Ada Kerendahan Hati dalam Melayani

15 August 2016 by no comments Posted in kisah

heri budiHeru Budi Susetyo tidak menyangka pertemuan dengan Al-Azhar Memorial Garden mendatangkan kesan mendalam baginya dan keluarga.

Pertemuan keluarga Alm H. Suko Martono, Bupati Bekasi periode 1983-1993, dengan Al-Azhar Memorial Garden berawal ketika sang ayah tengah kritis. Waktu itu istri almarhum bertemu dengan Al-Azhar Memorial Garden di Islamic Center Bekasi dimana Almarhum merupakan ketua yayasan disana.

Heri Budi Susetyo, putra almarhum bercerita betapa ia terharu dengan pelayanan dari Al-Azhar Memorial Garden.

“Jadi pada saat ayah saya kritis, Al-Azhar Memorial Garden yang menghandle semua di pemakaman,” kata Heri mengenang pemakaman ayahnya. “Kemudian pada saat pemakaman, saya juga sangat terharu, semua disiapkan oleh rekan-rekan dari Al-Azhar Memorial Garden.”

Hal yang paling diingat dan berkesan oleh Heri, adalah pada saat ia menerima jenazah ayahnya.

“Yang paling ingat di kepala saya, pada saat saya menerima jenazah ayah saya,” cerita Heri. “Karena jenazah ayah saya besar, jadi pada saat menerima jenazah ayah saya, saya tidak kuat. Waktu itu tanpa diminta Pak Nugroho (Dirut Al-Azhar Memorial Garden) turun langsung (membantu menurunkan jenazah). Kita dibantu oleh Direkturnya langsung! Waktu itu saya diajari caranya, tapi karena saya tidak kuat, Pak Nugroho akhirnya turun langsung.”

Heri juga mengapresiasi kinerja Al-Azhar Memorial Garden. “Salut! Kepada teman-teman di Al-Azhar Memorial Garden.”

Setelah pemakaman, Heri beserta keluarga beberapa kali ziarah ke Al-Azhar Memorial Garden, Heri bercerita bahwa dari Al-Azhar Memorial Garden menawarkan untuk pendampingan untuk membacakan doa. ”Dari Pak Nugroho, kami ditawarkan untuk didampingi pembaca doa. Itu pilihan, mau didampingi boleh, mau tidak pun boleh. Karena memang ada keluarga yang memang ingin privasi dan ingin khusyuk berdoa.”

Menanggapi pujian ini, Nugroho Adiwiwoho dengan rendah hati mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan keluarga Alm. H. Suko Martono.

“Apa yang kami lakukan semata adalah bagian dari kewajiban. Jika Sahibul Musibah merasa terbantu kami sangat bersyukur dapat menunaikan amanah dengan baik. Karena kami melayani semata hanya untuk ibadah.”