Tata Cara Shalat Ghaib Sesuai Sunnah

6 Februari 2017 by tidak ada komentar Diterbitkan di artikel

pengertian shalat ghaib - hukum shalat ghaib - niat shalat ghaib

Shalat ghaib adalah salah satu shalat yang dikenal di dalam ajaran Islam.

Sebagaimana shalat pada umumnya, maka shalat ghaib memiliki ketentuan-ketentuan yang hendaknya diketahui oleh setiap muslim-muslimah.

Apa saja ketentuan-ketentuan yang perlu diketahui tersebut? Berikut pembahasannya.

Pengertian Shalat Ghaib

Shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan ketika jenazah tidak berada di tempat atau ia berada di tempat lain. Demikian pengertian singkat shalat ghaib.

Setelah membahas pengertian shalat ghaib, mari kita membahas tata cara shalat ghaib. Namun, sebelum itu, alangkah baiknya terlebih dahulu kita membahas hukum shalat ghaib menurut Islam.

Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama. Ada ulama yang tidak membolehkan, ada pula ulama yang membolehkan dengan syarat. Berikut penjelasannya.

Dalil Shalat Ghaib

Ketika di awal Islam, sebagian sahabat pernah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Pemimpin Habasyah yang saat itu beragama Nasrani, yaitu Raja Najasyi, menerima mereka dengan baik. Bahkan beliau sampai menangis ketika mendengar sahabat membacakan Al-Quran di hadapan beliau. Setelah bergaul dengan sahabat, akhirnya beliau masuk Islam, namun beliau merahasiakan statusnya sebagai muslim, mengingat banyaknya para pastur yang masih bercokol di sekitar beliau.

Ketika Raja Najasyi ini meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib di Madinah. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

“Bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali.” (HR al-Bukhari)

Ulama yang tidak Membolehkan

Di antara ulama yang tidak membolehkan ialah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Alasannya, shalat ghaib yang dilakukan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk An-Najasyi adalah khusus untuk An-Najasyi saja, tidak berlaku umum bagi yang lainnya.

Dalam kata lain, shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafaz dalam riwayat lain hadis ini, “Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, tidak ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa nabi melakukan shalat ghaib kepada selain An-Najasyi. Hal tersebut menunjukkan bahwa shalat ghaib yang dilakukan nabi untuk An-Najasyi merupakan amalan yang dikhususkan untuk nabi saja.

Ulama yang Membolehkan

Di antara ulama yang membolehkan ialah Imam Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu al-Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd. Beliau berpendapat, boleh melakukan shalat ghaib, dengan syarat orang tersebut meninggal di suatu tempat dan belum dishalatkan jenazah untuknya. Kalau jenazah tersebut sudah dishalati, maka tidak perlu dilakukan shalat ghaib lagi, karena kewajiban shalat ghaib telah gugur dengan shalat jenazah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin padanya.

Alasan lainnya, tidaklah diketahui bahwa Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib kecuali pada An-Najasyi saja. Faktanya, An-Najasyi meninggal dunia di tengah-tengah orang musyrik sehingga tidak ada yang menshalatinya. Seandainya ia meninggal dunia di tengah-tengah kaum muslimin, niscaya akan ada yang menshalatkan jenazah untuknya, dan tentu tidak akan ada shalat ghaib. Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyolati An-Najasyi di Madinah, sedangkan An-Najasyi sendiri berada di Habasyah (Ethiopia).

Alasan lain, ketika para pembesar dan pemimpin umat ini meninggal dunia di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam–padahal mereka berada di tempat yang jauh–tidak diketahui bahwa mereka dishalati dengan shalat ghaib.

Pendapat Lain dalam Masalah Ini?

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan dilaksanakannya shalat ghaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun, bagi orang yang tidak seperti itu tidak perlu dilaksanakan shalat ghaib.

Kesimpulan Mengenai Hukum Shalat Ghaib

Mengenai hukum shalat ghaib terdapat perbedaan di antara para ulama yang mumpuni dalam masalah fiqih. Pendapat yang insya Allah lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang membolehkan. Artinya, shalat ghaib boleh dilakukan apabila jenazah yang berada di suatu tempat belum dishalatkan jenazah.

Apabila jenazah sudah dishalatkan jenazah, maka shalat ghaib tidak perlu dilakukan. Juga, ia bisa dilakukan khusus bagi orang-orang yang memiliki peran dalam masalah agama seperti ketika ada seorang ulama besar yang meninggal dunia, sebagaimana penjelasan tambahan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Tata Cara Shalat Ghaib

Tata cara pelaksanaannya sama seperti shalat jenazah, yaitu dengan empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud.

tata cara shalat ghaib
Source: wikimedia.org

Setelah takbir pertama (takbiratul ihram), yang dibaca adalah surah Al-Fatihah.

Setelah takbir kedua, yang dibaca adalah shalawat atas nabi minimal shalawat pendek “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad”.

Setelah takbir ketiga, yang dibaca adalah doa untuk jenazah. Doa yang dibaca biasanya adalah doa singkat yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuniah dia, berilah dia rahmat, dan sejahterakan dia, serta maafkanlah dia.”

Setelah takbir keempat, salam. Namun, sebelum salam, disunnahkan untuk membaca doa:

  ُاَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَه

“Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahala yang akan sampai kepada kami, dan janganlah jadikan kami mendapatkan fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

Niat Shalat Ghaib

Di atas adalah penjelasan tentang tata cara shalat ghaib. Sebelum shalat tersebut ditunaikan, orang yang akan menunaikannya harus berniat terlebih dahulu.

Niatnya sebagaimana niat shalat lainnya, yaitu wajib digetarkan dalam hati, dan apabila ingin dilafazkan, maka lafaznya berbunyi:

أُصَلِّي عَلىٰ مَيِّتِ (فلان) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit (si A) empat kali takbir fardhu kifâyah karena Allah Ta’ala.”

Apabila kita bertindak sebagai imam, maka kita harus menambahkan lafaz إِمَامًا sebelum للهِ تَعَالىٰ, apabila kita sebagai makmum, maka lafaz إِمَامًا diganti menjadi مَأْمُوْمًا.

Apabila kita sebagai makmum ingin ikut menunaikan shalat tapi kita tidak mengetahui identitas jenazahnya secara pasti, maka lafaz niatnya bisa berupa sebagai berikut:

أُصَلِّي عَلىٰ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالىٰ

“Saya niat shalat ghaib atas mayit yang dishalati oleh imam empat kali takbir fardhu kifâyah menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

Demikian penjelasan seputar tata cara shalat ghaib sunnah. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Ingin Berlangganan Artikel Islami?

Dengan berlangganan, Anda akan mendapatkan info setiap kali kami menerbitkan artikel.

Data nama dan email Anda adalah amanah kami, dan tidak akan disalahgunakan.

Silakan share:

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda * wajib diisi
*

Artikel Terkait