “Ya Allah, janganlah engkau menutup-nutupi pahala mayit ini kepada kami dan janganlah diberikan fitnah kepada kami setelah kami meninggalkan mayit tersebut, ampunilah kami dan ampunilah dia.”

Jika jenazahnya perempuan, maka “hu” diganti “haa” menjadi:

“Allahumma laa tahrrimna aj-rahaa walaa taftinnaa ba’dahaa wagh firlanaa walahaa”

Dalam takbir ke- empat ini apabila jenazahnya belum baligh seperti balita dan anak-anak maka diganti doa sebagai berikut.

“Allaahummaj ‘alhu farothon wa dzukhron liwaalidaihi, wa syafii’an mujaaban. Allaahumma tsaqqil bihi mawaaziinahumaa wa a’zhim bihi ujuurohumaa, wa alhiqhu bishoolihil mu’miniin, waj ‘alhu fii kafaalati ibroohiim, wa qihi birohmatika ‘adzaabal jahiim, wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wa ahlan khoiron min ahlihi. Allaahummaghfir li-aslaafinaa, wa afroothinaa wa man sabaqonaa bil iimaan.”

Yang artinya: “Ya Allah, jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala yang didahulukan, simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah, dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmat-Mu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan.”

6. Mengucap salam.

Setelah membaca doa pada takbir keempat, kemudian diakhiri dengan mengucap salam sambil menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri.

Berikut tata cara shalat jenazah secara singkat yang penulis rangkum dari penjelasan sebelumnya.

1. Membaca niat sholat jenazah

2. Berdiri bagi yang mampu

3. Melakukan takbir pertama diikuti dengan membaca surat Al-Fatihah

4. Melakukan takbir kedua diikuti dengan membaca sholawat Nabi

5. Melakukan takbir ketiga diikuti dengan membaca doa tertentu

6. Melakukan takbir keempat diikuti dengan membaca doa tertentu

7. Melakukan salam

Sumber:https://www.brilio.net/creator/tata-cara-sholat-jenazah-beserta-bacaan-niat-dan-doanya-bef419.html

Sholat Jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in artikel

Sholat Jenazah Muslim

Sholat Jenazah Muslim

Kullu nafsin zaikatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Karena pada dasarnya dunia bukanlah tempat tinggal tetapi tempat untuk meninggal.

Dunia adalah penuh dengan intrik permainan yang apabila tidak dapat dimainkan dengan baik maka kita akan terjebak pada permainan tersebut.

Sebagaimana firman Allah SWT, Article-Inline

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’am: 32)

Kembali pada pembahasan tentang maut. Pada akhirnya setiap orang akan menjadi jenazah. Dan setiap jenazah ada hak untuk disholatkan.

Dalam Islam ada perintah untuk melaksanakan sholat jenazah. Dan pada artikel kali ini, akan dibahas tentang sholat jenazah.

Hukum Sholat Jenazah

Setiap jenazah seorang muslim memiliki hak untuk disholatkan. Tidak hanya sholat, tetapi mengurus segala keperluannya.

Dalam Islam, hukum fardhu terbagi menjadi dua yaitu fardhu’ain dan fardhu kifayah. Fardhu’ain diperuntukkan untuk ibadah yang wajib dikerjakan oleh semua orang tanpa terkecuali.

Adapun fardhu kifayah adalah hukum yang sifatnya apabila sudah ada yang mengerjakan maka hukum tersebut gugur untuk yang lainnya.

Untuk sholat jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah.

Artinya, bila ada yang sudah melakukannya maka hukum ini gugur untuk orang lain di sekitarnya.

Namun, apabila tidak ada satupun orang yang mengurusi jenazahnya termasuk mensholatkannya maka semua orang mendapatkan dosanya.

Keutamaan

Salah satu keutamaan melaksanakan sholat jenazah maka ia akan mendapatkan pahala. Bila ia tidak hanya mensholatkan tetapi juga mengantarkan maka pahala yang didapatkan menjadi lebih banyak.

Rasulullah SAW menggambarkan pahala dari dilaksanakannya sholat jenazah hingga mengantarkannya dalam bentuk qirath.

Sebagaimana hadist Nabi SAW,

Barang siapa menshalatkan jenazah dan tidak mengiringinya (ke pemakaman), ia akan memperoleh pahala sebesar satu qirath. Jika dia juga mengiringinya (hingga pemakamannya), ia akan memperoleh dua qirath.

Ditanyakan, “Apa itu dua qirath?” Beliau menjawab, “Yang terkecil di antaranya semisal Gunung Uhud.” (HR. Muslim)

Jadi, kalau kamu melaksanakan sholat jenazah sekaligus mengantarkannya maka akan mendapatkan pahala sebesar gunung uhud.

Tata Cara

Tidak seperti sholat pada umumnya yang mana diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Sholat jenazah memiliki tata cara khusus dalam pelaksanaannya.

Sholat ini dilakukan dengan empat kali takbir. Setiap takbir dibacakan ayat dan doa yang berbeda.

Namun, yang paling awal untuk dilakukan sebelum memulai sholat jenazah adalah dengan melafadzkan niat.

Lafadz niat sholat jenazah adalah sebagai berikut,

Untuk laki-laki:

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushalli’alaahadzal mayyiti arba’a takbiraatin fardlal kifaayati ma’muuman lillahit ta’aala”

Artinya,

Aku niat sholat atas mayit ini dengan empat takbir fardlu kirayah, sebagai makmum karena Allah taala.

Untuk Perempuan:

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushollii ‘alaa haadzihill mayyitati arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa

Artinya,

“Aku niat sholat atas mayit ini dengan empat takbir fardlu kirayah, sebagai makmum karena Allah taala.”

Setelah itu maka mulai membaca ayat dan doa-doa di setiap takbir. Bacaan sholat jenazah yang berada di dalam keempat takbir tersebut adalah sebagai berikut:

Pada takbir pertama diawali dengan membaca ummul kitab yaitu surat Al-Fatihah.

Dilanjut dengan takbir kedua dengan membaca sholawat nabi.

Lalu, dilanjut dengan takbir ketiga dengan membaca doa untuk mayit.

Terakhir, takbir keempat membaca doa untuk jenazah lagi dan untuk umum.

Doa Sholat Jenazah

Bacaan doa sholat jenazah yang diucapkan ketika takbir ketiga adalah sebagai berikut,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Allahummaghfirlahu wahamhu wa’aafihi wa’fu anhu, wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu wa aghsilhu minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubulabyadlu minad danas. Wa abdilhu daaraan khairam mind daarihi wa ahlan khairam min ahlihi wa ad khilhul jannata waaidzhu min ‘adsaabil qabri wa min ‘adsaabin naar.”

Artinya,

“Ya Allah, ampunilah din, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampinulah dosa-dosanya, mulyakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran.”

“Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang dulit; dan masukkanlah ia ke dalam surge dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”

apabila yang meninggal adalah peremupuan maka kata hu pada doa tersebut diganti menjadi ha.

Kemudian dilanjutkan sebagaimana yang juga dilafadzkan pada takbir keempat, yaitu:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

Allahumma laa tahrrimna aj-rahu walaa taftinnaa ba’dahu wagh firlanaa walahu

“Ya Allah, janganlah engkau menutup-nutupi pahala mayit ini kepada kami dan janganlah diberikan fitnah kepada kami setelah kami meninggalkan mayit tersebut, ampunilah kami dan ampunilah dia.”

Source:https://qazwa.id/blog/sholat-jenazah/

Doa ketika memasukkan jenazah muslim ke liang lahat

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Doa ketika memasukkan jenazah muslim ke liang lahat

Dalam buku Kumpulan Doa Berdasarkan Alquran dan Sunah karya Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthoni dijabarkan, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika ditimpa kesulitan. Doa ini bersumber dari hadits Rasulullah SAW.

Hadis tersebut berbunyi: “Bismillahi wa ala sunnati Rasulillahi.” Yang artinya: “Dengan nama Allah dan di atas sunah Rasulullah.” Hadits ini merupakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan sanad yang shahih.

Adapun setelah jenazah dimakamkan, terdapat beberapa adab yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah SAW, setelah selesai memakamkan jenazah, berdiri di atasnya lalu bersabda: “Mintakan ampun kepada Aklah untuk saudaramu, dan mohonkan agar dia teguh dan tahan hati (ketika ditanya oleh dua malaikat), sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.”

Source:https://republika.co.id/berita/q6izdl366/doa-ketika-memasukkan-jenazah-ke-liang-lahat

Doa menguburkan jenazah muslim

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa menguburkan jenazah adalah salah satu kewajiban bagi seorang muslim. Hal ini tercantum dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi

“Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadist tersebut maka jelaslah bahwa mengiring dan mengantarkan jenazah kemakam atau liang kuburnya adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi. Tidak hanya mengantar dan mengiringinya, seorang muslim juga dianjurkan untuk mendoakan jenazah yang diantarnya tersebut terutama jika ia merupakan kerabat dari jenazah.

Doa Menguburkan Jenazah

Doa adalah sesuatu yang kita panjatkan kepada Allah SWT dan berharap Allah SWT mengabulkannya. Saat memakamkan jenazah ke liang kuburnya dan juga sebelum dan sesusahnya, seorang muslim hendaknya membacakan doa untuknya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini mengenai doa menguburkan jenazah

Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian dan mintalah kekuatan untuknya karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud, dari ‘Utsman bin Affan, dan dishahihkan Al-Albani)

Beberapa doa yang bisa dipanjatkan saat proses pemakaman berlangsung antara lain sebagai berikut.

  • Doa Setelah Shalat Jenazah

Sebelum dimakamkan, jenazah terlebih dahulu dishalatkan dan setelah shalat jenazah selesai dibacakan doa sebagai berikut

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

“Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.”

  • Doa Apabila jenazah adalah anak kecil

Saat menguburkan jenazah yang masih anak-anak ada doa yang bisa dibaca dan dipanjatkan setelah shalat jenazah maupun sebelum memasukkannya dalam liang kubur.

Adapun doa tersebut berbunyi

أُجُوْرَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَسْلاَفِنَا، وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِاْلإِيْمَانِ.

“Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah! Dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan”

  • Doa saat memasukkan jenazah keliang kubur

Saat memasukkan jenazah kedalam kubur ada doa yang disunahkan untuk dibaca terutama bagi yang meletakkan jenazah dalam lianglahatnya. Bacaan doa tersebut adalah sebagai berikut

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. 

Bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasulillaah. artinya, “Dengan nama Allah dan di atas petunjuk Rasulullah”

  • Doa setelah jenazah dimakamkan

Setelah jenazah dimakamkan maka pengiring atau orang-orang yang ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman sebaiknya juga membaca doa berikut ini

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ.

Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah teguhkanlah dia. 

Source:https://dalamislam.com/doa-dan-dzikir/doa-menguburkan-jenazah

Doa saat menguburkan jenazah muslim

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Saat menguburkan jenazah disunahkan membaca doa berikut selama prosesi pemakaman.

بسم الله وعلى ملة الله

Bismillah wa ‘ala millatillah.

Dengan menyebut nama Allah, dan semoga selalu di atas agama Allah.

Hal ini sebagaimana riwayat hadis dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah saw. bersabda.

إذا وضعتم ‏موتاكم في القبور فقولوا: بسم الله، وعلى ملة رسول الله” رواه أحمد، والترمذي، وأبو ‏داود، وابن ماجه

Saat kalian sudah meletakkan jenazah di dalam kubur, berdoalah dengan bismillah wa ‘ala millatillah.

Syekh al-Bahuti dalam Kasyful Qina‘ menjelaskan bahwa doa dan zikiran apapun yang sesuai dengan konteks pemakaman boleh dibaca. Sementara itu, doa lain yang bisa dibaca saat menguburkan jenazah adalah doa dari sahabat Ibnu Umar sebagai berikut.

اللهم أجرها من الشيطان، ومن عذاب القبر، اللهم جاف الأرض عن ‏جنبها، وصعد روحها، ولقها منك رضواناً

Allohumma ajirna minas syaithoni wa min ‘adzabil qobri, allohumma jafil ardho ‘an janbiha wa sho‘id ruhaha wa laqqiha minka ridhwana

Ya Allah, selamatkanlah kami dari setan dan azab kubur. Ya Allah, perluaslah makam jenazah ini, angkatlah ruhnya, temukanlah ia dengan keridaan-Mu (HR Ibnu Majah)Baca Juga :  Hukum Melepas KB Spiral pada Jenazah

Sementara itu, doa yang dibaca sahabat Bilal saat menguburkan jenazah adalah sebagai berikut.

‏أسلمه إليك الأهل والمال والعشيرة، والذنب العظيم، وأنت غفور رحيم فاغفر له

Usallimuhu ilaikal ahla wal mala wal ‘asyirota wadz dzanbal ‘azhim, wa anta ghofurur rohim faghfir lahu.

Aku memasrahkan keluarga, harta, kerabat, dan dosa besar jenazah ini kepada-Mu, karena Engkau Maha Pengampun dan Penyayang. Ampunilah dosanya (HR Sa‘id)

Source:https://bincangsyariah.com/zikir-dan-doa/doa-saat-menguburkan-jenazah/

Sesuai Sunnah Mengubur Jenazah Muslim Pria dan Wanita

30 April 2020 by no comments Posted in tata cara menguburkan jenazah muslim

Ada empat tahapan mengurus jenazah dalam Islam. Ketika seorang Muslim meninggal maka yang masih hidup wajib memandikan, mengkafani, dan mensholatkan jenazahnya.

Setelah mensholatkan, mereka kemudian mengubur jenazah tersebut menurut ajaran Islam atau sesuai dengan sunnah.

Cara mengubur jenazah tidak boleh sembarangan. Dalam tata cara mengubur jenazah sesuai sunnah, ada adab dan perlakuan khusus yang harus diperhatikan.

Di sana ada perlakuan khusus dan doa-doa yang harus diucapkan dalam tata cara mengubur jenazah menurut Islam.

Adanya doa dan perlakuan khusus dalam tata cara mengubur jenazah sesuai sunnah ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan manusia.

Tidak hanya di masa hidupnya, ketika meninggal dunia pun manusia masih mendapat perlakuan yang baik dari sesamanya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alquran, yang artinya, ” Dan sungguh telah Kami muliakan anak keturunan Adam.” (QS. Al-Isra: 70)

Dirangkum dari berbagai sumber, Dream akan menjelaskan bagaimana tata cara mengubur jenazah laki-laki dan perempuan yang benar sesuai sunnah.

Tata Cara Mengubur Jenazah Laki-laki dan Perempuan Yang Benar Sesuai Sunnah

Mempersiapkan Lubang Kubur

Sebelum sampai pada cara mengubur jenazah menurut Islam, maka yang harus dilakukan adalah mempersiapkan lubang kubur untuk si mayit.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam tata cara mengubur jenazah saat mempersiapkan lubang kubur ini.

1. Lubang kubur harus dalam

Dalam mempersiapkan lubang kubur, maka harus dalam setinggi orang berdiri dengan tangan melambai ke atas. Sementara lebarnya seukuran satu dzira (hasta) lebih satu jengkal atau kira-kira 50 cm.

Lubang kubur digali pada tanah yang kuat dan dalam agar saat membusuk bau jasadnya tidak tercium dan aman dari gangguan hewan pemakan bangkai. Selain itu, untuk menghindari longsor akibat aliran air yang mengalir saat hujan.

2. Bentuk lubang kubur

Bila tanahnya keras, disunahkan membuat liang lahat di dalam lubang kubur. Yang dimaksud liang lahat di sini adalah lubang yang dibuat di dinding kubur sebelah kiblat seukuran yang cukup untuk menaruh jenazah.

Jenazah diletakkan di liang lahat tersebut kemudian ditutup dengan batu pipih lalu diurug dengan tanah. Namun di Indonesia, orang-orang umumnya memakai papan kayu sebagai pengganti batu pipih agar tanahnya tidak runtuh mengenai jenazah.

Namun jika tanahnya gembur, disunahkan membuat semacam lubang lagi di dasar kubur seukuran yang dapat menampung jenazah. Jenazah diletakkan di lubang tersebut kemudian di bagian atasnya ditutup dengan batu pipih atau papan kayu lalu diurug dengan tanah.

3. Dikubur di pemakaman Muslim

Idealnya jenazah seorang Muslim dikubur di pemakaman yang memang khusus Muslim. Namun apabila tidak terdapat pemakaman muslim dan harus dilakukan penguburan segera, maka bisa dikubur di pemakaman umum asalkan tata cara mengubur jenazahnya tetap menurut Islam atau sesuai sunnah.

4. Waktu menguburkan jenazah

Soal waktu menguburkan jenazah juga perlu diperhatikan karena bisa berdampak pada proses pemakaman dan ketersediaan panitia penguburan. Beberapa waktu yang sebaiknya dihindari saat akan menguburkan jenazah:

  • Ketika matahari terbit hingga naik
  • Ketika matahari berada di tengah-tengah
  • Ketika matahari hampir terbenam atau benar-benar terbenam.

Membawa dan Mengiringi Jenazah ke Kuburan

Setelah bagian penggali kubur mempersiapkan lubang kubur, sekarang saatnya keluarga, kerabat, teman atau tetangga membawa dan mengiringi jenazah ke kuburan atau pemakaman.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat membawa dan mengiringi jenazah ke kuburan:

1. Mengiringi jenazah dengan kusyuk

Saat mengiringi jenazah, hendaknya dilakukan dengan kusyuk. Karena ini adalah momen terakhir bagi keluarga, kerabat, teman atau tetangga mendampingi jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Maka dari itu, saat mengiringi jenazah hendaknya dengan khidmat dan tidak diselingi dengan bercanda. Selain itu, dilarang untuk membaca dzikir atau membaca Alquran.

2. Adab pengiring jenazah

Pengiring jenazah yang berjalan kaki di sekitar keranda mayat, sementara yang menggunakan kendaraan berada di belakang iringan jenazah. Jika kendaraan mau lewat, maka mendahulukan iringan jenazah.

3. Adab memasuki kuburan

Ketika sampai di kuburan, para pengiring jenazah tidak dianjurkan untuk duduk terlebih dahulu sebelum jenazah diturunkan dari pundak yang membawanya. Selain itu, para pengiring pun juga harus mengucapkan salam yang diajarkan oleh Rasulullah berikut ini.

” Assalamu alaikum ya ahlad diyar minal mukminin wa muslimin,wa inna insya Allahu bikum la hiqun, nasalullahi lana walakumul ‘afyah.”

Artinya: ” Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Memasukkan Jenazah ke Dalam Lubang Kubur

Khusus untuk jenazah perempuan, maka dibentangkan kain di atas lubang kubur. Saat memasukkan jenazah ke dalam lubang kubur, yang melakukan sebaiknya dua atau tiga orang laki-laki yang paling dekat dengan keluarga si mayit pada saat hidupnya.

Selain itu, orang-orang yang memasukkan jenazah ke dalam lubang kubur diusahakan adalah mereka yang saat malam harinya tidak junub. Jenazah diletakkan dengan mendahulukan kepala dan kemudian meluruskan kakinya.

Pada saat meletakkannya di liang lahat disunahkan membaca Bismillahi wa ‘ala sunnati Rasulillahi shallallâhu ‘alaihi wa sallama yang artinya ” Dengan Nama Allah dan atas agama Rasulullah” .

Cara mengubur jenazah dengan membaca doa ini sesuai sunnah Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud.

” Dari sahabat Abdullah bin Umar, bahwa bila Rasulullah meletakkan jenazah di dalam kubur, beliau membaca Bismillahi wa ala sunnati Rasulillahi shallallâhu ‘alaihi wa sallama.”

Posisi Jenazah di Dalam Lubang Kubur

Wajib memiringkan jenazah ke sebelah kanan atau menghadapkannya ke arah kiblat. Jika jenazah tidak dihadapkan ke arah kiblat namun terlanjur diurug tanah, maka lubang kubur wajib digali kembali dan menghadapkan jenazahnya ke arah kiblat.

Setelah jenazah diletakkan secara pelan di dasar kubur, disunahkan untuk melepas tali ikatannya dimulai dari kepala dan membuka kain yang menutupi pipi serta jari-jari kaki sehingga bisa menempel ke tanah.

Seperti penjelasan sebelumnya, disunahkan meletakkan jenazah di liang kuburnya dengan posisi tubuh miring ke sebelah kanan. Karena kalau tubuhnya miring ke sebelah kiri, hukumnya makruh.

Dalam konteks wilayah Indonesia, arah kiblatnya cenderung ke arah barat. Sehingga kepala selalu berada utara. Bila posisi kepala ada di sebelah selatan, maka untuk menghadapkannya ke arah kiblat mesti memiringkan tubuhnya ke sisi kiri.

Proses Menutup Lubang Kubur

Untuk menutup jenazah, maka digunakan beberapa papan kayu dengan memberikan rongga yang cukup di sela-selanya. Setelah itu liang kubur ditimbun dengan tanah yang ditinggikan satu jengkal.

Setelah selesai ditimbun, maka lubang kubur dipasangi batu, kayu, atau bambu di bagian kepala tanpa diberi tulisan apa pun. Jika proses menutup kuburan sudah selesai, pengiring jenazah dan para pengantar jenazah menaburkan tanah ke atas kuburan sebanyak tiga kali.

Hal-hal Yang Dilarang Saat Mengubur Jenazah

Ada beberapa hal yang dilarang dalam tata cara mengubur jenazah laki-laki dan perempuan yang benar sesuai sunnah.

  • Meninggikan timbunan kuburan lebih dari satu jengkal di atas permukaan tanah.
  • Menembok kuburan atau membangun kijing di atasnya
  • Membuat tulisan pada nisan atau kayu penanda kuburan
  • Duduk di atas kuburan
  • Menjadikan kuburan sebagai tempat sholat atau membaca Alquran
  • Berjalan di atas kuburan tanpa menggunakan alas kaki
  • Melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjurus ke arah syirik dan takhayul, seperti minta doa, cari jimat dan perbuatan mistis lainnya.

Demikian tadi tata cara mengubur jenazah laki-laki dan perempuan sesuai sunnah. Semoga hal ini menambah pengetahuan tentang hukum Islam.

Hukum Azan Sebelum Mengubur Jenazah

Seolah sudah menjadi bagian dari tradisi di Indonesia, masyarakat selalu mengumandangkan azan saat jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat.

Lalu, apakah mengumandangkan azan sebelum menguburkan jenazah memang sesuai dengan ajaran Islam?

Salah seorang ulama mazhab Syafi’i yang bernama Ibnu Hajar Al Haitsaimi rahimahullah pernah ditanya pertanyaan yang senada.

Beliau menjawab, perbuatan tersebut tidak ada tuntunan dalam syariat.

Siapa yang menyangkanya sebagai sunah yang dilakukan ketika turun ke liang kubur, karena meng-qiyaskan dengan anjuran mengazani bayi yang baru lahir, sebagai bentuk penyamaan antara akhir kehidupan dengan awal kehidupan, maka dia telah keliru.

Di mana sisi kesamaannya sehingga bisa dikaitkan? Semata-mata ini dilakukan di awal, kemudian yang ini dilakukan di akhir, tidak bisa kemudian dianalogikan seperti itu. (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubro 3/24).

Source:https://www.dream.co.id/your-story/tata-cara-mengubur-jenazah-sesuai-sunnah-islam-190912t.html

Syariat Islam: Tata cara menguburkan jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in tata cara menguburkan jenazah muslim

Bagi seorang muslim yang masih hidup, merupakan kewajiban untuk menguburkan kaum muslimin yang telah meninggal. Hukumnya sendiri fardu kifayah (kewajiban kolektif). Menguburkan jenazah tidak hanya sekedar menimbun jenazah dengan tanah begitu saja. Ada aturan tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tentang tata cara pelaksanaan penguburan ini mengenai perlakuan yang harus dilakukan dan doa yang harus dipanjatkan.

Aturan dalam Islam perihal penguburan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan manusia. Tidak hanya ketika baru lahir di dunia dan semasa hidup, tapi setelah meninggal jenazah harus diperlakukan dengan baik.

Kewajiban dalam mengubur jenazah adalah dengan mengubur jenazah pada satu liang lahat yang dapat mencegah tersebarnya bau dan dimangsa binatang buas, serta menghadapkan ke arah kiblat. Untuk lebih sempurnanya, mengubur jenazah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Sebelum dikuburkan, jenazah harus disalati terlebih dahulu. Islam memerintahkan agar jenazah segera dikubur atau dimakamakan.
  1. Kaum muslimin yang masih hidup hendaknya mengantar jenazah ke kubur dengan cara memikul keranda jenazah karena termasuk dalam amal kebaikan. Ketika mengantar jenazah ke pemakaman, hendaknya untuk menjaga ketenangan, menyegerakan pemakaman, berdiri di sisi makam untuk beberapa saat, dan menaburkan tanah setelah pemakaman.
  1. Lubang kubur hendaknya telah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum jenazah tiba di. Lubang kubur dibuat cukup dalam, kira-kira setegak badan orang dewasa atau 50 hasta dengan lebar lebih kurang satu meter. Lubang kubur dibuat cukup dalam agar tidak mengeluarkan bau dan tidak mudah dibongkar binatang buas.
  1. Di dasar lubang yang telah dibuat, dibuat kembali lubang yang lebih sempit untuk meletakkan jenazah. Lubang sempit ini biasa disebut oleh masyarakat sebagai liang lahat. Ada dua cara untuk membuat liang lahat ini.

Pertama, berbentuk relung sempit selebar dan sepanjang badan jenazah yang terletak di tengah-tengah kubur atau lubang yang pertama. Kedua, berbentuk relung sepanjang dan selebar badan yang terletak di salah satu sisi kubur.

  1. Mengubur jenazah berarti memasukkan jenazah ke liang lahat tersebut dengan hati-hati. Pada saat memasukkan jenazah ke liang lahat, jenazah diletakkan dalam posisi miring. Diperbolehkan meletakkan tanah yang dikeraskan untuk mengganjal punggung dan menyangga kepala jenazah.
  1. Setelah itu, tali-tali yang mengikat jenazah dibuka dan bagian muka serta kaki dibuka sedikit agar pipi kanan dan ujung kaki jenazah menempel di tanah.
  1. Kemudian liang lahat ditutup dengan papan atau kayu, lalu ditimbun dengan tanah. Timbunan tanah pada liang lahat boleh ditinggikan kurang lebih satu jengkal dan diberi tanda dengan batu nisan.
  1. Setelah penguburan, orang yang hadir di pemakaman disunahkan menaburkan tanah ke arah kepala jenazah sebanyak tiga kali. Selain itu, disunahkan pula orang-orang yang hadir untuk memohonkan ampun bagi jenazah. Hal ini dipertegas oleh hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam, yang artinya:

Dari Utsman, “Nabi Salallahu ‘alaihi wassalam jika selesai menguburkan jenazah, berdirilah beliau, lalu bersabda. ‘Mintakan ampun saudaramu dan mintakanlah supaya ia berketetapan, sebab ia sekarang sedang ditanya’.” (H.R. Abu Dau dan Hakim)

Source:https://www.kenangan.com/blog/tata-cara-menguburkan-jenazah-menurut-syariat-islam

Tata cara menguburkan jenazah muslim sesuai Syariah Islam

30 April 2020 by no comments Posted in tata cara menguburkan jenazah muslim

Mempersiapkan Lubang Kubur

Tata cara menguburkan jenazah tentunya diawali dengan mempersiapkan lubang kuburnya. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membuat lubang kubur sesuai syariat Islam sebagai berikut :

Lubang Harus Dalam

Menurut ajaran Islam, kedalaman lubang kubur setinggi orang yang berdiri di dalam dengan tangan melambai ke atas. Kemudian lebar dengan ukuran satu dzira atau satu hasta lebih satu jengkal, setara 50 centimeter.

Galilah lubang di tanah yang kuat dan dalam supaya ketika jenazah mulai membusuk, bau jasadnya tidak tercium oleh binatang pemakan bangkai. Serta aman dari longsor akibat aliran hujan.

Bentuk Lubang

Tahap tata cara menguburkan jenazah dengan memperhatikan bentuk lubang kuburnya. Buatlah panjang yang cukup untuk jenazah, tentu melebihi tinggi badannya.

Apabila tanahnya keras, disunahkan untuk membuat liang lahat di dalam lubang kubur. Liang lahat ialah lubang yang dibuat di dinding kubur sebelah kiblat, seukuran yang cukup untuk meletakkan jenazah.

Jenazah ditaruh di liang lahat tersebut, kemudian ditutup menggunakan batu pipih. Lalu urug dengan tanah. Di Indonesia, sebagian besar masyarakat menggunakan papan kayu sebagai ganti batu pipih, supaya tanahnya tidak runtuh menimpa jenazah.

Sedangkan bila tanahnya gembur, disunahkan untuk membuat semacam lubang lagi di dasar kubur dengan ukuran dapat menampung jenazah. Jenazah diletakkan pada lubang tersebut, kemudian bagian atasnya ditutup dengan batu pipih atau papan kayu, lalu diurug dengan tanah.

Menguburkan di Pemakaman Muslim

Alangkah baiknya bila seorang musim yang meninggal, dikuburkan di pemakaman khusus muslim. Apabila tidak ada, serta waktu menguburkan jenazah yang harus dilakukan segera dianggap tidak masalah. Selama proses penguburannya masih sesuai syariat Islam.

Waktu Menguburkan Jenazah

Mengenai waktu menguburkan jenazah perlu diperhatikan pula, karena bisa berdampak pada proses pemakaman serta ketersediaan warga yang membantu menguburkan. Beberapa waktu yang sebaiknya dihindari ketika menguburkan jenazah:

  • Matahari terbit hingga naik.
  • Matahari berada di tengah-tengah.
  • Matahari hampir terbenam atau benar-benar terbenam

Adab Membawa dan Mengiringi Jenazah

1. Mengiringi dengan Khusyuk

Ketika mengiringi jenazah ke pemakaman, sebaiknya dilakukan dengan khusyuk dan khidmat tidak diselingi dengan bercanda.

Sebagai hari terakhir bagi keluarga, kerabat, tetangga, serta teman mendampingi jenazah menuju peristirahatan terakhirnya. Selain menjaga ucapan duniawi yang kurang penting, sebaiknya memperbanyak shalawat Nabi dan memikirkan tentang kematian.

2. Adab Pengiring Jenazah

Apabila diiringi dengan berjalan kaki, maka berjalanlah di sekitar keranda. Sementara ketika mengiringi jenazah dengan kendaraan, tentunya mobil jenazah berada paling depan diikuti rombongan yang lain.

Ketika ada kendaraan lain yang hendak lewat, sebaiknya mendahulukan iringan jenazah untuk lewat terlebih dahulu.

Adab Masuk Kuburan

Para pelayat dan pengiring jenazah tidak dianjurkan untuk duduk sebelum jenazah diturunkan dari para pembawanya. Adab selanjutnya, membaca salam seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW :

ASSALAMU ALAIKUM YA AHLAD DIYAR MINAL MUKMININ WA MUSLIMIN,WA INNA INSYA ALLAHU BIKUM LA HIQUN, NASALULLAHI LANA WALAKUMUL ‘AFYAH.

Artinya: ” Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Memasukkan Jenazah ke Lubang Kubur

Bagi jenazah perempuan, dikhususkan untuk membentangkan kain di atas lubang kubur. Ketika memasukkan jenazah ke dalam lubang, yang melakukan sebaiknya dua atau tiga orang laki-laki yang paling dekat dengan keluarga jenazah semasa hidupnya.

Selain itu orang-orang yang memasukkan jenazah, diusahakan oleh mereka yang ketika malam harinya tidak junub. Cara meletakkan jenazah dengan mendahulukan kepala, kemudian meluruskan kakinya.

Ketika meletakkannya di lubang kubur, disunahkan membaca :

BISMILLAHI WA ‘ALA SUNNATI RASULILLAHI SHALLALLHU ‘ALAIHI WA SALLAMA
Artinya : Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah” .

Tata cara mengubur jenazah membaca doa ini, sesuai sunnah Rasulullah seperti yang disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud :

Dari sahabat Abdullah bin Umar, bahwa bila Rasulullah meletakkan jenazah di dalam kubur, beliau membaca Bismillahi wa ala sunnati Rasulillahi shallallhu ‘alaihi wa sallama.”

Posisi Jenazah

Posisi jenazah di dalam lubang kubur, wajib dimiringkan ke sebelah kanan atau menghadap arah kiblat. Jika jenazah tidak dihadapkan ke arah kiblat namun terlanjur diurug tanah, maka harus menggali lagi dan menghadapkan jenazah ke arah kiblat.

Setelah jenazah diletakkan secara perlahan di dasar lubang, disunahkan untuk melepas ikatan talinya, dimulai dari kepala dan membuka kain, pipi serta jari-jari kaki harus menempel pada tanah.

Wilayah Indonesia, arah kiblatnya cenderung ke barat. Sehingga posisi kepala selalu di utara. Bila posisi kepala ada di sebelah selatan, maka untuk menghadapkannya ke arah kiblat harus memiringkan tubuh jenazah ke sisi kiri.

Tata Cara Menguburkan Jenazah Ringkas Sesuai Syariat

1. Memperdalam lubang kubur, supaya tidak tercium bau jenazah dan tidak dimakan oleh binatang pemakan bangkai.

2. Meletakkan jenazah di tepi lubang atau liang kubur sebelah kiblat, lalu ditaruh papan kayu atau semacamnya dengan posisi agak miring, supaya jenazah tidak langsung tertimpa tanah.
3. Kemudian di atasnya ditaruh semacam bata posisi mendatar untuk menahan tanah timbunan, sehingga tidak mengenai jenazah langsung. Khusus kondisi tanah gembur seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

4. Meletakkan jenazah dengan memasukkan kepala jenazah dari arah kaki kubur, atau dari posisi selatan jika di Indonesia.
5. Letakkan jenazah posisi miring ke kanan menghadap kiblat dengan menopang tubuh menggunakan batu atau papan kayu, supaya jenazah tidak kembali terlentang.

6. Para ulama menyarankan untuk meletakkan tanah di bawah pipi jenazah sebelah kanan setelah kain kafan dan semua tali dibuka, pipi menempel langsung ke tanah.
7. Ketika memasukkan jenazah ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa berikut :

“BISMILLAHI WA’ALAA MILLATI ROSUULILLAAH”

Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud), atau doa seperti di atas tadi.

8. Khusus jenazah perempuan, disarankan untuk membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu dimasukkan ke liang kubur. Sedangkan untuk mayat laki-laki tidak dianjurkan.
9. Jenazah perempuan sebaiknya yang mengurus adalah laki-laki yang tidak dalam keadaan junub atau tidak menyetubuhi istri mereka pada malam sebelumnya.

10. Setelah jenazah diletakkan di lubang kubur, disarankan untuk menaburkan tanah tiga kali dari arah kepala mayit, baru kemudian ditimbuni tanah.
11. Membaca doa setelah selesai menguburkan jenazah. 9 dari 9 halaman

Doa Sesudah Menguburkan Jenazah

“ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU, WA’AAFIHI WA’FU ‘ANHU, WA AKRIM NUZULAHU, WA WASSI’MADKHALAHU, WAGHSILHU BIL-MA’I WATSTSALJI WAL-BARADI, WANAQQOHI MINAL KHOTOYA KAMAAYUNAQQOTTSAUBU ABYADHU MINADANASI, WAABDILHU DAARON KHOIRON IN DAARIHI, WAAHLANKHOIRON MIN AHLIHI, WAZAUJAN KHOIRON MINZAUJIHI, WAQIHI FITNATAL QOBRI WA’ADAABINNAR

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya, muliakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang sulit; dan masukkanlah ia ke dalam surga dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”

Itulah beberapa tata cara menguburkan jenazah sesuai syariat Islam yang patut diketahui, guna menjalankan sunnah Nabi SAW dengan tepat. Kematian memang tidak dapat diterka, sebagai saksi hidup proses mengurusi jenazah, alangkah baiknya mulai mempersiapkan diri untuk hari kelak.

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (QS. Luqman : 34)[kur]

Source:https://www.merdeka.com/trending/tata-cara-menguburkan-jenazah-sesuai-syariat-islam-kln.html

Doa ketika memasukkan jenazah muslim ke liang lahat

30 April 2020 by no comments Posted in doa memasukkan jenazah muslim

Dalam buku Kumpulan Doa Berdasarkan Alquran dan Sunah karya Sa’id Ali bin Wahf al-Qahthoni dijabarkan, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika ditimpa kesulitan. Doa ini bersumber dari hadits Rasulullah SAW.

Hadis tersebut berbunyi: “Bismillahi wa ala sunnati Rasulillahi.” Yang artinya: “Dengan nama Allah dan di atas sunah Rasulullah.” Hadits ini merupakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan sanad yang shahih.

Adapun setelah jenazah dimakamkan, terdapat beberapa adab yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah SAW, setelah selesai memakamkan jenazah, berdiri di atasnya lalu bersabda: “Mintakan ampun kepada Aklah untuk saudaramu, dan mohonkan agar dia teguh dan tahan hati (ketika ditanya oleh dua malaikat), sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.”

Hadits tersebut merupakan riwayat Imam Abu Dawud dan al-Hakim. Hadits ini memiliki kedudukan yang shahih dan adz-Dzahabi juga menyetujuinya.

Source:https://republika.co.id/berita/q6izdl366/doa-ketika-memasukkan-jenazah-ke-liang-lahat

Doa menurunkan jenazah muslim

30 April 2020 by no comments Posted in doa menurunkan jenzah muslim

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ


Bismillāh wa ‘alā sunnati rasūlillāh. Artinya, “Dengan nama Allah dan atas sunnah rasul-Nya.” Pada riwayat lain, lafal doa itu berbunyi sebagai berikut.

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

Bismillāh wa ‘alā millati rasūlillāh. Artinya, “Dengan nama Allah dan atas agama rasul-Nya.” Imam An-Nawawi mengutip secara lengkap riwayat sahabat Ibnu Umar RA sebagai berikut. روينا في سنن أبي داود، والترمذي، والبيهقي،

وغيرها، عن ابن عمر رضي الله عنهما، أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا وضع الميت في القبر قال بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, dan selain mereka, dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bila meletakkan jenazah di kubur berdoa, ‘Bismillāh wa ‘alā sunnati rasūlillāh,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 136). Di samping doa Rasulullah SAW itu, Imam Syafi’i menganjurkan orang yang menurunkan jenazah ke dalam kubur membaca doa sebagai berikut. Lafal doa ini tercantum di dalam Mukhtashar Al-Muzanni.

اللَّهُمَّ أَسْلَمَهُ إِلَيْكَ الأَشِحَّاءُ مِنْ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ، وَقَرَابَتِهِ وَإِخْوَانِهِ، وَفَارَقَ مَنْ كَانَ

يُحِبُّ قُرْبَهُ، وَخَرَجَ مِنْ سَعَةِ الدُّنْيَا وَالحَيَاةِ إِلَى ظُلْمَةِ القَبْرِ وَضِيْقِهِ، وَنَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرَ مَنْزُوْلٍ بِهِ، إِنْ عَاقَبْتَهُ فَبِذَنْبٍ، وَإِنْ عَفَوْتَ عَنْهُ فَأَنْتَ أَهْلُ العَفْوِ، أَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، وَهُوَ فَقِيْرٌ إِلَى رَحْمَتِكَ، اللَّهُمَّ اشْكُرْ حَسَنَتَهُ، وَاغْفِرْ سَيِّئَتَهُ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَاجْمَعْ لَهُ بِرَحْمَتِكَ الأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ، وَاكْفِهِ كُلَّ هَوْلٍ دُوْنَ الجَنَّةِ، اللَّهُمَّ اخْلُفْهُ فِي تَرِكَتِهِ فِي الغَابِرِيْنَ، وَارْفَعْهُ فِي عِلِّيِّيْنَ، وَعُدْ عَلَيْهِ بِفَضْلِ رَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allāhumma, aslamahū ilaikal asyihhā’u min ahlihī wa waladihī, wa qarābatihī wa ikhwānihī; wa fāraqa man kāna yuhibbu qurbahū, wa kharaja min sa‘atid dunyā wal hayāti ilā zhulmatil qabri wa dhīqihī; wa nazala bika wa anta khairu manzūlin bihī. In ‘āqabtahū fa bi dzanbin. Wa in ‘afauta ‘anhu fa anta ahlul afwi. Anta ghaniyyun ‘an ‘adzābihī wa huwa faqīrun ilā rahmatika. Allāhummasykur hasanatahū, waghfir sayyi’ātahū, wa a‘idzhu min ‘adzābil qabri, wajma‘ lahū bi rahmatikal amna min ‘adzābika, wakfihī kulla haulin dūnal jannati. Allāhummakhlufhu fī tarikatihī fil ghābirīna, warfa‘hu fī ‘illiyyīna, wa ‘ud ‘alaihi bi fadhli rahmatika, yā arhamar rāhimīna,

(Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 136-137). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/97207/doa-menurunkan-jenazah-di-kubur

Doa setelah memakamkan jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in doa memakamkan jenazah

Riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kami jumpai adalah hadis dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai memakamkan jenazah, beliau berdiri di samping kuburannya, lalu bersabda,

اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

”Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mintalah keteguhan untuknya. Karena saat ini dia sedang diuji.” (HR. Abu Daud 3221, al-Hakim 1372, al-Baghawi dalam Syarhus Sunah 1523, dan sanadnya dishahihkan ad-Dzahabi).

Lafadz Doanya

Berdasarkan hadis di atas, seusai memakamkan jenazah, kita bisa membaca:

اللَّهُمَّ اغْـفِـرْ لَــهُ

ALLAHUM-MAGHFIR LAHUU (Ya Allah, ampunilah dia)

اللَّهُمَّ ثَـــبـِّـــتْهُ

ALLAHUMM TSABBIT HUU (Ya Allah, berilah keteguhan kepadanya).

Read more https://konsultasisyariah.com/22566-doa-setelah-memakamkan-jenazah.html

Doa Menguburkan Jenazah Muslimdalam sunah Nabi

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Saat menguburkan jenazah disunahkan membaca doa berikut selama prosesi pemakaman.

بسم الله وعلى ملة الله

Bismillah wa ‘ala millatillah.

Dengan menyebut nama Allah, dan semoga selalu di atas agama Allah.

Hal ini sebagaimana riwayat hadis dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah saw. bersabda.

إذا وضعتم ‏موتاكم في القبور فقولوا: بسم الله، وعلى ملة رسول الله” رواه أحمد، والترمذي، وأبو ‏داود، وابن ماجه

Saat kalian sudah meletakkan jenazah di dalam kubur, berdoalah dengan bismillah wa ‘ala millatillah.

Sementara itu, doa lain yang bisa dibaca saat menguburkan jenazah adalah doa dari sahabat Ibnu Umar sebagai berikut.

اللهم أجرها من الشيطان، ومن عذاب القبر، اللهم جاف الأرض عن ‏جنبها، وصعد روحها، ولقها منك رضواناً

Allohumma ajirna minas syaithoni wa min ‘adzabil qobri, allohumma jafil ardho ‘an janbiha wa sho‘id ruhaha wa laqqiha minka ridhwana

Ya Allah, selamatkanlah kami dari setan dan azab kubur. Ya Allah, perluaslah makam jenazah ini, angkatlah ruhnya, temukanlah ia dengan keridaan-Mu (HR Ibnu Majah)

Sementara itu, doa yang dibaca sahabat Bilal saat menguburkan jenazah adalah sebagai berikut.

‏أسلمه إليك الأهل والمال والعشيرة، والذنب العظيم، وأنت غفور رحيم فاغفر له

Usallimuhu ilaikal ahla wal mala wal ‘asyirota wadz dzanbal ‘azhim, wa anta ghofurur rohim faghfir lahu.

Aku memasrahkan keluarga, harta, kerabat, dan dosa besar jenazah ini kepada-Mu, karena Engkau Maha Pengampun dan Penyayang. Ampunilah dosanya (HR Sa‘id)

Source:https://bincangsyariah.com/zikir-dan-doa/doa-saat-menguburkan-jenazah/

Doa Menguburkan Jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Tata cara mengubur jenazah dalam Islam.

Lubang Kubur.

Tentu sebelum menguburkan jenazah, kita perlu mempersiapkan liang kubur yang layak untuk si mayit. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan lubang kubur.

1. Bentuk lubang kubur.

Dilansir dari dream.co.id, disebutkan bahwa jika tanahnya keras, disarankan untuk membuat liang lahat dalam lubang kubur. Yang dimaksud liang lahat di sini adalah lubang yang dibuat di dinding kubur sebelah kiblat yang mana cukup ukurannya untuk menaruh mayit.

Jenazah diletakkan di liang tersebut lalu ditutup dengan batu pipih kemudian diurug dengan tanah. Tetapi di Indonesia, umumnya orang-orang menggunakan papan kayu sebagai pengganti batu pipih agar tanahnya tidak runtuh mengenai jenazah.

Tetapi apabila tanahnya adalah tanah gembur, disunahkan untuk membuat semacam lubang lagi di dasar kubur seukuran yang bisa menampung jenazah. Jenazah diletakkan di lubang tersebut lalu di bagian atasnya ditutup dengan batu pipih atau papan kayu lalu diurug dengan tanah.

2. Lubang kubur harus dalam.

Untuk kedalaman lubang kubur harus setinggi orang berdiri dengan tangan melambai ke atas. Sedangkan untuk lebarnya seukuruan satu hasta atau dzira lebih satu jengkal atau kurang lebih sekitar 50 cm.

Lubang kubur digali pada tanah yang kuat dan dalam agar saat jenazah mengalami pembusukan tidak tercium baunya dan aman dari gangguan hewan pemakan bangkai. Hal itu juga dilakukan untuk tetap aman dari tanah longsor.

3. Dikubur di pemakaman Muslim.

Sebaiknya secara ideal, jenazah yang beragama muslim dikuburkan di pemakaman yang khusus untuk muslim. Tetapi jika tidak terdapat pemakaman muslim dan harus dikuburkan secara segera, maka bisa dikuburkan di pemakaman umum asalkan sesuai dengan tata cara mengubur jenazah menurut Islam.

Waktu menguburkan jenazah.

Meski terlihat sepele, dalam waktu penguburan jenazah perlu untuk diperhatikan karena dapat berdampak bagi proses pemakaman dan ketersediaan panitia penguburan. Beberapa waktu yang sebaiknya kita hindari ketika akan menguburkan jenazah:

– Saat matahari berada di tengah-tengah

– Saat matahari hampir terbenam atau benar-benar terbenam

– Saat matahari terbit sampai naik

Adab membawa dan mengiringi jenazah ke kuburan.

Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam membawa dan mengiringi jenazah ke pemakaman:

1. Mengiringi jenazah dengan khusyuk.

Ketika mengiringi jenazah ke kuburan hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh atau khusyuk. Karena ini adalah saat terakhir bagi keluarga, kerabat, teman mendampingi jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Maka dari itu, ketika masih diliputi kesedihan rasa kehilangan hendaknya dilakukan dengan kesungguhan hati dan tidak diselingi dengan bercanda.

2. Posisi pengiring jenazah.

Bagi pengiring jenazah yang berjalan kaki posisinya di sekitar keranda mayit, sementara yang menggunakan kendaraan berada di belakang iringan jenazah yang berjalan kaki. Jika kendaraan ingin lewat, dahulukan iringan jenazah.

3. Saat memasuki kuburan.

Saat masuk ke dalam kuburan, pengiring jenazah tidak dianjurkan untuk duduk sebelum jenazah diturunkan dari pundak yang membawanya. Selain itu, sebelum masuk ke pemakaman dianjurkan untuk mengucapkan salam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

“Assalamu alaikum ya ahlad diyar minal mukminin wa muslimin, wa inna insya Allahu bikum la hiquuna, nasalullahi lana walakumul ‘aafiyah.”

Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hal-hal yang dilarang saat mengubur jenazah.

Dalam sunah Islam, terdapat beberapa hal yang dilarang dalam tata cara menguburkan jenazah, yakni:

– Meninggikan timbunan kuburan lebih dari satu jengkal di atas permukaan tanah

– Duduk di atas kuburan

– Berjalan di atas kuburan tanpa menggunakan alas kaki

– Menjadikan kuburan sebagai tempat salat atau membaca Alquran

– Membuat tulisan berlebihan pada nisan atau kayu penanda kuburan

– Menembok kuburan atau membangun kijing di atasnya

– Melakukan perbuatan yang dapat menjurus ke arah syirik atau takhayul, seperti mencari jimat, doa dan perbuatan mistis lainnya

Tata cara menguburkan jenazah secara singkat.

1. Memperdalam galian lubang kubur agar tidak tercium bau jenazah dan tidak dimakan oleh binatang pemakan bangkai.

2. Letakkan jenazah di tepi lubang atau liang kubur sebelah kiblat kemudian di atasnya ditaruh papan kayu atau semacamnya dengan posisi agak condong atau miring agar tidak langsung tertimpa tanah.

Kemudian di atasnya ditaruh semacam bata atau papan dari semen alam posisi mendatar untuk penahan tanah timbunan sehingga tidak mengenai jenazah langsung. Hal ini dilakukan jika tanahnya gembur seperti yang telah dijelaskan di atas.

3. Meletakkan jenazah dengan memasukkan kepala jenazah dari arah kaki kubur.

4. Letakkan jenazah dengan posisi miring ke kanan menghadap ke arah kiblat dengan menyandarkan tubuh sebelah kiri ke dinding kubur agar tidak terlentang kembali.

5. Setelah itu, para ulama menyarankan untuk menaruh tanah di bawah pipi jenazah sebelah kanan setelah kain kafannya dibuka dari pipi itu dan ditempelkan langsung ke tanah. Simpul tali yang mengikat kain kafan juga supaya dilepas.

6. Ketika memasukkan jenazah ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa berikut:

“Bismillahi Wa’alaa millati Rosuulillaah”

Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud)

7. Untuk jenazah perempuan, disarankan untuk membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu dimasukkan ke liang kubur. Sedangkan untuk mayat laki-laki tidak dianjurkan.

8. Untuk jenazah perempuan sebaiknya yang mengurus adalah laki-laki yang tidak dalam keadaan junub atau tidak menyetubuhi istri mereka semalam sebelumnya.

9. Setelah jenazah diletakkan di liang kubur, disarankan untuk menaburinya dengan tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit kemudian ditimbuni tanah.

10. Membaca doa setelah selesai menguburkan jenazah.

Doa selesai penguburan jenazah.

“Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi, wanaqqohi minal khotoya kamaayunaqqottsaubu abyadhu minadanasi, waabdilhu daaron khoiron in daarihi, waahlankhoiron min ahlihi, wazaujan khoiron minzaujihi, waqihi fitnatal qobri wa’adaabinnar”

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya, muliakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang dulit; dan masukkanlah ia ke dalam surga dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka.”

Oleh: Hameda Rachma

Source: https://www.brilio.net/creator/tata-cara-menguburkan-jenazah-dalam-islam-beserta-bacaan-doanya-6f667f.html




Pengertian menguburkan jenazah Muslim dalam Islam

30 April 2020 by no comments Posted in Menguburkan Jenazah Muslim

Pengertian dan Proses terhadap Jenazah

Jenazah berasal dari bahasa Arab yaitu   (جن ذح) yang berarti tubuh mayat dan kata جن ذ  yang berarti menutupi. Secara umum kata jenazah memiliki arti tubuh mayat yang tertutup. Secara umum pengertian menguburkan jenazah adalah proses yang dilalui mulai dari pembersihan mayat hingga ia dimasukkan ke dalam kubur atau liang lahat.

Untuk menyelenggarakan penguburan jenazah sifatnya fardhu kifayah sehingga dapat dilakukan sebagian dari kaum muslimin (tidak wajib secara keseluruhan asalkan ada perwakilan kaum muslimin). Namun bagi kaum muslimin yang berada di sekitar rumah jenazah maka sangat dianjurkan untuk ikut dalam proses.

Sebelum melakukan penyelenggaraan jenazah maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh panitia. Hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memejamkan mata mayit dan mendoakan agar diampuni seluruh dosa mayit
  2. Melemaskan tangan dan disedekapkan ke dada
  3. Meluruskan kaki mayit
  4. Mengatupkan rahang mayit dan mengikatnya dari ujung kepala hingga ke dagu agar mulut tida menganga
  5. Meletakkan jenazah ke arah utaea dan badan diselimuti kain
  6. Memberikan informasi kematiannya kepada kerabat dan keluarga
  7. Melunasi hutang-hutang jika ia memiliki hutang
  8. Segera menyiapkannya bersama orang-orang terdekat.

Penyelenggaraan Jenazah

Untuk menyelenggarakan jenazah ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Hal ini tentu sebagaimana yang disyariatkan oleh islam. Berikut adalah proses penyelenggaraan jenazah yang harus dilakukan oleh panitia terkait.

  1. Memandikan Jenazah

Memnadikan jenazah adalah proses awal untuk membersihkan mayat sebelum ia di shalatkan dan dikuburkan. Mayat beragama islam wajib untuk dimandikan terlebih dahulu dan disucikan. Proses ini yaitu dengan mengalirkan air bersih ke seluruh tubuhnya walaupun jika mayit perempuan sedang haid atau setelah junub. Proses ini tentu dilakukan oleh orang yang masih hidup dan digunakan sabun atau wangi-wangian dengan cara yang lemah lembut.

Proses ini dimulai dengan menyediakan air yang suci dan perlengkapan mandi sebagaimana seorang yang hidup akan mandi. Tempat untuk memandikan adalah tempat yang tertutup dan yang memandikan adalah orang yang memang akan berkepentingan untuk memandikan saja. Selain itu disiapkan pula kain kafan untuk mengkafani mayit setelah dimandikan. Untuk proses memandikan jenazah maka diusahakan adalah orang-orang terdekat atau keluarga terdekat jenazah. Jika jenazah adalah laki-laki maka dimandikan oleh laki-laki begitupun jika perempuan maka dimandikan oleh perempuan. Diperbolehkan berbeda jenis jika yang memandikan adalah istri/suaminya.

Dalam memandikan jenazah juga perlu diperhatikan agar yang memandikan untuk melepas segala pakaian yang melekat, melepas seluruh perhiasan, membersihkan rongga mulut, kuku, dan semua tubuh dari najis baru memandikan dengan membersihkan anggota badan dan anggota wudhu. Dalam membersihkan maka dimulai dari bagian kanan.

  1. Mengkafani Jenazah

Proses mengkafani jenazah adalah membalut seluruh tubuh dengan kain kafan. Bagi kaum laki-laki yang sudah sunat dikafani dengan tiga lapis kain putih dan mayat perempuat sunat dengan lima lapis kain yang terdiri dari sehelai kain sarung, selendang serta dua helai kain untuk membalut mayit.

Sebelum dimulai mengkafani maka dimulai dengan menutup dulu dinding agar tidak dilihat yang bukan muhrim. Setelah itu, meletakkan kain kaffan pada urutan paling bawah yang diberikan wangi-wangian dan kapur barus. Bagi jenazah yang memiliki rambut panjang maka rambut tersebut dikepang jika memungkinkan. Bagi perempuan maka dipakikan lima lapis yaitu kerudung, baju kurung, kain basah penutup aurat dan dua lembar kain penutup yang rapi dan diikat dengan simpul di kiri. Jika sudah selesai, maka dipaikan kain kafan yang digulung ke seluruh tubuh dan menutup wajah hingga seluruh keluarga jenazah melihat mayit.

  1. Melakukan Shalat Jenazah

Dalam proses melakukan shalat jenazah maka ada hal hal yang dilakukan. Diantaranya adalah meletakkan terlebih dahulu jenazah menghadap kiblat. Posisi jenazah berada di depan orang yang mensalatkannya dan kepala jenzah di sebelah kanan dan kaki sebelah kiri imam. Jika jenazah adalah laki-laki maka berdiri sejajar dengan dada jenazah dan apabila jenazahnya perempuan maka imam berdiri sejajar dengan pinggang jenazah. Baru setelah itu melakukan ritual shalat jenazah.

Urutan shalat jenazah adalah sebagai berikut:

  • Membaca niat
  • Takbir pertama lalu membaca surat Al Fatihah
  • Takbir kedua lalu membaca shalawat Nabi
  • Takbir Kediga, membaca doa shalat jenazah

Selesai itu maka baru dilaksanakan penguburan jenazah. Selain itu bagi keluarga yang ditinggalkan juga perlu mengetahui hukum mengenai Hukum ziarah kubur dalam islam , Shalat Jenazah,  dan Adab Ziarah Kubur.  Agar bisa mempersiapkannya kelak akan dilaksanakan.

  1. Melakukan Penguburan Jenazah

Setelah semuanya dilakukan maka terakhir adalah membawa jenazah dan menguburkannya di kuburan. Hal ini adalah proses terakhir dimana keluarga dapat melihat jenazah. Dan tentu doa masih bisa diberikan dan dipanjatkan kepada Allah SWT untuk jenazah.

Source: https://dalamislam.com/dasar-islam/pengertian-menguburkan-jenazah

Hukum mengubur beberapa jenazah muslim dalam satu kubur

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Pada dasarnya, yang berlaku dalam hukum Islam adalah mengubur satu mayat dalam satu liang kubur. Tidak diperbolehkan mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu liang kubur, kecuali dalam keadaan tertentu. Imam Rafi’i dalam kitabnya pernah menyampaikan: المستحب في حال

الاختيار أن يدفن كل ميت في قبر كذلك (فعل النبي صلي الله عليه وسلم وأمر به) فإن كثر الموتي بقتل وغيره وعسر إفراد كل ميت بقبر دفن الاثنان والثلاثة في قبر واحد

Artinya: “Sunnah dalam keadaan tidak mendesak (ikhtiyar) untuk menguburkan tiap jenazah dalam satu liang kubur. Seperti itulah yang dilakukan dan diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Andai terdapat banyak sekali jenazah oleh sebab perang atau yang lain (seperti tsunami atau tanah longsor, pen.), dan sulit bila mesti mengubur tiap jenazah dalam satu liang kubur secara sendiri-sendiri, maka dua atau tiga jenazah bisa dikuburkan dalam satu liang kubur.” لما روى (أنه صلي الله عليه

وسلم قال للانصار يوم أحد احفروا واوسعوا وعمقوا واجعلوا الا ثنين والثلاثة في القبر الواحد وقدموا اكثرهم قرآنا) وليقدم الأفضل إلي جدار للحد مما يلي القبلة

“Hal ini berdasarkan hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada sahabat Anshor saat perang Uhud, ‘Galilah kubur, luaskan, dan dalamkan, lalu masukkan dua atau tiga jenazah dalam satu liang kubur, dan taruh di depan mereka yang hafalan Al-Qur’annya paling banyak, dan posisikan jenazah-jenazah yang paling utama dekat dengan tembok kubur yang menghadap kiblat.” (Abdul Karim ar-Rafi’i, asy-Syarhul Kabir, juz V, hal. 245) Di kitab turats lain, Imam Nawawi menyampaikan hukum mengubur mayit (jenazah) berikut alasan di baliknya. Dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzzab (juz V:281) beliau menjelaskan bahwa mengubur jenazah hukumnya fardu kifayah, karena membiarkannya di atas bumi akan merusak kehormatan mayit itu sendiri, dan masyarakat di sekitarnya akan dirugikan oleh sebab bau mayit tersebut.

Ditemukan dalam kitab Iqna’ sebuah keterangan tegas demikian: ـ (ولا يدفن اثنان) ابتداء (في قبر

واحد) بل يفرد كل ميت بقبر حالة الاختيار للاتباع، فلو جمع اثنان في قبر واتحد الجنس كرجلين أو امرأتين كره عند الماوردي وحرم عند السرخسي، ونقله عنه النووي في مجموعه مقتصرا عليه

Artinya: “Tidak diperbolehkan mengubur dua mayat dalam satu liang kubur. Sebaliknya setiap mayat harus disendirikan dalam kubur mereka masing-masing kecuali dalam keadaan mendesak, demi mengikuti Rasulullah. Andai ada dua mayat dikubur dalam satu liang kubur, maka hukumnya diperinci: bila sejenis (laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan) maka hukumnya makruh menurut pendapat Imam Mawardi dan haram menurut pendapat Imam Syarkhasi. Dan pendapat haram inilah pendapat yang dikutip Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya secara ringkas.”

وعقبه بقوله: وعبارة الأكثرين ولا يدفن اثنان في قبر، ونازع في التحريم السبكي،

(إلا لحاجة) أي الضرورة كما في كلام الشيخين كأن كثر الموتى وعسر إفراد كل ميت بقبر فيجمع بين الاثنين والثلاثة والاكثر في قبر بحسب الضرورة

“Imam Nawawi melanjutkan komentar beliau tentang ungkapan ‘mayoritas ulama berpendapat tidak diperbolehkannya mengubur dua mayat dalam satu liang kubur’. Pengharaman ini mendapat penolakan dari Imam Subki, karena ada pengecualian kondisi darurat, seperti yang disampaikan Imam Rafi’i dan Imam Nawawi manakala terdapat banyak mayat, dan sulit untuk mengubur mayat satu per satu dalam liang kubur berbeda-beda–sehingga hendaknya dua, atau tiga mayat atau lebih bisa dikumpulkan dalam satu liang kubur mempertimbangkan seberapa besar kondisi darurat tersebut. (Imam Musa al-Hajawi, Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’, juz I, hal. 194) Lalu bagaimana bila satu liang kubur terdapat lebih dari satu jenazah berlainan jenis kelamin? Tentu haram. Kesimpulan ini bisa ditarik dari beberapa penjelasan di atas. Bila yang sejenis saja dimakruhkan (Imam Mawardi) dan diharamkan (Imam Syarkhasi), apalagi berlawanan jenis. Dari keterangan di atas, bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa hukum mengubur dua mayat atau lebih dalam satu liang kubur adalah haram. Hukumnya menjadi boleh ketika kondisi darurat, seperti banyak sekali mayat pasca-tsunami, tanah longsor, kebakaran, atau yang lainnya. Wallahu a’lam.

Ustadz Moh. Ihsanuddin, Peneliti & Pengkaji Kitab Turats dari Kediri Jawa Timur

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/104185/hukum-mengubur-beberapa-jenazah-dalam-satu-liang-kubur

Hukum menguburkan jenazah Muslim waktu malam

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Menurut Lembaga Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir, para ulama sepakat boleh hukumnya melangsungkan pemakaman jenazah pada waktu malam.

Mengutip Syekh al-Hathab al-Maliki dalam Mawahib al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil, menyatakan boleh mengubur jenazah malam hari. 

Menurut Imam an-Nawawi, pemakaman Fathimah, putri Rasulullah SAW yang dilaksanakan malam hari menunjukkan kebolehan tersebut.

Meski demikian, jika memungkinkan pelaksanannya siang hari, selama tidak ada halangan, tentu lebih utama. 

Sebagian ulama menghukumi makruh memakamkan jenazah malam hari meski tetap memperbolehkannya. Mereka merujuk pada hadis riwayat Muslim dari Jabir bin Abdullah.

Sewaktu Rasulullah sedang berkhutbah, beliau pernah mendapat kabar ada seorang sahabat yang meninggal pada malam hari dan langsung dimakamkan malam itu juga. Rasul melarang pada malam hari sampai dia dishalatkan secara bersama-sama keesokannya, kecuali jika memang ada hal yang mendesak. 

Namun, sekali lagi, mayoritas ulama berpandangan hukum memakamkan jenazah malam hari tidak makruh. Selain pemakaman Fatimah, banyak pula sahabat, termasuk Abu Bakar yang dimakamkan pada malam hari. 

Source: https://republika.co.id/berita/plck66320/apa-hukum-menguburkan-jenazah-di-waktu-malam

Hukum mengubur jenazah Muslim dengan petinya

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakar Syatha menjelaskan sebagai berikut;

وكره صندق إلا لنحو نداوة فيجبه

“Dimakruhkan mengubur mayit di dalam peti kecuali karena tanahnya lembab, maka hukumnya wajib.”

Syaikh Wahbah Azzuhaili dalam kitabnya Alfiqhul Islami wa Adillatuhu menyebutkan pendapat ulama dari empat mazhab terkait hukum mengubur jenazah di dalam peti.

Pertama, menurut ulama Hanafiyah, tidak masalah mengubur jenazah dengan menggunakan peti jika dibutuhkan, seperti tanahnya gembur. Dan disunahkan jika tanahnya mudah digali.

Kedua, menurut ulama Malikiyah, sebaiknya jenazah tidak kubur di dalam peti. Hanya saja disunahkan menutup lubang liang lahad dengan bata, papan kayu, atau batu agar bisa rapat.

Ketiga, makruh mengubur jenazah di dalam peti kecuali tanahnya gembur dan mudah roboh dan tidak bisa menahannya kecuali dengan peti tersebut, atau wanita yang tidak memiliki mahram agar tidak bisa disentuh oleh orang lain pada saat dikuburkan atau lainnya.

Keempat, menurut ulama Hanabilah, tidak disunahkan mengubur jenazah di dalam peti karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi Saw. dan juga sahabatnya. Juga hal tersebut menyerupai dengan penduduk dunia. Selain itu, tanah dapat segera mengeringkan kotoran-kotorannya.

Dengan demikian, sebaiknya jenazah dikuburkan tanpa dibungkus dengan peti atau sejenisnya kecuali dalam kondisi dibutuhkan dan untuk kemaslahatan jenazah.

Source: https://bincangsyariah.com/kalam/hukum-mengubur-jenazah-beserta-dengan-petinya/

Tata cara menguburkan jenazah Muslim dalam islam

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Mempersiapkan Liang Kubur

Sebelum melakukan penguburan jenazah maka yang harus dilakukan adalah mempersiapkan liang kubur untuk mayit. Hal-hal tersebut harus dilakukan sebagai berikut:

  1. Menggali Liang Kubur secara Dalam

Liang kubur digali dengan dalam pada tanah yang kuat. Tujuan dibuat dalam adalah agar saat mayit yang membusuk di dalamnya tidak tercium bau jasad dan aman dari gangguan hewan pemakan bangkai. Selain itu juga menghindari binatang buas dan longsor yang membuat tergerus oleh aliran air yang mengalir

  1. Bentuk Liang Kubur

Bentuk liang kubur adalah berupa lahad yaitu liang yang khusus dibuat di dasar kubur. Lahad ini menghadap ke kiblat dan berada di pinggir untuk meletakkan jenazah. Liang ini dibuat khusus di dasar kubur pada bagian tengah.

  1. Kuburan di Penguburan Muslim

Idealnya mayit muslim dikubur di tempat penguburan yang memang khusus muslim. Namun apabila tidak terdapat penguburan muslim dan darurat harus dilakukan penguburan segera, tidak masalah asalkan tata cara penguburan tetap sesuai muslim.

  1. Waktu Penguburan Jenazah

Waktu penguburan juga perlu untuk diperhatikan. Karena akan berefek kepada para panitia penguburan dan proses penguburan. Waktu yang tidak disarankan untuk mengubur adalah :

  • Saat matahari terbit hingga naik
  • Saat matahari di tengah-tengah
  • Saat matahari hampir terbenam dan hingga benar-benar terbenam
  1. Penutup Lubang Kubur

Penutup lubang kubur tentu harus yang kuat dan menggunakan kayu yang kuat juga. Ditambah juga bambu dan batu untuk menyangga sehingga tanah tidak mudah longsor ke bawah. Selain itu keranda mayit atau jenazah juga harus tertutup rapat dan sederhana saja. Dalam islam tidak di syariatkan soal keranda yang mewah apalagi menggunakan berbagai perhiasan. Karena sejatinya menghadap Allah kembali adalah membawa amalan bukan membawa harta dunia.

Membawa dan Mengiringi Jenazah ke Kubur

Selain mempersiapkan liang kubur, maka keluarga atau kerabat mayit juga harus mempersiapkan diri untuk membawa dan mengiringi jenazah. Untuk itu berikut adalah cara membawa dan mengiri jenazah hingga ke kubur.

  1. Mengiring Jenazah dengan Khusuk

Orang orang terdekat, keluarga, dan kerabat dianjurkan untuk ikut mengiring jenazah dari setelah pemandian menuju ke kuburan. Hal ini adalah proses terakhir keluarga untuk mendampingi mayit menuju ke tempat berpulang akhirnya. Saat mengiringi jenazah tentu tidak bersikap sambil senda gurau atau bersuara. Termasuk tidak dianjurkan juga untuk berzikir atau membaca Al-Quran.

  1. Pengiring Jenazah

Pengiring jenazah yang mengantar dengan berjalan kaki berada di sekitar mayit dan yang menggunakan kendaraan berada di belakang iringan mayit. Jika kendaraan yang lewat, maka didahulukan untuk jenazah yang lewat. Untuk para pengiring jenazah juga tidak dianjurkan untuk duduk terlebih dahulu sebelum jenazah diturunkan dari pundak pembawanya.

Saat memasuki kuburan pengiring pun juga harus mengucapkan salam dan melepaskan alas kaki. Bacaan yang diucapkan adalah  “assala-mu „alaikum da-ra qoumin mu‟mini-na wa inn aissya- allo-hu la-khiqu-n. Allohumma la-takhrimna-ajrohum wala taftinna-badahum”.

Artinya: “Semoga kedamaian tercurah kepadamu, wahai perumahan orang-orang yangMukmin. Dan insya Allah, kami akan menyusul kamu sekalian. Ya Allah,janganlah Engkau menjauhkan kami dari pahala mereka dan janganlah Engkautimbulkan fitnah kepada kami, sepeninggal mereka”

Bisa juga membaca “assala-mu „alaikum ahlad diyari minal mu‟mini-na walmuslimin, wa inna- insya- allo-hu bikum la-khiqu-n. Nasalullo-ha lana wa lakumul „afiyah”

  1. Memasukkan ke dalam Kubur

Adanya dua atau tiga orang yang terdekat dari keluarga mayit memasukkan mayit ke dalam kubur dengan berdiri untuk menerima jenazah yang akan dikuburkan. Keluarga yang memasukkan diusahakan adalah mereka yang saat malam harinya tidak berjunub. Jenazah dikuburkan dari arah kaki kubur dan mendahulukan kepala sambil membaca “Bismillahi Wa Ala Millati Rasulullah” yang artinya “Dengan Nama Allah dan atas agama Rasulullah”.

  1. Posisi Mayit saat Dimasukkan ke Kubur

Khusus untuk jenazah perempuan maka dibentangkan kain di atas liang kubur. Untuk mayit baik laki laki atau perempuan maka dimiringkan ke sisi kanan dan menghadap kiblat. Tidak lupa melepas tali-tali dan membuka kain yang menutupi pipi serta jari-jari kaki sehingga bisa menempel ke tanah.

  1. Proses Penutupan Kuburan

Saat proses menutup kuburan maka digunakan dengan papan kayu atau bambu, lempeng, dengan memberikan rongga yang cukup di lubangnya. Selain itu juga menimbun liang kubur dengan tanah yang ditinggikan satu jengkal. Setelah selesai maka dipasang juga batu, kayu, atau bambu pada arah kepala tanpa diberi identitas apapun. Jika sudah selesai, pengiring jenazah dan para pengantar jenazah dapat menyaksikan penguburan sambil menaburkan tanah ke atas kuburan sebanyak tiga kali.

  1. Larangan yang Berkaitan dengan Proses Penguburan

Ada beberapa larangan yang berkaitan dengan proses penguburan. Hal-hal ini tentu harus diperhatikan oleh para pantia dan pengiring jenazah.

  • Meninggikan timbunan kuburan lebih dari satu jengkal di atas permukaan tanah.
  • Menembok kuburan dan menjadi bangunan
  • Menulisi kuburan dengan berbagai tulisan
  • Duduk di atas Kuburan
  • Menjadi kuburan sebagai bangunan masjid
  • Berjalan di atas kuburan tanpa menggunakan alas kaki
  • Melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjurus ke arah syirik dan takhayul, meminta doa pada mayit, dan mistis

Source: https://dalamislam.com/dasar-islam/tata-cara-menguburkan-jenazah

Tata cara mengubur jenazah Muslim karena corona

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Tata cara menguburkan jenazah pasien virus corona COVID-19 sudah diatur dalam Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 dan edaran Direktoran Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Protokol menguburkan jenazah ini sedikit berbeda dari penguburan biasa. Dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19, terdapat poin bahwa pengurusan jenazah terpapar virus corona harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Terdapat empat tindakan pengurusan jenazah seorang muslim, yaitu memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan. Penekanan dilakukan untuk proses memandikan dan mengafani, karena ketika pasien COVID-19 meninggal, virus masih ada di tubuhnya dan dapat menular kepada orang berkontak dengan jenazah tersebut, dalam hal ini yang melakukan proses pengurusan.

Dalam prosedur menyalatkan dan menguburkan jenazah pasien corona, MUI menegaskan, dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar virus korona. Hal ini kemudian ditegaskan dalam Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim yang Terinfeksi COVID-19 tertanggal 27 Maret 2020. Sementara itu, Bimas Islam Kemenag RI sudah merilis Protokol Pengurusan Jenazah Pasien COVID-19. Terkait pengurusan jenazah, yang layak diperhatikan adalah: Pengurusan jenazah hanya boleh dilakukan oleh pihak dinas kesehatan secara resmi yang sudah ditunjuk, seperti rumah sakit tempat meninggalnya pasien. Jenazah korban COVID-19 ditutup dengan kain kafan atau bahan yang terbuat dari plastik yang mampu menahan air, juga dapat pula ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar. Apabila jenazah sudah dikafani atau dalam kondisi terbungkus, maka petugas dilarang untuk membuka kembali. Langkah ini berisiko karena ada potensi penularan virus COVID-19 dari tubuh jenazah. Kafan jenazah dapat dibuka kembali dalam keadaan mendesak seperti autopsi, dan hanya dapat dilakukan petugas. Jenazah disemayamkan tidak lebih dari 4 jam

Terkait penguburan jenazah pasien COVID-19, berdasarkan Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut ini: Proses penguburan jenazah harus dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam syariah dan protokol medis Jenazah yang sudah melalui proses sebelumnya sesuai aturan medis, kemudian langsung dimasukkan bersama dengan peti ke dalam liang kubur. Hal ini dilakukan tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan dari jenazah tersebut. Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang lahat diperbolehkan karena sudah termasuk dalam ketentuan al-dlarurah al-syar’iyyah atau kondisi darurat. Dalam protokol Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, terdapat keterangan terperinci tentang lokasi penguburan jenazah pasien COVID-19 dan ketentuan untuk pihak keluarga. Jenazah harus dikubur pada kedalaman 1,5 meter lalu ditutup dengan tanah setinggi satu meter. Setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah.

Baca selengkapnya di artikel “Tata Cara (Protokol) Menguburkan Jenazah Pasien Corona COVID-19”, https://tirto.id/eKo3

Syarat Menguburkan Jenazah Muslim

30 April 2020 by no comments Posted in doa menguburkan jenazah muslim

Dalam Islam, kematian merupakan sebuah takdir mutlak. Takdir mutlak ialah yang terjadi di luar campur tangan manusia sama sekali, sesuai dengan firman Allah pada surat Luqman ayat 34 “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”(QS Luqman: 34)

Semua hal menyangkut kehidupan dalam Islam memiliki tata cara dan adab tersendiri, seperti tata cara sholat wajib, adab makan, adab bertamu dan lain-lain. Begitu pula dengan kematian, dalam agama Islam hal kematian juga memiliki tata cara, seperti tata cara sholat jenazah, tata cara memandikan jenazah, begitupula dengan tata cara menguburkan jenazah menurut Islam.

Tata cara menguburkan jenazah menurut Islam.

1. Memperdalam galian lobang kubur agar tidak tercium bau jenazah dan tidak dapat dimakan oleh burung atau binatang pemahan bangkai.

2. Cara menaruh jenazah di kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat kemudian di atasnya ditaruh papan kayu atau yang semacamnya dengan posisi agak condong agar tidak langsung tertimpa tanah. Namun bisa juga dengan cara lain dengan prinsip yang hampir sama, misalnya dengan menggali di tengah-tengah dasar lobang kubur, kemudian jenazah ditaruh di dalam lobang.

Lalu di atasnya ditaruh semacam bata atau papan dari semen dalam posisi mendatar untuk penahan tanah timbunan. Cara ini dilakukan bila tanahnya gembur. Cara lain adalah dengan menaruh jenazah dalam peti dan menanam peti itu dalam kubur.

3. Cara memasukkan jenazah ke kubur yang terbaik adalah dengan mendahulukan memasukkan kepala jenazah dari arah kaki kubur.

4. Jenazah diletakkan miring ke kanan menghadap ke arah kiblat dengan menyandarkan tubuh sebelah kiri ke dinding kubur supaya tidak terlentang kembali.

5. Para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi jenazah sebelah kanan setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu dan ditempelkan langsung ke tanah. Simpul tali yang mengikat kain kafan supaya dilepas.

6. Waktu memasukkan jenazah ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa seperti: Bismillahi Waala Millati Rosulillah Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Daud).

7. Untuk jenazah perempuan, dianjurkan membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu dimasukkan ke liang kubur. Sedang untuk mayat laki-laki tidak dianjurkan.

8. Orang yang turun ke lobang kubur mayit perempuan untuk mengurusnya sebaiknya orang-orang yang semalamnya tidak mensetubuhi isteri mereka.

9. Setelah jenazah sudah diletakkan di liang kubur, dianjurkan untuk mencurahinya dengan tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit lalu ditimbuni tanah.

10. Berdoa setelah selesai menguburkan jenazah.

Doa Selesai Penguburan Jenazah

Selesai mengubur dan sebelum meninggalkan tempat penguburan pelayat mengambil tanah dan menaburkannya dari arah kepala tiga kali, lalu berdiri di sisinya, dan membaca do’a sebagai berikut:

“Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi, wanaqqohi minal khotoya kamaayunaqqottsaubu abyadhu minadanasi, waabdilhu daaron khoiron in daarihi, waahlankhoiron min ahlihi, wazaujan khoiron minzaujihi, waqihi fitnatal qobri wa’adaabinnar”

Larangan yang harus diperhatikan

Beberapa larangan yang perlu diperhatikan terkait dengan mengubur jenazah di antaranya adalah:

1) Jangan membuat bangunan di atas kubur

2) Jangan mengapuri dan menulisi di atas kubur

3) Jangan menjadikan tempat shalat di atas kubur

4) Jangan duduk di atas kubur dan jangan berjalan di sela-sela kubur

dengan memakai alas kaki

5) Jangan menyembelih binatang di sisi kubur

6) Jangan melakukan perbuatan-perbuatan di sekitar kubur yang didasari oleh sisa kepercayaan-kepercayaan lama yang tidak ada kebenarannya dalam Islam.

Tyas Titi Kinapti

Source: https://www.liputan6.com/citizen6/read/3876043/10-tata-cara-menguburkan-jenazah-menurut-islam

Mengingat Mati dengan Berziarah Kubur Muslim Sesuai Syariah Islam

25 February 2019 by no comments Posted in artikel

Pemakaman sering dipandang hanya sebatas tempat untuk menguburkan jenazah saja. Padahal, di dalam Islam, kematian harus senantiasa diingat sebagai masa yang sudah pasti datangnya, untuk itu sudah selayaknya disikapi dengan serius. Kematian bersifat Faza atau dahsyat.

Banyak yang belum mengetahui bahwa didalam Islam, membuat makam dan memakamkan jenazah yang merupakan fardhu kifayah memiliki tata cara dan aturan yang terkandung didalam syariat pemakaman. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk menghormati jenazah sebagaimana semasa dia hidup. Meski sudah meninggal dunia, jenazah tetaplah manusia yang memiliki derajat mulia sebagai Khalifah sehingga jenazah wajib diperlakukan sebagaimana ketika masih hidup.

‘Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Albaqarah:30).

Diantara syariat pemakaman dalam Islam adalah makam muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim, tidak boleh ditinggikan, tidak boleh dihias, tidak boleh dilangkahi, diduduki apalagi diinjak-injak.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah bersabda: “Aku terbebas dari orang Muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Supaya api darikeduanya tidak saling berdampingan.” 

Rasulullah juga mengimbau umatnya untuk ziarah kubur untuk mengingat akhirat. Hakikat pemakaman pada umumnya ada dua yakni menuburkan jenazah dengan hormat dan membantu orang yang masih hidup untuk mengingat kematian. Ada makna dakwah dan edukasi di balik sebuah prosesi pemakaman.

Ziarah kubur diharapkan bisa membuat peziarah menitikkan air mata agar hati menjadi lembut. Dengan berziarah kubur diharapkan membuat keluarga yang ditinggalkan bersikap qonaah atau merasa cukup, serta lebih bersyukur. Selain itu, tentu saja diharapkan bisa menambah rasa takut kepada Allah. Berziarah kubur diharapkan bisa mengenang jasa-jasa orang yang sudah dimakamkan.

“Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: Barangsiapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jumat sekali, maka Allah akan mengampuninya dan mencatatnya sebagai anak yang berbakti” (HR al-Thabrani).

Namun, sayangnya, kondisi pemakaman di Jakarta yang kian terdesak oleh kepadatan penduduk membuat makam saling berhimpitan, sehingga peziarah terpaksa melangkahi makam bahkan menginjak makam karena sudah tidak leluasa bergerak. Kondisi pemakaman yang sempit membuat peziarah tidak nyaman berziarah. Padahal berziarah kubur sangat dianjurkan dalam Islam.

Untuk itu pemakaman di Al Azhar Memorial Garden dibuat dengan konsep taman yang syahdu, agar peziarah dapat takzim mengingat kematian. Disamping itu lingkungan yang bersih, asri dan tertata rapi merupakan representasi karakter Islam yang penuh kebersahajaan dan suci. “Konsep taman yang asri di Al Azhar Memorial Garden juga kami buat sebagai salah satu bentuk Syiar mengagungkan kebesaran Allah SWT,” ujar Direktur Utama Al Azhar Memorial Garden Nugroho Adiwiwoho.

Disamping itu Nugroho menekankan bahwa umat hendaknya juga tidak berlebihan dalam membangun makam, agar tidak terjebak pada perilaku tabzir, yakni menghamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat, serta israf, yaitu perilaku berlebihan. Dengan lokasi di Karawang Timur seluas 25 Hektar, Nugroho berharap Al Azhar Memorial Garden dapat melayani kaum muslim se Jabodetabek, Karawang hingga Bandung. Layanan kavling makam di Al Azhar Memorial Garden termasuk perawatan sepanjang masa, sehingga keluarga tidak dipusingkan lagi dengan iuran bulanan.

Sejenak Mengingat Kematian dalam Hukum Islam

19 February 2019 by no comments Posted in artikel

Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya. Hidup tak selalu bisa terencana akan dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani tanpa tahu arah dan tujuan. Namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.

Bagi saya, hidup sekadar halte persinggahan semata, sedang akhirat adalah tujuan akhir kita. Itu sebabnya saya selalu bertanya-tanya, kapan waktu saya akan sampai ke tujuan? Hari ini? Esok Lusa? Entahlah. Yang saya yakini, sama seperti ketika saya naik bus dan sudah dekat dengan tujuan, maka saya harus segera bersiap-siap untuk menyetop bus, dan melangkah turun. Saya tidak akan bisa maksa kenek atau bahkan supir bus untuk jangan segera sampai di tujuan.

“Pak, jalannya jalan ngebut, kita santai aja ya. Relaks, Man … Takkan lari gunung dikejar!”

Sama halnya seperti HIDUP. Kita tidak akan bisa tawar menawar dengan Tuhan, kapan kita ingin dijemput oleh Malaikat Maut. Seorang teman pernah bilang, kalau ditotal, waktu untuk kita hidup di dunia itu paling cuma sekedipan mata buat mereka yang udah ada di akhirat.

Kalau iman saya sedang turun, saya suka takut ngebayangin kematian. Bukan apa-apa, saya merasa bekal yang saya siapkan belum cukup. Masih jauh dari kata CUKUP malah. Saya senantiasa dibayangi oleh satu hal: Saya pengen masuk SURGA, tapi jangan-jangan tiket saya cuma cukup buat masuk ke NERAKA? Astagfirullah.

Selain bekal ibadah, ada satu hal lagi yang selama ini jadi beban pikiran saya. Yaitu, pertanyaan “Kalau besok kamu meninggal, kamu mau dimakamkan di mana?”. Saya yakin banyak orang yang sama sekali belum kepikiran mau dimakamin di mana. Sementara, pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan, besok lusa saya harus punya rumah. Mau beli rumah di mana? Tipe berapa? Bangunannya seperti apa? Yup, banyak diantara kita sibuk mempersiapkan tempat tinggal di dunia, tapi lupa mau tinggal di mana kita nanti saat tiba-tiba ajal menjelang.

Beban pikiran itu juga yang mendadak kembali nyangkut di kepala, saat saya dapet kesempatan jalan-jalan berkunjung ke Al Azhar Memorial Garden (AAMG) di Karawang, Jawa Barat. Sebuah pemakaman  yang dimiliki oleh Yayasan Al Azhar dan dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 25 hektar.

Terus terang aja, saya takjub liat tempat ini. Saya tahu, ada banyak suara di luar sana tentang pemakaman model begini. Banyak anggapan yang bilang bahwa ini pemakaman mewah, terutama kalau melihat harga makam per kaplingnya di sini berapa. Harga makam di sini, per kapling diberi banderol Rp. 25 jutaan. Mahal? Tapi ternyata nggak lho!

Kenapa saya bilang nggak mahal, bahkan menurut saya sangat murah? Karena harga ini untuk seumur hidup dan nggak bakal ada biaya-biaya tambahan lain, karena semuanya ditanggung oleh pihak Al Azhar Memorial Garden. Pihak AAMG mengerahkan sekitar 22 orang pegawai yang bertanggung jawab untuk mengurus kebersihan makam.

Ketika saya dan teman-teman berkesempatan keliling makam untuk melihat-lihat 3 tipe makam yang ada di sana, yaitu single, double, dan family, yang saya lihat bukan makam-makam mewah seperti yang ada di tempat lain. Melainkan betul-betul sebuah kompleks pemakaman yang asri, adem, sangat sederhana, dengan batu-batu nisan yang betul-betul sederhana sesuai dengan syariat Islam, sangat jauh dari kesan mewah.

Langsung terbayang di pelupuk mata, andai saya bisa booking satu kapling tipe Family di pemakaman ini, tentu saya, tiga anak saya, 2 orangtua, dan keluarga adik saya (4 orang) nantinya nggak perlu pusing-pusing lagi bertanya mau dimakamkan di mana. Siapa yang mau mengurus makamnya, mesti nyiapin dana berapa, dan lain sebagainya.

 

Mempersiapkan Makam untuk Keluarga

17 February 2019 by no comments Posted in artikel

ahasia umur ada digenggaman Allah SWT. Tidak ada seorang pun dapat mengetahui kapan ajal tiba. Ketika kematian datang mendadak, umumnya keluarga bingung kemana hendak memakamkan. Alangkah baiknya apabila sudah ada wasiat hendak dimakamkan dimana serta mempersiapkan makam yang akan diwasiatkan.Berikut ini tips untuk mempersiapkan makam keluarga:

•    Persiapkanlah Makam Sebelum Wafat

 Berwasiat untuk dimakamkan ditempat tertentu juga dilakukan oleh Ustman Bin Affan RA, salah satu sahabat Rasulullah yang juga Khulafaur Rasyidin yang ketiga, dia termasuk kedalam Sholafus Shalih, yakni orang-orang salih pertama yang mendampingi perjuangan Nabi Muhammad SAW. Demikian halnya dengan Aisah RA, istri Rasulullah yang merupakan putri dari Abu Bakar RA, mewasiatkan untuk dimakamkan sebelum meninggal dunia.

•    Pilihlah Lahan Makam yang Memenuhi Syariat Pemakaman

Setelah kita mengetahui syariat pemakaman termasuk makna berziarah, hendaknya mulai memilih lahan makam yang memenuhi syariat pemakaman seperti :

•    Makam muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim

•    Harus menghadap kiblat

•    Sederhana, hanya terdiri dari gundukan tanah, tidak dibangun apapun diatasnya

•    Kedalaman makam 1,5 m

•    Boleh meletakkan batu nisan sebagai penanda

•    Berdasarkan Fatwa MUI no 9 tahun 2014, membeli makam dimana terdapat unsur tabzir dan israf hukumnya haram*

*Tabzir   : Menggunakan/membelanjakan harta kepada hal yang tidak perlu, atau

disebut juga boros

*Israf      : Suatu sifat jiwa yang memperturutkan keinginan yang melebihi semestinya

Serta memilih makam yang  memudahkan keluarga untuk berziarah dengan khidmat.

•    Mempersiapkan Makam Orangtua Agar Memudahkan untuk Berziarah

Agar amal bakti tidak terputus meski orangtua sudah meninggal dunia, persiapkan makam orangtua ditempat yang memudahkan Anda berziarah khusyuk dan khidmat. Pilih lahan pemakaman yang memungkinkan Anda untuk berdoa dan bertafakur tanpa gangguan. Ajarkan kepada anak-anak Anda kebiasaan ziarah kubur sebagai salah satu tradisi keluarga dengan mengajak mereka berziarah ke makam orangtua Anda

•    Pilih Makam yang Bebas Biaya Sewa Tahunan dan Biaya Perawatan Harian

Untuk memudahkan perawatan makam serta agar makam tidak ditumpuk hanya karena Anda lupa membayar biaya sewa makam tahunan, baiknya Anda membeli makam yang bersertifikat dengan biaya perawatan sepanjang masa.

•    Hindari Tabzir dan Israf dalam Pemakaman dengan Berkonsultasi dengan Ahlinya

Membeli makam sesuai dengan fungsi dan kemampuan Anda, akan membuat Anda terhindar dari tabzir dan israf. Diskusikan dengan ulama atau mereka yang mengetahui mengenai takaran tabzir dan israf sebelum Anda memutuskan membeli makam.

Agar Berziarah Kubur tak Lagi Berat

11 February 2019 by no comments Posted in artikel

Tidak pernah ada dalam bayangan saya sengaja datang berkunjung ke sebuah komplek pemakaman kecuali untuk berziarah mengunjungi makam mertua atau adik saya. Itu pun kadang rasanya berat. Entah kenapa rasanya auranya selalu membuat saya tak nyaman. Tapi ketika mendapat ajakan berkunjung ke Al Azhar Memorial Garden, entah kenapa saya kok ya bersemangat.

Saya membayangkan komplek pemakaman Al Azhar ini seperti komplek pemakaman mewah yang pernah saya dengar juga berada di daerah Karawang, San Diego Hills. Ketika akhirnya saya datang dan menyaksikan sendiri komplek pemakaman Islam ini, bayangan tadi langsung buyar. Apa yang saya bayangkan mewah, ada tempat hiburan, ada tempat wisata, dan sebagainya, pupus sudah. Sepanjang mata memandang, saya tak menemukan apa yang saya cari.

 

Saat memperhatikan makam-makam yang ada di Al Azhar Memorial Garden, tercermin perwujudan pemakaman Islam yang ideal, sederhana, ada jarak antar makam sehingga tak sampai terinjak-injak ketika peziarah lain yang sedang datang.

Konsep pembelian tanah makam di AMG dilakukan di awal, sesuai prinsip perdagangan Islam, ada uang, ada barang. Mungkin akan terasa mahal, tapi karena semua biaya perawatan rumput sudah termasuk biaya di awal, ya terasa biasa aja. Tiap bulan sudah tak ada lagi biaya perawatan rumput yang ditagihkan. Seumur hidup keluarga almarhum bisa tenang tak perlu memikirkan biaya perawatan rumput.

Kalau lihat kerapihan komplek pemakaman AMG, terasa setimpal sih antara biaya yang dikeluarkan dengan fasilitas yang didapatkan. Makam yang tertata rapi dan selalu terawat. Hampir tiap hari ada petugas yang bekerja merawat dan menjaga kebersihan dan kerapihan makam. Semua rumput menggunakan rumput Jepang. Hampir tak ada rumput liar, semua tertata rapi, bersih, dan tenang. Rasa takut yang biasa menghampiri ketika mengunjungi pemakaman biasa, sama sekali hilang. Mungkin karena kerapihannya.

Menjaga Syar’i Hingga Liang Lahat

5 February 2019 by no comments Posted in artikel

Tahukah anda bahwa dalam Islam ada petunjuk agar makam muslim dan non muslim tidak dianjurkan berada dalam satu komplek pemakaman? Mengapa. Karena Allah memuliakan orang muslim. Syariat Islam sudah memberi pedoman agar tidak menguburkan orang kafir di pemakan muslim demikian juga sebaliknya. Kuburan non muslim adalah tempat Allah akan memberi azab sementara pada makam muslim Allah akan memberikan rahmat Allah berupa ampunan dosa. Maka tak selayaknya tempat yang penuh adzab disatukan dengan tempat akan diturunkannya rahmat Allah.

Sebagaimana disabdakan Rasul SAW: “Aku terbebas dari orang muslim yang berdampingan dengan orang musyrik.” Kemudian Rasul bersabda lagi: Supaya api dari keduanya tidak saling berdampingan”. HR. Abu Daud).

Inilah  salah satu alasan mengapa kemudian Yayasan Pesantren Islam (YPI) lewat divisi usahanya mengembangkan komplek pemakaman muslim yang diberi nama Al-Azhar Memorial Garden yang terletak di Jalan Raya Peruri KM.53-54, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebagai bentuk kepedulian Al-Azhar terhadap persoalan yang berkaitan dengan pemakaman dan bagaimana melaksanakan prosesi kematian secara syar’i.

Manajemen Al-Azhar Memorial Gaden mengejawantahkan visi dan misi dengan benar-benar menjalankan prosesi pemakaman dari hulu ke hilir dengan bersandarkan pada nilai-nilai yang telah digariskan oleh agama.

Apa sajakah yang berkaitan dengan prosesi pemakaman yang sesuai dengan landasan syari itu?

  1. Makam Muslim tidak boleh bercampur dengan makam non muslim.
  2. Harus Menghadap kiblat.
  3. Sederhana hanya terdiri dari gundukan tanah tidak dibangun apapun diatasnya.
  4. Tidak boleh dilangkahi, diduduki atau diinjak-injak.
  5. Kedalaman makam 1,5 meter
  6. Boleh meletakkan batu nisan sebagai penanda.
  7. Berdasarkan Fatwa MUI DKI Jakarta tahun 2011, menumpuk jenazah hukumnya haram.
  8. Berdasarkan Fatwa MUI No.9 tahun 2014, membeli makam dimana terdapat unsur tabzir & israf didalamnya adalah haram.
  9. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk memperlakukan jenazah dengan hormat.

Selain prosesi pemakaman yang berlandaskan nilai-nilai syar’i, Al-Azhar Memorial Garden juga memperlakukan semua area dengan konsep yang sama, tanpa hiasan yang berlebih kecuali nisan sebagai penanda.

Satu hal yang menarik dan layak diapresiasi adalah dibukanya pintu amal kebaikan kepada siapapun untuk bisa mewakafkan tanah kuburan di area makam ini kepada muslim lainnya sebagai bentuk kepedulian muslim terhadap muslim lainnya, Tentu saja ada aturan yang harus dilakukan bersama antara muwakif dan nadzir dalam hal ini adalah manajemen AMG agar proses wakaf ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Dari luas 25 ha yang disediakan saat ini oleh AMG dengan kebutuhan tiap makam sekitar 3×2 meter persegi, maka lubang yang tersedia diperkirakan sekitar 29 ribu lubang yang disediakan kepada seluruh muslimim yang berniat menyiapkan makam untuk dirinya atau keluarganya. Saat ini AMG sudah memasuki tahap ke V pada aspek pemasarannya dengan jumlah lubang yang sudah dibeli sekitar 3.000 liang yang sudah dipesan sejak hadirnya AMG pada 2012.

Bagaimana dengan harga yang ditawarkan, mahalkah?

Bila melihatnya dari sisi ukuran tanah yang dibeli memang terkesan mahal, namun harus dilihat bahwa proses pemeliharaan tanah mulai dari awal dibeli hingga dikuburkan serta pemeliharaan sepanjang masa tentu nilai yang ditawarkan di Al-Azhar Memorial Garden akan terasa tidak ada artinya dengan jumlah nominal yang dikeluarkan.

Begini Seharusnya Memakamkan Mereka yang Pulang ke Rahmatullah (2)

25 January 2019 by no comments Posted in artikel

Sederhana Hanya Terdiri Gundukan dan tidak dibangun Apapun

Kita sering melihat makam-makan dibangun dengan berbagai macam bentuk bangunan diatasnya dengan berbagai keramik dan cat beraneka ragam. Dalam islam hal ini tidaklah dianjurkan. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat rasulullah.

Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, “Dan makam beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam digunduki tanah seperti punuk yang berada di tanah lapang merah. Tidak ada bangunan dan tidak juga diplester. Demikian itu pula makam kedua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar).”

“Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw melarang memplester kubur, mendudukinya dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, no. 94/970)

MakamTidaklah di duduki atau di Injak-injak

Di Jakarta bahkan ada fenomena, anak-anak atau gelandangan jalanan terpaksa tinggal di makam karena tak mampu membayar kontrakan. Padahal hal seperti ini tidaklah diperbolehkan. Jangankan tinggal diatasnya, duduk dan menginjakpun tidak boleh.

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Lebih baik salah seorang dari kamu duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya dan sekujur tubuhnya daripada duduk di atas kubur’,” (HR Muslim (971).

Rasulullah aja sampe bilang begitu. Ini karena betapa manusia sangat di muliakan Allah bahkan sampe setelah meninggal dunia.

Kedalaman Makam 1,5 M

Kenapa?? Supaya yang meninggal atau jenazah terhindar atau terlindungi dari hewan yang hidup. Begitu juga yang hidup terhindar dari yang telah meninggal, dari bau dan lain. lain.

Boleh Meletakkan Nisan Penanda

Sebagai kebutuhan penanda agar kita tidak kehilangan jejak atau agar mudah ketika berziaran maka sebatas ada kebutuhanmenuliskan nama orang yang wafat di atas kuburan atau pada nisan sebagai penanda agar kuburannya dikenali, bukan dalam kategori bermegah-megahan diperbolehkan. Ingat hanya sebagai penanda bukan dalam kategori bermegah-megahan.

Kuburan Mewah Haram Hukumnya

Kini nampaknya mucul trend kuburan mewah dengan berbagai fasilitas wah yang ditawarkan. Padahal hal ini haram hukumnya. MUI jelas menyatakan Jual beli dan bisnis lahan untuk kepentingan kuburan mewah yang terdapat unsur tabdzir dan israf hukumnya haram,” jelas Fatwa MUI Nomor 9 tahun 2014

Begini Seharusnya Memakamkan Mereka yang Pulang ke Rahmatullah

18 January 2019 by no comments Posted in artikel

Ada seorang anak gadis yang meninggal dunia. Lalu sang ayah menguburkannya seperti layaknya jenazah pada umumnya di pemakaman umum. Setelah itu sang Ayah setiap malam selama tiga hari selalu bermimpi di datangi anak gadisnya yang mengeluh, “Ayah tolong ayah, aku tidak bisa tidur suara pabrik kapur berisik sekali sampai aku tak bisa tidur”.

Lalu sang ayah mengecek memastikan di pemakamannya tak ada pabrik apapun sepi sunyi senyap. kemudian usut diusut ternyata makam anak gadisnya bersebelahan dengan makan seorang algojo yang seumur hidupnya selalu berbuat maksiat.

Demikian sepenggal kisah yang berkaitan dengan pemakanaman. Dalam Islam ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemakamam seorang muslim. Ada beberepa syariat yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah tidak mencampur makam seorang muslim dengan non muslim. Kenapa? jawabannya cerita diatas menunjukkannya.

Seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin semenjak zaman rasulullah para khulafa’ ar rasyidun dan orang-orang setelahnya. Hal tersebut terus berlangsung dan menjadi ijma’ amali untuk memisah kuburan ummat islam dengan kuburan orang-orang musyrik.

Sebab, adzab bagi orang-orang musyrik tersebut akan dirasakan oleh seluruh penduduk kuburan tersebut. Padahal adzab kepada mereka tidak terputus. Jenazah umat muslim yang dicampur dengan muysrikin akan tersiksa.Tersiksanya mayit tergantung dengan siksaan yang ditimpakan pada tetangganya berupa pedihnya adzab, bau yang busuk ataupun kegelapan liang lahat dan yang lainnya.

Harus Menghadap Kiblat

Ketaqwaan seorang muslim di buktikan dengan tiga hal yaitu Qaulan; melalui kata-kata yang keluar dari mulut kita. Maka kita harus bersyahadat, mengucapkan dua kalimat syahadat. Qulbi; hati kita. Ketaqwaan kita juga harus dibuktikan dengan hati kita yang selalu hanya menyakini hanya Allah satu-satunya tuhan kita. Yang ketiga Fikli ketaqwaan kita juga dibuktikan dengan perilaku dan gerakan kita. Maka saat kita sholat kita harus dengan tertib baik dan menghadap kiblat.

Itulah mengapa saat sholat hingga saat kita meninggalpun harus menghadap ke kiblat. Sebagai bukti ketaqwaan kita.

Ku hadapkan muka dan hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, demikianlah aku diperintah dan aku termasuk golongan orang-orang muslim

 

Bersambung….

Tetap Syariah Hingga Peristirahatan Terakhir

17 January 2019 by no comments Posted in artikel

Memasuki bulan Ramadhan salah satu tradisi umat Islam di Indonesia ialah ziarah ke makam orang tua, keluarga atau kerabat. Dulu saya rutin melakukannya ketika masih di Semarang. Sejak tinggal dan bekerja di Jakarta, kegiatan ziarah biasanya saya lakukan menjelang hari Raya Idul Fitri.

Kegiatan ziarah ke makam awalnya bagi saya hanya sebatas mendoakan almarhum orang tua atau keluarga tanpa peduli di mana dimakamkan. Di beberapa daerah makam masih menjadi tempat yang menyeramkan untuk didatangi.

Namun beberapa tahun terakhir ada perubahan tren yang terjadi. Tempat pemakaman menjadi menyenangkan bahkan tempat rekreasi karena fasilitas hiburan seperti danau atau taman. Awalnya saya menyambut baik tren tersebut karena mengubah image makam menjadi keren dan berbobot. Tetapi kebanyakan orang yang dimakamkan di tempat tersebut beragama non Muslim dan dengan harga yang mahal. Tak lama muncul pemakaman syariah yang dikelola lembaga pendidikan ternama di Karawang Timur.

 

Ada dua hal penting dalam hakikat pemakam Islam yang harus diketahui yaitu menguburkan jenazah dengan hormat dan melakukan ziarah kubur untuk mengingat kematian. Selain itu ada tujuh hal penting dalam memilih pemakaman sesuai dengan syariat Islam antara lain :

a. tidak boleh bercampur dengan makam non muslim

b. harus menghadap kiblat

c. sederhana

d. tidak boleh dilangkahi atau diinjak

d. kedalaman hanya 1,5 meter

e. boleh meletakkan nisan sebagai penanda

f. jenazah tidak boleh ditumpuk dan tidak boleh berfungsi sebagai tempat wisata

Mendengar hal itu saya menjadi terkejut karena baru mengetahuinya dan menganggap wajar tempat makam yang dijadikan hiburan. Ternyata hakikat manusia melakukan ziarah kubur agar membuat kita merasa cukup dan bersyukur, mengenang jasa orang yang telah meninggal dan mendorong jadi lebih baik dalam beribadah.

 

Memikirkan Makna Hidup Ketika Mengunjungi Pemakaman

11 January 2019 by no comments Posted in artikel

Sebagai manusia, rumah masa depan kita adalah kuburan alias pemakaman. Kalau berbicara tentang pemakaman pasti yang terpikir adalah suasana yang seram, sunyi, penuh pepohonan dan aneka bentuk liang lahat itu sendiri. Ternyata, ada pemakaman yang sesuai syariat islam dan tempatnya cukup nyaman tertata rapi.

Beberapa waktu lalu saya di undang oleh Republika Online untuk berkunjung ke Al-Azhar Memorial Garden yang berada di Karawang, Jawa Barat. Dari Jakarta menuju kesana cukup memakan waktu 2 jam saja. Kalau dengar kata Al-Azhar mungkin sudah tak asing lagi di telinga sebagian banyak orang termasuk saya sendiri yang kebetulan rumah saya dekat dengan Sekolah Al-Azhar Bintaro.

Yang saya tahu kalau Al-Azhar itu hanya Yayasan di bidang pendidikan dan wakaf saja tapi ternyata Al-Azhar juga memiliki Pemakaman yang di namakan Al-Azhar Memorial Garden, mau tahu lebih lengkap tentang pemakaman ini? Berikut ini ulasannya:

Setelah keluar Tol Karawang timur kita melewati jalan yang banyak sekali hilir mudik aneka truk kontainer karena seperti yang kita ketahui Karawang itu merupakan daerah industri jadi banyak pabrik yang ada disana. Tak jauh dari keluar tol terlihat gerbang dengan tulisan Al-Azhar Memorial Garden. Dari melihat gerbang yang terlihat megah mungkin banyak yang berfikir mewahnya area pemakaman ini.

Al-Azhar memberikan layanan Pendidikan seperti TK, SD, SMP, SMA dan Universitas. Al-Azhar juga melayani sosial amil dan zakat juga pengurusan jenazah. Seiring berjalanya waktu ketika para pengurus meninggal banyak yang tidak memiliki tempat atau sulit dan yang akhirnya di buatlah Al-Azhar Memorial Garden ini.

Sebagai muslim juga tentunya kita menginginkan pemakaman yang sesuai syariat Islam bukan hanya asal di makamkan saja. Bagaimanapun juga kita adalah khalifah yang walaupun sudah meninggal juga masih sebagai khalifah. Syariat pemakaman dalam Islam ditujukan untuk memperlakukan jenazah dengan hormat.

Al Azhar Memotial Garden juga memiliki layanan prosesi pemakaman syariah yaitu menangani prosesi pemakaman, mulai dari rumah duka hingga ke Al-Azhar Memorial Garden dan pemindahan makam, dari makam lama ke Al-Azhar Memorial Garden.

Setelah di jelaskan oleh ibu Maya kami semua berkeliling naik bis menuju tempat pemakaman. Wahh, suasana yang nyaman, bersih sudah terasa ketika kita melewati jalan yang di setiap pinggirnya berjajar pohon-pohon.Terlihat juga para petugas kebersihan yang sedang membersihkan areal makam. Al-Azhar Memorial Garden ini memiliki luas 25 hektar dan saat ini sudah 3.000 lahan yang terjual namun baru 100 lahan saja yang sudah terisi.

Kalau kita membeli lahan pemakaman disini, kita hanya membayar uang di muka saja tidak perlu memikirkan biaya kebersihan makam setiap bulannya. Ada program wakaf juga di Al-Azhar Memorial Garden ini yaitu jika satu makam ada yang beli maka satu makam lagi di wakafkan untuk makam kaum Dhuafa dan untuk pemakaman kaum dhuafa juga menyatu dengan makam lainya alias tidak di pisah-pisah.

Berkunjung Al-Azhar Memorial Garden membuat saya terus termenung memikirkan segala amal perbuatan saya yang saya pikir belum cukup untuk bekal ketika saya mati nanti. Berfikir juga apa nanti ketika saya meninggal saya akan di makamkan dengan syariat Islam atau tidak ya oleh orang-orang terkasih saya yang masih hidup?

Menepis Kesan ‘Horor’ dari Sebuah Makam

5 January 2019 by no comments Posted in artikel

Ada hal ini sangat kontras dengan pengalaman masa kecil, dibanding ketika menjejakkan kaki di Al Azhar Memorial Garden. Tak ada pepohonan rimbun menyeramkan, semua tertangkap asri di indera pengihatan. Jalanan halus dipersiapkan khusus, juga terdapat pemisahan blok untuk memudahkan keluarga mencari makam.

Al Azhar Memorial Garden untuk merespons kebutuhan masyarakat, utamanya keluarga besar Al Azhar yang umumnya golongan menengah atas. Mereka kebanyakan public figure, kesulitan mencari tempat pemakaman bagi keluarganya. Namun tak perlu kawatir, masyarakat luas juga bisa memiliki makam di Al Azhar memorial Garden.

 

 

Mengenal Lebih Dekat Pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden

22 February 2017 by no comments Posted in artikel

Tentang Al-Azhar Memorial Garden

Al-Azhar Memorial Garden adalah salah satu unit usaha Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar yang bergerak di bidang layanan pemakaman Islam.

Al-Azhar Memorial Garden dibangun untuk melayani umat yang ingin dimakamkan sesuai syariat Islam, sekaligus sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat tentang syariat pemakaman Islam.

Terbentang seluas 25 hektar di wilayah Karawang Timur, Al-Azhar Memorial Garden siap menampung sekitar 29.000 ribu jenazah muslim dari wilayah Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, dan sekitarnya.

Latar Belakang Dibangunnya Pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden

Pada saat ini, masyarakat Indonesia yang berada di wilayah perkotaan dengan jumlah penduduk yang terus meningkat menghadapi permasalahan semakin terbatasnya pemakaman yang disediakan oleh pemerintah dan masyarakat.

Perlu diketahui bahwa Wilayah DKI Jakarta dengan luas 65.680 hektar diproyeksikan membutuhkan lahan makam seluas 785 hektar.

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta tahun 2011, ditargetkan 745 hektar.

Padahal, luas makam di Jakarta hanya 576 hektar. Jadi, Jakarta jelas masih kekurangan lahan sebesar 209 hektar.

Tingginya angka warga Jakarta yang meninggal dunia, dengan rata-rata per hari mencapai 111 orang, berarti mulai 2012 dan seterusnya, lahan pemakaman di DKI Jakarta akan habis apabila tidak segera dilakukan penambahan.

Selain usaha menambah luas lahan makam, dilakukan juga kebijakan menumpuk jenazah dalam satu lubang makam bagi yang masih ada hubungan keluarga. Jarak waktunya minimal dua tahun, hal itu untuk mengantisipasi over-loadnya lahan makam.

Kondisi Tempat Pemakaman Umum yang ada pada saat ini sangat memprihatinkan, antara lain:

  • Terkesan berdesak-desakan dan tidak beraturan.
  • Kurang terurus dengan baik.
  • Seringkali ditemui pengemis, pedagang asongan, dan lain-lain.
  • Tidak memiliki fasilitas memadai.
  • Kewajiban membayar biaya perpanjangan pemakaian lahan dan iuran bulanan.
  • Terkesan seram dan angker.

Maksud dan Tujuan

Dengan melihat keadaan yang memprihatinkan ini, kami tergugah untuk berpartisipasi mengatasi kesulitan yang dihadapi pemerintah dengan menyediakan lahan pemakaman muslim yang dapat memberikan keamanan, kenyamanan, dan ketentraman bagi keluarga yang ditinggalkan.

Adapun pembangunan Al-Azhar Memorial Garden bertujuan untuk:

  1. Memberikan pilihan bagi umat Islam untuk dapat dikuburkan di pemakaman muslim sesuai syariat Islam.
  2. Rumput terawat untuk selamanya, tanpa ada lagi beban biaya bulanan ataupun tahunan yang memberatkan ahli waris.
  3. Adanya kemudahan prosesi pemulasaraan jenazah sejak awal sampai penguburan.
  4. Melanggengkan persaudaraan dan kekeluargaan, dengan adanya kuburan di lahan pemakaman muslim, memungkinkan anak cucu untuk berziarah.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pemakaman Islam Al-Azhar Memorial Garden yang dibangun sejak 2011 lalu memiliki konsep sebagai berikut:

  1. Memiliki konsep, makam adalah bagian dari taman.
  2. Tidak ada gangguan dari pihak luar, karena tertutup dan diawasi selama 24 jam nonstop.
  3. Tersedia fasilitas lengkap dan modern (masjid, gazebo, dll)
  4. Landscape yang tertata dengan baik.
  5. Tata letak makam yang jelas dan teratur.
  6. Jaminan penggunaan makam dan perawatan rumput selamanya.
  7. Satu makam untuk satu orang.
  8. Persepsi umum terkesan damai dan sejuk.

Visi dan Misi

Visi

Menjadi pemakaman muslim sesuai syariah di tengah hijaunya taman.

Misi

  • Merealisasikan program Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar.
  • Membantu pemerintah daerah dalam menyediakan pemakaman muslim.
  • Membangun area pemakaman muslim yang aman, nyaman, tertata, asri, dan terawat.

Komitmen

  • Amanah – Menjaga kepercayaan umat dalam menerapkan pemakaman sesuai syariat Islam dengan konsisten dan sebaik-baiknya.
  • Syiar – Mengajak peziarah untuk mengingat akhirat sekaligus dengan memandang indahnya taman, mengajak peziarah untuk mengingat kebesaran Allaah SWT yang telah menciptakan alam dengan sempurna.
  • Maslahat – Keberadaan Al Azhar Memorial Garden membawa maslahat bagi penduduk sekitar, antara lain: membuka lapangan kerja dan menambah nafkah penduduk setempat, perbaikan jalan menuju dan dari Al Azhar Memorial Garden, menggerakkan ekonomi setempat, meramaikan kegiatan keagamaan di Masjid Al Azhar Memorial Garden, dan menghidupkan kawasan Teluk Jambe di mana Al Azhar Memorial Garden berada.

Layanan

Di samping itu, untuk memudahkan masyarakat muslim dalam menyelenggarakan prosesi pemakaman, kami juga menyediakan layanan lengkap seperti pemulasaran jenazah, penyediaan batu nisan, penyediaan ambulans, dll.

Layanan Pemulasaran:

Kami memberikan layanan pemulasaran di rumah duka, mulai dari memandikan, mengkafani, menunaikan salat jenazah, sampai dengan memberangkatkan jenazah menuju lokasi  Al-Azhar Memorial Garden.

Layanan di Pemakaman

Kami memberikan layanan di lokasi pemakaman, mulai dari penjemputan di gerbang Tol Karawang Timur sampai dengan pelaksanaan prosesi pemakaman yang khidmat dan sesuai syariah.

Rincian layanan di pemakaman adalah sebagai berikut:

  • Jasa gali/tutup lubang
  • Pendamping prosesi pemakaman (Doa)
  • Dokumentasi video
  • 1 tenda uk. 4 x 6 meter
  • 30 buah kursi lipat
  • Tangga turun ke liang kubur
  • Panggung (jika diperlukan) + karpet
  • Sound System dan MC
  • 1 buah podium
  • 2 dus air mineral
  • 1 buah spanduk turut berduka cita
  • nisan sementara
  • papan ari
  • 1 unit mobil Al-Azhar yang menjemput di gerbang Tol Karawang Timur

Layanan Pemeliharaan Rumput

Kami memberikan layanan pemeliharaan rumput sepanjang masa—mulai dari pemotongan rumput, pembersihan, hingga penyiraman yang dilakukan secara rutin—sehingga Anda bisa berziarah kapan pun dengan nyaman.

Kesimpulan: Al-Azhar Memorial Garden Hadir Sebagai Solusi

hadir sebagai solusi

Al-Azhar Memorial Garden hadir sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, masyarakat muslim, dan masyarakat sekitar.

Apa saja solusi dan manfaat yang diberikan oleh Al-Azhar Memorial Garden? Berikut ini di antaranya:

  1. Menjadi solusi atas permasalahan semakin minimnya ketersediaan lahan makam di Jabodetabek dan sekitarnya.
  2. Menjadi solusi bagi individu muslim yang ingin menyediakan pemakaman yang sesuai syariat Islam, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya.
  3. Menjadi solusi bagi penduduk sekitar yang membutuhkan lapangan pekerjaan dan nafkah tambahan.
  4. Membantu pemerintah daerah dalam melakukan perbaikan jalan dari dan menuju lokasi Al-Azhar Memorial Garden.
  5. Memberikan kesempatan kepada umat untuk berpartisipasi dalam program wakaf makam Al-Azhar Memorial Garden untuk kaum duafa.

Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Islam (+ Video)

8 February 2017 by no comments Posted in artikel

Sebelum dimakamkan di pemakaman muslim, jenazah orang Islam wajib dimandikan dan dishalatkan terlebih dahulu (hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifâyah).

Sama seperti kewajiban lainnya dalam Islam, memandikan jenazah ada syarat dan tata caranya.

Apa syarat dan tata cara memandikan jenazah menurut Islam? Berikut pembahasannya.

Syarat Jenazah yang Wajib Dimandikan Menurut Islam

  1. Jenazah muslim atau muslimah.
  2. Ada tubuhnya.
  3. Bukan mati syahid.
  4. Bukan bayi yang meninggal karena keguguran.

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

  1. Muslim.
  2. Berakal.
  3. Balig.
  4. Berniat memandikan jenazah.
  5. Jujur dan saleh.
  6. Terpercaya, amanah, mengetahui hukum memandikan jenazah, dan mampu menutupi aib si jenazah.

Orang yang Berhak Memandikan Jenazah

Adapun orang yang berhak memandikan jenazah adalah sebagai berikut:

Orang yang paling utama untuk memandikan dan mengkafani jenazah laki-laki adalah orang yang diwasiatkan oleh si jenazah semasa hidupnya, kemudian ayah, kakek, keluarga terdekat, mahramnya, dan istrinya.

Apabila dari pihak keluarga tidak ada yang bisa memandikannya, maka boleh diwakili oleh orang laki-laki lain yang bisa memandikannya.

Orang yang paling utama untuk memandikan dan mengkafani jenazah perempuan adalah ibunya, neneknya, keluarga terdekat dari pihak wanita, dan suaminya.

Apabila dari pihak keluarga tidak ada yang mampu untuk memandikannya, maka boleh diwakili oleh perempuan lain yang mampu dan biasa memandikan jenazah.

Untuk jenazah anak laki-laki boleh perempuan yang memandikannya, dan sebaliknya untuk jenazah anak perempuan boleh laki-laki yang memandikanya.

Jika seorang perempuan dewasa meninggal, sedangkan yang masih hidup semuanya hanya laki-laki, dan dia tidak mempunyai suami, atau sebaliknya seorang laki-laki meninggal sementara yang masih hidup hanya perempuan saja dan ia tidak mempunyai istri, maka jenazah tersebut tidak dimandikan, tetapi cukup ditayamumkan.

Cara mentayamumkannya, yaitu seseorang menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah, kemudian mengusapkannya ke bagian wajah dan punggung jenazah.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

“Jika seorang meninggal ditempat laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal di tempat perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya, maka kedua mayat itu ditayamumkan, lalu dikuburkan karena kedudukannya sama seperti tidak mendapat air.” (HR Abu Daud dan al-Baihaqi)

Untuk semakin memahami penjelasan tentang siapa saja yang berhak memandikan jenazah, silakan saksikan video penjelasan Ustadz Dr. Khalid Basalamah di bawah ini.

Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Islam

Pertama-tama, siapkan semua peralatan untuk memandikan jenazah. Peralatan-peralatan tersebut antara lain:

  1. Ruang tertutup untuk memandikan jenazah.
  2. Tempat atau alas untuk memandikan jenazah. Usahakan agar tempat atau alas pemandian agak miring ke arah kakinya, tujuannya agar air dan semua yang keluar dari jasadnya bisa mengalir ke bawah dengan mudah.
  3. Air secukupnya.
  4. Sabun, air kapur barus, dan wangi-wangian.
  5. Sarung tangan untuk memandikan.
  6. Potongan atau gulungan kain kecil-kecil.
  7. Kain basahan, handuk, dan lain-lain.

Setelah tempat dan peralatan yang dibutuhkan tersedia, maka tibalah saatnya untuk memandikan jenazah.

Pertama kali yang harus dilakukan oleh petugas ialah melunakkan persendian jasad jenazah terlebih dahulu. Apabila kuku si jenazah panjang, maka hendaknya kukunya tersebut dipotong hingga memiliki ukuran panjang yang normal. Begitu pula dengan bulu ketiaknya. Adapun bulu kelamin, maka jangan dicukur, karena itu merupakan aurat besar.

Setelah itu kepala jenazah diangkat sampai setengah duduk, lalu diurut perutnya dengan perlahan hingga semua kotoran dalam perutnya keluar.

Petugas yang memandikan jenazah hendaknya memakai sarung tangan maupun kain untuk membersihkan qubul dan dubur jenazah tanpa harus melihat maupun menyentuh auratnya.

Setelah jenazah dimandikan, kemudian petugas ‘mewudhui’ jenazah sebagaimana wudhu sebelum sholat. Dalam ‘mewudhui’ jenazah tidak perlu memasukkan air ke dalam hidung dan mulut jenazah, akan tetapi petugas cukup membasahi jari yang dibungkus dengan kain, kemudian jari tersebut digunakan untuk membersihkan bibir jenazah, menggosok gigi dan kedua lubang hidungnya hingga bersih.

Selanjutnya petugas menyela jenggot dan mencuci rambut jenazah menggunakan busa perasan daun bidara, atau dengan menggunakan perasan sabun, kemudian sisa perasan daun bidara tersebut digunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah.

Membasuh Tubuh Jenazah

Saat membasuh jenazah disunnahkan untuk mendahulukan anggota badan sebelah kanan. Pertama membasuh tekuknya yang sebelah kanan, kemudian bahu dan tangan kanannya, kemudian betis, paha dan telapak kaki sebelah kanannya.

Selanjutnya petugas membalikkan tubuhnya dengan posisi miring ke sebelah kiri, kemudian membasuh belahan punggungnya sebelah kanan. Setelah anggota tubuh sebelah kanan telah selesai, kemudian dengan cara yang sama membasuh anggota badan yang sebelah kiri.

Jumlah Bilangan dalam Memandikan Jenazah

Wajib memandikan jenazah sebanyak satu kali. Apabila dilakukan hingga kali maka itu adalah lebih utama (afdhal). Jumlah bilangan dalam memandikan jenazah tergantung pada kotoran yang terdapat pada jenazah.

Pada pembilasan terakhir, air yang digunakan hendaknya dicampur dengan kapur barus terlebih dahulu, agar air tersebut menimbulkan bau harum pada jenazah.

Catatan Penting:

  • Dianjurkan untuk menggunakan air yang sejuk untuk memandikan jenazah. Apabila dibutuhkan air panas untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada jenazah, maka tidak mengapa.
  • Boleh menggunakan sabun dalam menghilangkan kotoran pada jenazah, akan tetapi dilarang untuk mengerik atau menggosok kulit jenazah.
  • Boleh menyiwaki gigi jenazah dan menyisir rambutnya.
  • Setelah semua proses pemandian sudah dilaksanakan, kemudian petugas menghanduki jenazah dengan kain atau semisalnya.
  • Jika jenazah tersebut perempuan, maka rambut kepalanya dipintal atau dipilah menjadi tiga pilahan, kemudiann diletakkan di sebelah belakang punggungnya.
  • Apabila jenazah sudah dimandikan sampai tujuh kali, akan tetapi masih keluar kotoran tinja dan sebagainya, maka hendaklah dibersihkan dengan menggunaka air dan menutupnya dengan kapas. akan tetapi jika keluarnya setelah dikafani, maka cukup dibiarkan saja.
  • Apabila ada orang yang meninggal dalam keadaan mengenakan kain ihram saat haji, maka cara pemandiannya sama seperti yang telah dijelaskan diatas dan ditambah dengan siraman dari perasan daun bidara. Akan tetapi yang membedakan adalah tidak perlu dikasih pewangi dan tidak perlu ditutupi kepalanya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi tentang jenazah yang menunaikan haji.
  • Orang yang meninggal karena peperangan membela agama atau syahid, maka jasadnya tidak perlu dimandikan dan ditunaikan shalat jenazah, melainkan hendaklah dikubur bersama pakaian yang dikenakannya.
  • Janin yang gugur berusia empat bulan, maka wajib diberi nama dan diurus sebagaimana mestinya orang dewasa yang meninggal.
  • Apabila ada halangan dalam memandikan jenazah, misalnya karena tidak ada air atau jenazahnya dalam keadaan tidak utuh, maka cukup ditayamumkan. Cara mentayamumkannya yaitu petugas menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah, kemudian mengusapkannya ke bagian wajah dan punggung jenazah.
  • Hendaknya petugas yang memandikan atau yang mengurus jenazah menutupi semua aib yang ada pada jenazah, baik dari segi fisik maupun kejadian-kejadian yang lain.

Penutup

Demikian tata cara memandikan jenazah menurut Islam.

Untuk semakin memahami tata cara memandikan jenazah menurut Islam, kami sarankan Anda untuk juga menyaksikan video tutorial memandikan jenazah dari Dompet Dhuafa di bawah ini.

Orang Sakit Menurut Islam Wajib Melakukan 6 Hal ini

7 February 2017 by no comments Posted in artikel

Al Azhar Memorial Garden kali ini membahas tentang 6 hal yang harus dilakukan oleh orang sakit menurut Islam. Apa saja keenam hal tersebut?

1. Rela terhadap qadha dan qadar Allah, sabar dan berprasangka baik kepada-Nya.

2. Orang sakit boleh berobat dengan sesuatu yang mubah, dan tidak boleh berobat dengan sesuatu yang haram, atau berobat dengan sesuatu yang merusak akidah seperti datang kepada dukun, tukang sihir, atau ke tempat lainnya.

orang sakit harus berobat

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً”.أخرجه البخاري

“Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah turunkan juga obatnya.” (HR al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram.” (Dikeluarkan al-Haitsami dalam kitab Majma’ al-Zawâ’id).

3. Orang sakit, apabila sakitnya bertambah parah, maka ia tidak boleh mengharapkan kematian.

ilustrasi orang sakit
Source: pixabay.com

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah meminta kematian sebelum datang waktunya. Apabila seorang di antara kalian meninggal, maka terputuslah amalnya.” (HR Muslim)

4. Hendaknya seorang muslim berada di antara khauf (rasa takut) dan raja’ (harap).

Diriwayatkan dari Anas radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mendatangi seorang pemuda yang dalam keadaan sakaratul maut, kemudian beliau bertanya:

“Bagaimana engkau menjumpai dirimu?” Dia menjawab: “Wahai, Rasulullah! Demi Allah, aku hanya berharap kepada Allah, dan aku takut akan dosa-dosaku.” Kemudian Rasulullah bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Tidaklah berkumpul dua hal ini (yaitu khauf dan raja’) di dalam hati seseorang, dalam kondisi seperti ini, kecuali pasti Allah wujudkan harapkannya dan Allah berikan ia rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR al-Tirmidzi)

5. Wajib baginya untuk mengembalikan hak dan harta titipan orang lain, atau dia juga meminta haknya dari orang lain. Kalau tidak memungkinkan, hendaknya memberikan wasiat untuk dilunasi hutangnya, atau dibayarkan kafarah atau zakatnya.

6. Orang sakit hendaknya segera untuk berwasiat sebelum datang tanda-tanda kematian.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidak sepatutnya bagi seorang muslim yang masih memiliki sesuatu yang akan diwasiatkan untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di dekatnya.” (HR al-Bukhari)

Apabila hendak berwasiat yang berkaitan dengan hartanya, maka ia tidak boleh berwasiat lebih banyak dari sepertiga hartanya. Dan hartanya tidak boleh diwasiatkan kepada ahli waris. Tidak diperbolehkan pula untuk merugikan orang lain dengan wasiatnya, dengan tujuan untuk menghalangi bagian dari salah satu ahli waris, atau melebihkan bagian seorang ahli waris daripada yang lain.

Penutup

Demikian 6 hal yang harus dilakukan oleh orang sakit menurut Islam. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Yang Harus Dilakukan Saat Seseorang dalam Keadaan Sakaratul Maut

7 February 2017 by no comments Posted in artikel

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sakaratul maut didefinisikan sebagai keadaan saat-saat menjelang kematian.

Islam sebagai agama yang lengkap ajarannya, memberikan kita beberapa tuntunan yang harus dilakukan saat kita menemani orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.

Apa saja tuntunan Islam tersebut?

Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden telah menyusun pembahasannya.

Namun, sebelum membahas hal tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu seperti apa gambaran sakaratul maut menurut Islam.

Gambaran Sakaratul Maut Menurut Islam

dahsyatnya gambaran sakaratul maut menurut Islam
Source: wikimedia.org

Islam memberikan gambaran kepada kita bahwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan. Gambaran ini bisa kita peroleh dari ungkapan Fathimah radhiyâllahu ‘anhâ saat menemani ayahnya menjelang wafat.

Dari Anas radhiyallâhu anhu, ia bercerita:

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: ‘Alangkah berat penderitaanmu wahai ayahku.’ Beliau lalu menjawab, ‘Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.” (HR al-Bukhari)

Gambaran serupa bisa kita lihat dari ungkapan ‘Aisyah radhiyâllahu ‘anhâ:

“Aku tidak iri kepada siapa pun atas kemudahan kematiannya, sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah.” (HR al-Tirmidzi)

Fakta bahwa sakaratul maut adalah peristiwa yang sangat menyakitkan bahkan pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam lewat sabdanya:

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR al-Tirmidzi)

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR al-Bukhari)

Yang Harus Dilakukan Saat Menemani Orang yang Menghadapi Sakaratul Maut

yang harus dilakukan saat menemani orang yang mengalami sakaratul maut
Source: pixabay.com

Orang yang mengalami sakaratul maut berarti ia sedang mengalami peristiwa yang dahsyat. Dan Islam memberikan kepada kita beberapa tuntunan yang harus kita lakukan saat menemani orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

1. Men-talqîn (menuntun) dengan bacaan Lâ ilâha illallâh.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله

“Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan Lâ ilâha illallâh.” (HR Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya Lâ ilâha illallâh, dia akan masuk surga. (HR al-Bukhari)

Apabila berbicara dengan ucapan yang lain setelah ditalqin, maka diulangi kembali, supaya akhir dari ucapannya di dunia kalimat tauhid.

2. Berdoa untuknya dan tidak berkata kecuali yang baik.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمْ الْمَرِيضَ أَوْ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Apabila kalian mendatangi orang sakit atau orang mati, maka janganlah berkata kecuali yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” (HR Muslim)

Penutup

Demikian yang harus kita lakukan saat menemani orang yang mengalami sakaratul maut menurut Islam. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Tata Cara Shalat Ghaib Sesuai Sunnah

6 February 2017 by no comments Posted in artikel

Shalat ghaib adalah salah satu shalat yang dikenal di dalam ajaran Islam.

Sebagaimana shalat pada umumnya, maka shalat ghaib memiliki ketentuan-ketentuan yang hendaknya diketahui oleh setiap muslim-muslimah.

Apa saja ketentuan-ketentuan yang perlu diketahui tersebut? Berikut pembahasannya.

Pengertian Shalat Ghaib

Shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan ketika jenazah tidak berada di tempat atau ia berada di tempat lain. Demikian pengertian singkat shalat ghaib.

Setelah membahas pengertian shalat ghaib, mari kita membahas tata cara shalat ghaib. Namun, sebelum itu, alangkah baiknya terlebih dahulu kita membahas hukum shalat ghaib menurut Islam.

Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama. Ada ulama yang tidak membolehkan, ada pula ulama yang membolehkan dengan syarat. Berikut penjelasannya.

Dalil Shalat Ghaib

Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pemimpin Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Al-Quran di hadapan beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyaknya para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.

Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib di Madinah. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

“Bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali.” (HR al-Bukhari)

Ulama yang tidak Membolehkan

Di antara ulama yang tidak membolehkan ialah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Alasannya, shalat ghaib yang dilakukan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk An-Najasyi adalah khusus untuk An-Najasyi saja, tidak berlaku umum bagi yang lainnya.

Dalam kata lain, shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafaz dalam riwayat lain hadis ini, “Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, tidak ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa nabi melakukan shalat ghaib kepada selain An-Najasyi. Hal tersebut menunjukkan bahwa shalat ghaib yang dilakukan nabi untuk An-Najasyi merupakan amalan yang dikhususkan untuk nabi saja.

Ulama yang Membolehkan

Di antara ulama yang membolehkan ialah Imam Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu al-Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd. Beliau berpendapat, boleh melakukan shalat ghaib, dengan syarat orang tersebut meninggal di suatu tempat dan belum dishalatkan jenazah untuknya. Kalau jenazah tersebut sudah dishalati, maka tidak perlu dilakukan shalat ghaib lagi, karena kewajiban shalat ghaib telah gugur dengan shalat jenazah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin padanya.

Alasan lainnya, tidaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib kecuali pada An-Najasyi saja. Faktanya, An-Najasyi meninggal dunia di tengah-tengah orang musyrik sehingga tidak ada yang menshalatinya. Seandainya ia meninggal dunia di tengah-tengah kaum muslimin, niscaya akan ada yang menshalatkan jenazah untuknya, dan tentu tidak akan ada shalat ghaib. Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyolati An-Najasyi di Madinah, sedangkan An-Najasyi sendiri berada di Habasyah (Ethiopia).

Alasan lain, ketika para pembesar dan pemimpin umat ini meninggal dunia di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam–padahal mereka berada di tempat yang jauh–tidak diketahui bahwa mereka dishalati dengan shalat ghaib.

Pendapat Lain dalam Masalah Ini?

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan dilaksanakannya shalat ghaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun, bagi orang yang tidak seperti itu tidak perlu dilaksanakan shalat ghaib.

Kesimpulan Mengenai Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama yang mumpuni dalam masalah fiqih. Pendapat yang insya Allah lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang membolehkan. Artinya, shalat ghaib boleh dilakukan apabila jenazah yang berada di suatu tempat belum dishalatkan jenazah.

Apabila jenazah sudah dishalatkan jenazah, maka shalat ghaib tidak perlu dilakukan. Juga, ia bisa dilakukan khusus bagi orang-orang yang memiliki peran dalam masalah agama seperti ketika ada seorang ulama besar yang meninggal dunia, sebagaimana penjelasan tambahan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Tata Cara Shalat Ghaib

Tata cara pelaksanaannya sama seperti shalat jenazah, yaitu dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud.

tata cara shalat ghaib
Source: wikimedia.org

Setelah takbir pertama (takbiratul ihram), yang dibaca adalah surah Al-Fatihah.

Setelah takbir kedua, yang dibaca adalah shalawat atas nabi minimal shalawat pendek “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad”.

Setelah takbir ketiga, yang dibaca adalah doa untuk jenazah. Doa yang dibaca biasanya adalah doa singkat yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuniah dia, berilah dia rahmat, dan sejahterakan dia, serta maafkanlah dia.”

Setelah takbir keempat, salam. Namun, sebelum salam, disunnahkan untuk membaca doa:

  ُاَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَه

“Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

Niat Shalat Ghaib

Di atas adalah penjelasan tentang tata cara shalat ghaib. Sebelum shalat tersebut ditunaikan, orang yang akan menunaikannya harus berniat terlebih dahulu.

Niatnya sebagaimana niat shalat lainnya, yaitu wajib digetarkan dalam hati, dan apabila ingin dilafazkan, maka lafaznya berbunyi:

أُصَلِّي عَلىٰ مَيِّتِ (فلان) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifâyah karena Allah Ta’ala.”

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Apabila kita sebagai makmum ingin ikut menunaikan shalat tapi kita tidak mengetahui identitas jenazahnya secara pasti, maka lafaz niatnya bisa berupa sebagai berikut:

أُصَلِّي عَلىٰ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit yang dishalati oleh imam empat kali takbir fardhu kifâyah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

Demikian penjelasan seputar tata cara shalat ghaib sunnah. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Sunnah

3 February 2017 by no comments Posted in artikel

Tata cara shalat jenazah sesuai sunnah dan doa shalat jenazah penting diketahui oleh umat Islam. Walaupun hukum menyelenggarakan shalat jenazah adalah fardhu kifâyah (wajib dilaksanakan minimal oleh satu orang), tapi setiap individu muslim perlu menguasainya agar muslim yang satu bisa menggantikan muslim yang lain untuk memimpin shalat jenazah secara berjama’ah.

Sebab, berdasarkan fakta di lapangan, terutama di daerah-daerah, sangat sedikit yang menguasai tata cara shalat jenazah dan doa shalat jenazah yang sesuai dengan sunnah.

Nah, bagaimana tata cara shalat jenazah sesuai sunnah?

Al Azhar Memorial Garden telah menyusun pembahasannya.

Berikut penjelasannya.

Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Sunnah

Shalat jenazah berbeda dengan shalat pada umumnya, karena di dalam shalat jenazah tidak ada gerakan rukuk, i’tidâl, dan sujud. Shalat jenazah harus dilakukan sebelum jenazah diantarkan ke pemakaman.

Rukun shalat jenazah meliputi:

  1. Niat.
  2. Melakukan empat kali takbir.
  3. Berdiri (bagi yang mampu).
  4. Membaca surah Al-Fatihah usai takbir pertama.
  5. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam usai takbir kedua.
  6. Membaca doa shalat jenazah usai takbir ketiga.
  7. Mengucapkan salam usai takbir keempat.

Adapun tata cara shalat jenazah sesuai sunnah urutannya adalah sebagai berikut:

  1. Berniat.
  2. Melakukan takbiratul ihram (takbir pertama). Setelah melakukan takbir pertama, tidak perlu membaca istiftah, melainkan langsung membaca basmalah, lalu surah Al-Fatihah.
  3. Setelah membaca surah Al-Fatihah, maka dilanjutkan dengan melakukan takbir kedua yang diikuti dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam semisal shalawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam shalat wajib lima waktu, yaitu Allâhumma shallî ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad.
  4. Setelah itu melakukan takbir yang ketiga dan mendoakan jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.
  5. Setelah itu melakukan takbir keempat. Setelah melakukan takbir keempat, berhentilah sejenak, lalu salam dengan salam yang sempurna ke arah kanan dengan satu kali salam (berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah), atau dua kali salam sebagaimana salat pada umumnya (berdasarkan hadits riwayat al-Baihaqi).

Niat Shalat Jenazah

Niat wajib digetarkan dalam hati. Apabila dilafalkan secara lisan, maka niat shalat jenazah bisa dilafalkan dengan lafaz berikut:

Niat shalat jenazah apabila jenazahnya laki-laki:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذَا الـمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Niat shalat jenazah apabila jenazahnya perempuan:

أُصَلِّي عَلىٰ هٰذِهِ الـمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Doa Shalat Jenazah

Seusai melakukan takbir yang ketiga, kita disunnahkan membaca doa shalat jenazah dengan doa-doa yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih.

Apa saja doa shalat jenazah yang terdapat di dalam hadis-hadis shahih? Berikut di antaranya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, berikanlah ampunan dan rahmat-Mu kepadanya, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburnya, dan cucilah ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah ia dari dosa sebagaimana bersihnya pakaian putih dari noda. Berikanlah ia kediaman yang lebih baik dari pada kediamannya selama di dunia, keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya selama di dunia, dan pasangan yang lebih baik dari pada pasangannya selama di dunia. Perkenankanlah ia untuk memasuki surga-Mu, hindarkanlah ia dari azab kubur dan siksa neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah ia di dalamnya.” (HR Muslim)

Apabila yang dishalatkan itu jenazah perempuan, maka dhamir muzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa shalat jenazah menjadi berbunyi:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهَا فِي قَبْرِهَا، ونَوِّرْ لَهَا فِيهِ

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak kecil laki-laki, maka doa shalat jenazah yang dibaca adalah…

اللّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan, pahala, dan sebagai syafaat yang mustajab untuk kedua orang tuanya.” (HR al-Bukhari)

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهُ فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

“Ya Allah, perberatlah karenanya timbangan kebaikan kedua orang tuanya, perbanyaklah pahala kedua orang tuanya, dan kumpulkanlah dia bersama orang-orang shalih terdahulu dari kalangan orang yang beriman, masukkanlah dia dalam pengasuhan Ibrahim, dan dengan rahmat-Mu, peliharalah dia dari azab api neraka.”

Apabila yang dishalatkan itu jenazah anak perempuan, maka dhamir muzakkar (kata ganti jenis laki-laki) diganti menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan), sehingga doa menjadi berbunyi:

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا لِوَالِدَيْهَا فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏

اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهَا مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهَا أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهَا بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهَا فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهَا بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏

Doa shalat jenazah lainnya yang bisa dibaca seusai melafazkan takbir ketiga adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا

“Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup di antara kami, orang-orang yang telah meninggal dunia, orang-orang yang hadir, orang-orang yang tidak hadir, baik anak kecil maupun dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR al-Tirmidzi)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menambahkan:

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيْمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

“Ya Allah, siapa pun di antara kami yang Engkau masih berikan kesempatan hidup, maka hidupkanlah ia dalam keadaan memegang keimanan. Dan siapa pun di antara kami yang Engkau akan wafatkan, maka wafatkanlah ia dalam keadaan beragama Islam. Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya.” (HR Abu Dawud)

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mensalati jenazah dan beliau berdoa:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah tempat peristirahatannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah dia dengan air, es, dan embun sebagaimana Engkau mencuci pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, dan istrinya dengan istri yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari azab kubur dan siksa api neraka.” (HR Muslim)

Untuk semakin melengkapi pemahaman kita tentang doa shalat jenazah, mari kita simak penjelasan Ustaz Dr. Khalid Basalamah di bawah ini.

Catatan Penting Seputar Pelaksanaan Shalat Jenazah

  1. Bacaan dalam salat jenazah tidak dikeraskan, tapi dibaca dengan sirr (tidak keras). Standar tidak keras di sini ialah hanya terdengar oleh diri sendiri saja, sedangkan orang yang di samping kita tidak mendengarnya. Atau dalam kata lain, mulut kita bergerak, tapi tidak keluar suara yang bisa didengar oleh orang lain di samping kita.
  2. Disunnahkan mengangkat tangan pada setiap takbir. Imam Ibnu Hajar berkata, “Terdapat riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya beliau mengangkat tangannya pada seluruh takbir dalam shalat jenazah.” Hal lain yang menunjukkan bahwa mengangkat tangan pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah hukumnya sunnah ialah berdasarkan hadits shahih dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau mengerjakannya. Hadits yang diriwayatkan secara mauqûf ini memiliki hukum marfû’, karena hal seperti ini tidak mungkin dikerjakan oleh seorang sahabat nabi berdasarkan hasil ijtihad pribadi.
  3. Tidak diperbolehkan menunaikan shalat jenazah pada tiga waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat, yaitu ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak, ketika matahari sepenggalah hingga tergelincir, dan ketika matahari condong ke barat hingga terbenam.
  4. Bagi kaum wanita, diperbolehkan untuk menunaikan shalat jenazah secara berjama’ah, dan boleh juga secara sendirian (munfarid). Alasannya, dahulu ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ pernah menyalatkan jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallâhu ‘anhu secara sendirian.
  5. Apabila terkumpul lebih dari satu jenazah dan terdapat mayat laki-laki dan perempuan, maka boleh dishalatkan secara bersamaan. Jenazah lelaki meskipun anak kecil, diletakkan paling dekat dengan imam, sedangkan jenazah wanita diletakkan di arah kiblatnya imam.
  6. Apabila seseorang masbûq setelah imam salam, maka dia meneruskan shalatnya sesuai dengan sifatnya.
  7. Apabila seseorang tertinggal dari shalat jenazah secara berjama’ah, maka dia shalat sendirian selama jenazah belum dikubur. Apabila sudah dikubur, maka dia diperbolehkan menunaikan shalat jenazah di kuburannya.
  8. Shalat jenazah boleh dikerjakan di dalam masjid.
  9. Usai shalat jenazah sebaiknya tidak membaca doa lagi, karena tidak ada riwayat tentangnya. Karena tidak ada riwayat tentangnya, sebagian ulama seperti Syaikh Abu ‘Umar Usamah al-Utaibi bahkan menganggap membaca doa setelah shalat jenazah termasuk perbuatan bid’ah. Oleh karena itu, doa untuk jenazah sebaiknya hanya diucapkan di dalam shalat jenazah saja, yaitu usai melakukan takbir yang ketiga.
  10. Dianjurkan untuk memperbanyak peserta shalat jenazah. Semakin banyak jumlahnya, semakin baik.

tata cara shalat jenazah sesuai sunnah
Source: wikipedia.org

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh kaum muslimin, jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendo’akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafa’at untuknya.” (HR Muslim)

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa’at kepada mereka untuknya.” (HR Muslim)

Demikian penjelasan tentang tata cara shalat jenazah sesuai sunnah. Untuk semakin memahami materi seputar shalat jenazah, silakan simak video produksi Yufid.Tv di bawah ini.

Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

23 January 2017 by no comments Posted in artikel

Di tengah masyarakat masih banyak yang belum memahami seperti apa bentuk kuburan menurut syariat Islam. Alhamdulillah, Al Azhar Memorial Garden sudah menyusun sebuah artikel yang membahas hal tersebut. Berikut pembahasannya.

Bentuk Kuburan Menurut Syariat Islam

Kuburan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna tanah tempat menguburkan mayat, sinonimnya makam.

Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam.

Seperti apa seharusnya bentuk kuburan menurut syariat Islam?

Jawabnya, bentuknya harus sesuai dengan petunjuk yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

muhammad rasulullah
Source: youtube.com

Hadis-hadis Nabi, baik yang diucapkan oleh Nabi sendiri maupun yang berbentuk kesaksian para Sahabat radhiyallâhu ‘anhum, yang berkaitan dengan bentuk kuburan, jumlahnya sangat banyak, empat di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

Bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.

2. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah melarang menyemen kuburan, duduk di atasnya, dan membangun sesuatu di atasnya.” (HR. Muslim)

3. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

4. Dari Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam pada saat lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang shalih diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sungguh aku melarang kalian melakukan hal itu.”

Mengetahui hadis-hadis saja tidak cukup, kita juga perlu merujuk pada penjelasan para ulama agar kita tidak salah dalam memaknai hadis.

Penjelasan Ulama

Dalam kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i berkata:

kitab al-umm
Kitab al-Umm karya Imam Syafii

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

“Saya menyukai agar kuburan tidak diberi bangunan di atasnya dan tidak pula disemen. Sebab, hal semacam ini sama dengan menghias kuburan dan berbangga dengan kuburan. Sementara kematian sama sekali tidak layak untuk itu. Dan saya juga melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar, kuburan mereka tidak disemen.” (al-Umm, juz I, hal. 277)

Imam al-Nawawi, ulama besar dari mazhab Syafi’i, pernah berkata:

أَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ الْقَبْرَ لَا يُرْفَعُ عَلَى الْأَرْضِ رَفْعًا كَثِيرًا وَلَا يُسَنَّمُ بَلْ يُرْفَعُ نَحْوَ شِبْرٍ وَيُسَطَّحُ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ

“Yang sesuai ajaran Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, bahwa kuburan itu tidak ditinggikan dari atas tanah, yang dibolehkan hanyalah meninggikan satu jengkal dan hampir terlihat rata dengan tanah. Inilah pendapat dalam madzbab Syafi’i dan yang sepaham dengannya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, hal. 35).

Imam al-Nawawi di tempat lain juga menegaskan,

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ كَرَاهَةُ تَجْصِيصِ القبر والبناء عيه وَتَحْرِيمُ الْقُعُودُ وَالْمُرَادُ بِالْقُعُودِ الْجُلُوسُ عَلَيْه

“Dilarang memberikan semen pada kuburan, dilarang mendirikan bangunan di atasnya, dan haram pula duduk di atasnya.” (Syarh Shahîh Muslim, juz VII, hal. 37).

Imam Abu Syuja’ dalam Matan al-Ghâyah wa at-Taqrîb, beliau berkata:

ويسطح القبر ولا يبني عليه ولا يجصص

“Kuburan itu mesti diratakan, kuburan tidak boleh dibangun bangunan di atasnya, dan tidak boleh kuburan diberi semen.” (Mukhtashar Abî Syujâ’, hal. 83)

Adapun mengapa kuburan boleh dinaikan ketinggiannya dari atas permukaan tanah, alasannya bisa kita temukan dalam kitab Kifâyah al-Akhyâr karya Imam Taqiyyuddin Abu Bakr Muhammad al-Hishni al-Husaini al-Dimasyqi.

kifayah al-akhyar
Kitab Kifayah al-Akhyar karya Imam Taqiyuddin

Dalam kitab tersebut, Imam Taqiyuddin berkata, “Kuburan boleh dinaikan satu jengkal saja supaya ia dikenali dan mudah diziarahi, juga agar lebih dihormati oleh para peziarah.” (Kifâyah al-Akhyâr, hal. 214).

Kesimpulan

Berdasarkan hadis nabi dan penjelasan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa bentuk kuburan menurut syariat Islam adalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki liang lahat sebagai tempat diletakkannya jenazah.
  2. Terdapat batu nisan di atas kuburan.
  3. Kuburan ditinggikan sewajarnya untuk memberikan tanda bahwa itu adalah kuburan, bukan jalan umum.
  4. Di atas kuburan tidak terdapat bangunan.
  5. Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat ibadah.
  6. Kuburan tidak dijadikan sebagai tempat duduk.

bentuk kuburan sesuai syariat islam
Bentuk kuburan yang terdapat di Al-Azhar Memorial Garden insya Allah sudah sesuai syariat Islam

Demikian kesimpulan yang bisa kita ambil dari pembahasan kali ini. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Ada Kerendahan Hati dalam Melayani

15 August 2016 by no comments Posted in kisah

heri budiHeru Budi Susetyo tidak menyangka pertemuan dengan Al-Azhar Memorial Garden mendatangkan kesan mendalam baginya dan keluarga.

Pertemuan keluarga Alm H. Suko Martono, Bupati Bekasi periode 1983-1993, dengan Al-Azhar Memorial Garden berawal ketika sang ayah tengah kritis. Waktu itu istri almarhum bertemu dengan Al-Azhar Memorial Garden di Islamic Center Bekasi dimana Almarhum merupakan ketua yayasan disana.

Heri Budi Susetyo, putra almarhum bercerita betapa ia terharu dengan pelayanan dari Al-Azhar Memorial Garden.

“Jadi pada saat ayah saya kritis, Al-Azhar Memorial Garden yang menghandle semua di pemakaman,” kata Heri mengenang pemakaman ayahnya. “Kemudian pada saat pemakaman, saya juga sangat terharu, semua disiapkan oleh rekan-rekan dari Al-Azhar Memorial Garden.”

Hal yang paling diingat dan berkesan oleh Heri, adalah pada saat ia menerima jenazah ayahnya.

“Yang paling ingat di kepala saya, pada saat saya menerima jenazah ayah saya,” cerita Heri. “Karena jenazah ayah saya besar, jadi pada saat menerima jenazah ayah saya, saya tidak kuat. Waktu itu tanpa diminta Pak Nugroho (Dirut Al-Azhar Memorial Garden) turun langsung (membantu menurunkan jenazah). Kita dibantu oleh Direkturnya langsung! Waktu itu saya diajari caranya, tapi karena saya tidak kuat, Pak Nugroho akhirnya turun langsung.”

Heri juga mengapresiasi kinerja Al-Azhar Memorial Garden. “Salut! Kepada teman-teman di Al-Azhar Memorial Garden.”

Setelah pemakaman, Heri beserta keluarga beberapa kali ziarah ke Al-Azhar Memorial Garden, Heri bercerita bahwa dari Al-Azhar Memorial Garden menawarkan untuk pendampingan untuk membacakan doa. ”Dari Pak Nugroho, kami ditawarkan untuk didampingi pembaca doa. Itu pilihan, mau didampingi boleh, mau tidak pun boleh. Karena memang ada keluarga yang memang ingin privasi dan ingin khusyuk berdoa.”

Menanggapi pujian ini, Nugroho Adiwiwoho dengan rendah hati mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan keluarga Alm. H. Suko Martono.

“Apa yang kami lakukan semata adalah bagian dari kewajiban. Jika Sahibul Musibah merasa terbantu kami sangat bersyukur dapat menunaikan amanah dengan baik. Karena kami melayani semata hanya untuk ibadah.”